Yogyakarta memasuki musim semi. Pagi yang indah. Langit yang cerah. Orang-orang menatap hari dengan penuh gairah. Begitu juga Adit. Ia melangkah memasuki gerbang Universitas Genderal Mudirman eh Universitas Gajah Mada (UGM) dengan semangat membuncah. Fakultas Kesehatan Masyarakat di Jogja demikian ia cintai. Ia bayangkan hari yang indah di depan sana. Mata kuliah Radiologi, Biologi Terapan, Transfusi Kesehatan, Masyarakat dan seluk beluk tenatangnya, Pak Udin si dosen killer yang kudu nyanyi dulu kalo datang terlambat di kelas, Bu Wati si dosen tercantik, teman-teman yang sesemangat, seirama dan seperjuangan. Mencintai rasulullah seutuhnya, tekad membaktikan diri sepenuhnya pada agama Allah dengan menjadi dokter bagi masyarakat. Semuanya menjadi cahaya dalam dada. Menjadi mentari bagi semangatnya.
“Sebelum diangkat menjadi seorang nabi, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Telah dikenal sebagai orang yang paling menjaga amanah di seantero kota Makkah. Sehingga beliau diberi gelar Al Amin. Orang yang sangat bisa dipercaya. Orang yang sangat menjaga amanah. Sifat inilah yang semestinya dimiliki setiap muslim.”
“Menjaga amanah adalah ruh agama ini. Umur yang diberikan Allah kepada kita adalah amanah. Langkah kaki kita adalah amanah. Pandangan mata kita adalah amanah. Hidup kita adalah amanah. Menjaga amanah adalah inti ajaran agama mulia ini. Rasulullah bersabda, Laa diina liman laa amanita lahu. Tidak beragama orang yang tidak menjaga amanah!…
Hari ini ia mendapatkan penjelasan tentang amanah dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam, satu dari empat sifat utama Rasulullah. Pak Djemakin yang lebih akrab dikenal Pak D.J., Guru Favorit Tahun ini berdasarkan voting anak-anak BEM menguraikannya dengan bahasa yang menghidupkan jiwa. Kampus tertua kedua di Indonesia ini tiada henti menempa generasi.
* * *
Pukul dua siang ia pulang. Naik bis menuju Kaliurang, ia menyewa sepetak kamar di sebuah rumah tua di kawasan Kaliurang. Kamar yang pernah dikosin sepupunya yang kini telah menikah dan punya rumah di daerah Kentungan. Ibu kosnya sangat baik. Tak pernah menagih uang sewa kamar. Ia sendiri yang sering malu. Malu pada diri sendiri dan tentu malu pada ibu kos. Pernah ia tidak bisa bayar kos enam bulan. Dan ibu kos tak jua menagih. Kali ini, sudah empat bulan ia belum bayar. Otaknya terus berputar dari mana ia akan dapat uang. Meminta orangtua yang sudah renta sangat tidak mungkin.
Ia hanya selalu yakin bisa membayar. Allah Mahakaya. Sudah tiga puluh lamaran ia kirimkan ke tempat-tempat yang teriklankan di Koran Kedaulatan Rakyat membuka lowongan. Namun tidak satu pun panggilan ia dapatkan, apalagi pekerjaan.
Sementara ini, untuk memenuhi kebutuhan harian, ia berjualan buku-buku, majalah dan kaset-kaset islami di depan masjid Kampus UGM. Ia tidak bisa menggelar dagangannya setiap waktu. Sebab harus berbagi dengan jam kuliah. Boleh dikata ia punya kesempatan serius menjajakan dagangannya hanya pada hari Jumat. Ketika kuliah libur. Keuntungannya menjual buku tak seberapa.
Ketika bis sampai Kaliurang ia turun. Seperti biasa ia langkahkan kakinya menuju masjid Al
Fitrah. Ia ingin melepas penat, sambil menunggu Ashar tiba. Ia masuk masjid. Terasa teduh. Masjid-masjid di jogja selalu meneduhkan. Ia pilih sebuah tiang. Duduk, dan menyandarkan punggungnya, ke tiang. Tas hitamnya ia lepas. Ia letakkan di samping kanan. Kedua kakinya ia selonjorkan. Perlahan matanya memejam, namun pikirannya tetap melayang-layang. Dari mana ia akan dapatkan uang. Dari mana ia akan bayar kos. Ya Allah, mohon berikan aku jalan.
Adzan Ashar berkumandang. Ia bangkit. Harus segera turun sebelum orang mulai banyak. Ia harus buang air kecil dan ambil wudlu. Ia turun menuju kamar kecil. Benar, orang mulai banyak. Belasan kamar kecil tertutup. Untung masih ada satu yang terbuka. Kosong. Ia masuk. Ia tutup pintunya. Di pintu ia temukan tas hitam kumal tergantung.
“Ada yang lupa membawa barangnya.” Gumamnya.
Di mana-mana, di muka bumi ini, barang tertinggal di kamar kecil sudah jamak dan biasa. Di kamar kecil masjid Annur Kalasan ia pernah menemukan kaca mata tertinggal. Di kamar kecil masjid Darussalam ia pernah menemukan bungkusan plastik hitam. Ternyata isinya dua kilo ikan tuna. Dan pemiliknya ternyata seorang mahasiswa dari Babakan yang baru saja belanja di ABC Swalayan. Entah kenapa ia sering menemukan barang-barang yang tertinggal di kamar kecil.
Ia ambil tas itu, lalu keluar dan berteriak ke arah orang-orang yang sedang berwudlu, “Ada yang merasa memiliki tas ini!”
Tak ada yang menjawab.
Sekali lagi ia berteriak, “Perhatian! Maaf, ada yang merasa memiliki tas ini. Aku temukan tergantung di kamar kecil nomor tiga belas.”
“Pemiliknya mungkin sudah naik ke atas.” Sahut seseorang.
“Serahkan saja pada pengurus masjid. Siapa tahu nanti pemiliknya mencari!” Sahut yang lain.
“ Ya, serahkan saja pada pengurus masjid, biar nanti setelah sholat diumumkan.”
“Baik.”
Ia langsung bergegas ke tempat pengurus masjid. Menyerahkan tas itu dan ihwal penemuannya. Pengurus masjid yang berjenggot lebat itu tersenyum ramah dan berkata,
“Bukankah kau yang biasa berjulan buku di depan masjid kampus?”
“Benar paman.”
“Siapa namamu?”
“Adit. Lengkapnya Aditya Nugroho Terpuji.”
“Apa yang kau lakukan sangat tepuji. Sesuai dengan namamu. Tidak semua orang yang menemukan tas berusaha disampaikan yang berhak dan yang berwenag mengurusinya. Aku bangga padamu. Semoga Allah memberkahi perbuatanmu, Anakku. Kau telah menunaikan amanah, dan insya Allah akan kami tunaikan amanah ini!”
Ia kembali turun untuk memenuhi hajatnya yang tertunda.
* * *
Usai sholat, pengurus masjid Al Fitrah mengumumkan perihal ditemukannya tas hitam. Jika ada yang merasa memilikinya harap menemui imam masjid.
Ia lega mendengar pengumuman itu. Berharap apa yang dilakukannya berpahala. Apapun isi
tas itu, pasti yang punya merasa akan bahagia mendapatkannya kembali. Seperti saat ia lupa buku diktatnya tertinggal di masjid kampus. Ia benar-benar lupa saat itu. Sebelum sholat ia letakkan buku diktatnya di antara lemari tempat penyimpanan mushaf. Usai sholat ia langsung cabut pulang. Malamnya saat hendak membaca ulang tidak ia dapati bukunya. Barulah ia ingat, bukunya tertinggal di masjid. Ia sangat sedih. Buku itu sangat berharga baginya. Bagi sementara orang harganya mungkin murah. Tak seberapa. Tapi bagi dirinya yang serba kekurangan, buku itu sangat mahal. Sangat berharga. Pagi harinya ia bersegera ke kampus langsung ke masjid. Dan tidak ia temui bukunya di atas lemari. Ia sempat meneteskan airmata.
“Oh siapakah yang mengambil bukuku? Untuk apa?”
Ia coba beranikan bertanya pada seorang mahasiswa yang biasa menjaga masjid. Mahasiswa itu tersenyum dan berkata “Mari ikut saya!”
Mahasiswa itu mengajaknya masuk ke ruang pengurus. Lalu mengambil sesuatu di rak. Sebuah buku.
“Inikah bukumu itu?”
“Benar.” Jawabnya dengan penuh suka cita.
“Ambilah, Saudaraku. Apapun yang berada di rumah Allah ini insya Allah aman.”
Ia sangat bahagia saat itu. Benar-benar bahagia. Ia seperti terlepas dari kesulitan besar. Saat
ia memegang kembali bukunya ia merasa menjadi orang paling bahagia diatas muka bumi ini.
Ia berharap pemilik tas itu juga akan merasakan hal yang sama.
* * *
Hari berikutnya ia kembali kuliah. Dengan semangat. Dan seperti biasa mampir di masjid Kaliurang untuk sholat Ashar. Usai sholat, pengurus masjid mengumumkan bahwa kemarin ditemukan tas hitam itu tergantung di kamar kecil. Jika ada yang merasa memiliki boleh menghubungi imam. Ia mafhum bahwa pemilikinya belum mengembilnya. Namun ia sangat lega, dengan mendengar pengumum itu ia jadi sangat yakin bahwa orang-orang masjid sangat bisa dipercaya, sangat bisa diandalkan keamanahannya.
Usai sholat, ia bergegas ke kosnya untuk mengambil buku dan beberapa kaset yang menjadi pusat pemasukan bagi cash flownya. Ia ingin menggelar dagangan bukunya. Ba’da Maghrib ada pengajian Aa Gym. Biasanya jamaah membludak. Semoga di antaramereka ada yang berminat membeli buku dagangan nya, terutama buku-buku yang ditulis Aa Gym yang dikenal sangat merakyat dan dalam ilmunya.
Begitu sampai kos. Ia langsung mandi. Cepat sekali. Ganti pakaian. Pakai minyak wangi pemberian Ravik, teman karibnya satu kampus yang suka jual minyak. Dua kardus besar ia letakan di kedua bahunya. Sebuah tikar plastik ia selipkan antara kardus dan kepalanya. Terasa sangat berat. Tapi inilah hidup. Inilah jihad. Dan jika sudah terbiasa jadi terasa ringan-ringan saja. Ia turuni tangga. Sebab kamarnya ada di lantai tiga. Lalu berjalan melewati lorong-lorong sempit. Menyusuri trotoar. Melewati deretan gedung perkantoran. Sampai di depan Bank Muamalat ia turunkan kardusnya. Ia kelelahan.
Setelah cukup ia lanjutkan perjalanan. Menyeberang jalan. Sebuah sedan merah melaju kencang. Nyaris menyerempet kaki kanannya. Ia beristighfar sementara sopir sedan mengumpat- umpat tidak karuan. Empat menit kemudian ia sampai di tujuan. Trotoar depan masjid Kampus UGM. Ia turunkan pelan-pelan dua kardusnya. Ia gelar tikar. Lalu ia tata dan ia susun buku dagangannya sedemikian rupa. Demikian juga kaset-kaset dan majalah. Buku-buku Aa Gym ia susun semenarik mungkin di bagian paling depan. Sehingga tampak menonjol dan memikat hati yang melihatnya.
Senja mulai pekat. Langit memerah di sebelah barat. Lampu-lampu kota mulai menyala. Orang-orang mulai deras berdatangan. Hatinya riang. Sudah delapan buku yang terjual. Semuanya buku fatwanya Aa Gym. Keuntungan masing-masing buku tiga ribu. Sebelum Maghrib ia sudah dapat dua puluh empat ribu. Ia tersenyum.
“Alhamdulillah ya Rabb.” Pujinya pada Tuhan yang memberi rejeki.
Ia lalu berharap jika Aa Gym tiap hari memberi ceramah di masjid Kampus. Atau ada seratus ustadz seperti Aa Gym, dan semuanya menulis buku. Lalu semuanya memberikan ceramah di masjid Kampus, tempatnya menggelar dagangan. Jika tiap hari ia bisa untung dua puluh lima ribu saja, maka dalam satu
bulan ia akan punya masukan paling tidak tujuh ratus lima puluhan ribu. Dan itu sangat cukup untuk membayar kos, makan, ongkos bis, dan buku. Bahkan ia bisa menargetkan kapan menikah. Ah kenapa ia tiba-tiba berpikir menikah.
“Ya Kapten, lau samah, bikam syarith dzai?”1
Suara seorang perempuan membuyarkan lamunannya. Ia mengarahkan matanya ke asal suara. Hatinya bergetar sesaat. Di hadapannya seorang gadis berparas elok berjilbab putih berjongkok sambil memegang sebuah kaset. Ya, kaset ceramah Aa Gym berjudul: Al Mar’ah Ash-Shalihah. Satu detik matanya beradu dengan mata gadis itu. Ia menangkapkecantikannya. Mata yang bundar dan bening. Muka yang bersih dengan tahi lalat di dagu kirinya. Ia segera menahan matanya, mengalihkannya ke kaset yang di pegang gadis itu.
“E… sab’ah junaihat.”2
“Ghali awi!”3
“La ya anisah, hadza jaded.”4
“Arba’ah mumkin?”5 Gadis itu menawar.
“Musy mumkin, afwan.”6
“Khamsah la azid.”7
“Masyi.”8
Gadis itu mengambil kaset dan memasukannya ke dalam tas, lantas mengeluarkan lima ribuan. Ia mengambil uang yang disodorkan gadis itu seraya mengucapkan, “Terima kasih, Nona.”
Setelah gadis itu berlalu ia raba hatinya. Masih ada getaran. Ia jadi berpikir, kenapa ia baru mengangankan nikah, tiba-tiba langsung ada gadis di hadapannya. Gadis yang membuat hatinya bergetar. Apakah ini tanda-tanda.
“Ah, astaghfirullah, aku tak mau dijebak setan!” cepat-cepat ia menolak pikirannya. Bukankah sudah tidak terhitung gadis berjilbab yang membeli dagangannya? Di antara mereka bahkan banyak yang lebih cantik dari gadis tadi. Kenapa tiba-tiba ia harus bergetar, harus merasa sesuatu yang lain?
Saat Maghrib tiba masjid telah penuh. Ia merasa tidak perlu masuk masjid. Cukup menggelar koran dan ikut sholat jamaah di samping dagangannya. Usai sholat Aa Gym memberikan ceramahnya. Berkali-kali tasbih dan kalimat tauhid terdengar gemuruh dari para pendengar. Di tengah-tengah asyiknya mendengarkan ceramah. Sambil sesekali melayani pembeli tiba-tiba seorang lelaki berjenggot bermuka ramah mendatanginya. Lelaki itu tak lain adalah salah satu pengurus masjid Al Fitrah.
“Apa kabarmu Nak? Laris?”
“Alhamdulillah, saya baik. Rejeki hari ini juga baik.”
“Syukur kalau begitu. E, begini Nak….”
“Ya, Paman. Ada apa?”
“Ada yang punya perlu denganmu. Jika kau tidak keberatan. Habis sholat Isya datanglah ke kantor pengurs masjid.”
“Perlu apa ya kira-kira, Paman?”
“Insya Allah baik untukmu. Bisa?”
“Insya Allah, Paman.”
* * *
Aa Gym memberikan siraman penyejuk jiwa sampai Isya. Beliau juga mengimami sholat Isya. Acara ceramah beliau disiarkan langsung ke seluruh penjuru INdonesia oleh sebuah stasiun televisi. Usai sholat, Adit sibuk dengan para pembeli bukunya. Semua bukutulisan Aa Gym ludes. Kaset ceramah beliau tersisa
tiga. Buku-buku yang lain juga banyak dibeli. Ketika masjid mulai sepi, ia mengemasi dagangannya.
“Ini sungguh hari yang penuh keberuntungan.” Katanya pada diri sendiri. Separo bukunya terjual. Ia menaksir keuntungannya hari itu kira-kira seratus empat puluh ribu.
“Lumayan, bisa untuk menyelamatkan muka. Bisa untuk membayar kos dua bulan.” Gumamnya pada diri sendiri.
Setelah mengikat kardusnya ia melangkah ke masjid. Ia bawa barang dagangannya ke masjid Al Fitrah. Ia letakkan di balik pintu masuk, lalu menuju salah satu ruang yang digunakan sebagai kantor para pengurus. Di sana ada beberapa orang yang berkumpul. Ia mengetuk pintu memberi salam. Yang ada di situ serentak menjawab salam. Sekilas ia kitarkan pandangan. Tak ada Pak Saptono sang Imam masjid. Mungkin telah diantar pulang.
“Nak Adit, silakan duduk.” Lelaki berjenggot bermuka ramah mempersilakan duduk.
“Terima kasih.” Jawabnya. Ia lalu duduk di kursi yang masih kosong.
“Diakah pemuda itu?” Seorang lelaki setengah baya berwajah bersih tiba-tiba berkata sambil memandang kearah Adit.
“Benar, dialah orangnya.” Jawab lelaki berjenggot bermuka ramah. Adit yang merasa dirinya jadi obyek pembicaraan spontan bertanya,
“Kalian membicarakan aku?”
“Iya Nak Adit. Seperti yang saya sampaikan ba’da sholat Maghrib tadi. Ada orang yang perlu denganmu. Ceritanya begini, bapak ini adalah Pak Supriyanto. Beliaulah pemilik tas hitam yang kautemukan. Beliau ingin berterima kasih padamu.” Lelaki berjenggot bermuka ramah menjelaskan.
“Benar Nak Adit. Saya sangat berterima kasih padamu. Sebagai rasa terima kasih, saya ingin memberikan sesuatu padamu. Nilainya mungkin tidak seberapa tapi semoga menjadi tanda syukur. Karena siapa yang tidak berterima kasih pada manusia dia tidak berterima kasih kepada Allah.” Kata lelaki setengah baya berwajah bersih bernama Supriyanto itu.
Adit belum sempat mengucapkan sepatah kata, namun Pak Supriyanto telah berdiri dan mengulurkan amplop kepadanya. Dengan spontan Adit menolaknya seraya berkata,
“Sebentar Pak Supriyanto. Kemarin itu saya hanya menunaikan amanah karena Allah. Itu saja.
Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang muslim. Jadi, rasanya tidak semestinya saya menerima yang berlebih. Tidak perlu berterima kasih atas sebuah kewajiban. Bersyukurlah pada Allah.”
“Iya. Kau benar. Tapi tolong terimalah tanda terima kasih saya padamu Nak. Terima kasih saya atas amanah yang kautunaikan.” Desak Pak Supriyanto.
“Maaf, janganlah Bapak memaksa saya untuk menerima sesuatu sebagai imbalan kewajiban yang harus saya tunaikan.Tolong, saya hanya melakukan karena Allah. Tolong. Saya sampaikan empati saya atas sikap Bapak yang hendak berterima kasih pada saya. Saya terima ungkapan terima kasihnya. Tapi tidak untuk sesuatu yang hendak Bapak berikan pada saya. Sekali lagi jangan paksa saya!”
Pak Supriyanto memandang kepada lelaki pengurus masjid yang hanya dengan diam saja sejak
tadi. Sang pengurus mengisyaratkan dengan gelengan kepala dan telapak tangannya agar dia jangan memaksa.
“Baiklah aku tak bisa memaksa. Tapi apakah kau tahu isi tas hitam itu?” kata Pak Supriyanto. Adit menggelengkan kepala seraya berkata, “saya sama sekali tidak membukanya.”
“Aku percaya kamu tidak membukanya karena isinya masih utuh semua. Untung kamu tidak membukanya, kalau kamu membukanya setan mungkin akan memperdaya kamu agar kamu
tidak menunaikan amanah dengan sebenar-benarnya. Lihatlah Nak Adit, ini isinya.”
Pak Supriyanto lalu mengeluarkan isi tas hitam. Pertama-tama koran bekas yang telah lecek. Bungkusan plastik hitam. Sebuah kantong kain berwarna hijau tua. Buku agenda. Dan sebuah pena hitam yang ujungnya kuning keemasan.
“Kelihatannya tak ada yang istimewa kan? Tapi ini adalah setengah perjalanan hidupku.” Kata Pak Supriyanto. Dia lalu mengambil bungkusan plastik hitam dan mengeluarkan isinya. Dua bundel dollar Amerika.
“Jumlahnya tiga puluh ribu dollar. Atau sekitar 300 juta rupiah” Kata Pak Supriyanto. Ia lalu meraih kantong hijau tua dan mengeluarkan isinya : seuntai kalung emas permata dengan bandul permata mulia berwarna merah tua yang sangat indah.
“Ini nilainya tiga ratus ribu dollar. Baru saya beli dari Mirota untuk hadiah keberhasilan putrid pertamaku menghafalkan Al-Quran.”
Pak Supriyanto lalu beralih ke buku agendanya. Agendanya itu berkancing. Ia buka dan ia pegang selembar kertas seraya berkata dengan mata berkaca-kaca,
“Ini cek dari seorang kolega di Port Said. Nilainya tujuh ratus tujuh puluh lima ribu dollar. Inilah isi tas hitam lusuh ini Nak Adit, apakah aku tidak pantas memberikan sesuatu padamu sebagai ungkapan terima kasih.”
Semua yang hadir di ruangan itu diam dan takjub. Semua baru tahu isi sebenarnya tas hitam kumal itu. Pengurus masjid saat memeriksa tas itu hanya membuka agendanya. Mencatat keterangan yang ada di biodata di halaman depan. Yang tertulis hanya nama pemilik, tanggal lahir. Tidak ada alamat dan keterangan yang lainnya.
Mereka tidak sampai memeriksa beberapa berkas yang ada di agenda itu. Juga tidak memeriksa isi kantung hijau tua dan bungkusan plastik. Begitu ada yang mengaku memiliki tas itu. Mereka mengujinya dengan menanyakan kartu identitas. Ketika nama dan data dalam kartu identitas sama dengan yang tertulis di dalam buku agenda dan bisa menyebutkan isi tas secara umum. Maka mereka percaya dialah pemiliknya. Dan memang sejak diumumkan tidak ada satu orang pun yang mengaku. Sampai datang Pak Supriyanto menanyakan kepada pengurus masjid perihal tas hitam kumalnya yang tertinggal saat buang air kecil.
“Allah yang mengatur semua. Alhamdulillah saya bisa mengamalkan ilmu dan menunaikan amanah. Saya ingin murni karena Allah. Jangan paksa saya,” Kata Adit lirih.
“Jadi kau benar-benar tidak ingin menerima amplop ini?”
“Jangan paksa saya, saya mohon.”
“Aku sungguh bangga padamu Nak Adit. Baiklah aku tidak akan memaksa lagi. Namun aku tetap ingin mengungkap-kan rasa syukurku. Kepada yang hadir di ruangan ini saksikanlah aku sedekahkan cek senilai tujuh ratus tujuh puluh lima ribu dollar ini untuk anak yatim dan fakir miskin. Pengelolaannya saya serahkan pada pengurus masjid. Pahalanya semoga terlimpahkan pada semua orang beriman yang menunaikan amanah dengan benar.”
Kata-kata Pak Supriyanto membuat hati yang hadir di ruangan itu bergetar. Adit bersyukur dalam hati bahwa ia bisa mempertahankan prinsipnya. Di akhir pertemuan Pak Supriyanto membagikan kartu namanya. Saat bersalaman dengan Adit beliau mencium kening anak muda itu sebagai tanda cinta dan penghormatan.
* * *
Hari berikutnya Adit menceritakan apa yang dialaminya dengan Pak Supriyanto perihal tas hitam kumal itu pada sahabat karibnya Ravik. Dan Ravik menanggapinya dengan emosi,
“Emang kosmu sudah kau lunasi!?”
“Belum.” Jawab Adit.
“Kau sungguh bodoh! Sok suci! Sok ikhlas! Miskin tapi sok kaya! Apa sih beratnya menerima tanda terima kasih. Mungkin itu bisa jadi modal kamu usaha. Kamu itu sungguh manusia aneh. Bayar kos saja nunggak berbulan-bulan tapi sok malaikat. Sok tidak butuh uang. Dasar kolot, tolol, bahlul,
primitif! Sini berikan padaku kartu namanya biar aku cari Pak Supriyanto itu dan aku ambilkan bagianmu.”
Adit menggelengkan kepala.
“Kenapa tidak?!” Sengit Ravik
“Lelaki sejati tidak akan menjilat ludahnya!”
“Bah! Dasar prtimitif kolot! Jika kau masih mem-pertahankan kekolotan prinsip-prinsipmu
di era global seperti ini, kau tidak akan survive! Kau akan binasa terlindas realitas!”
“Allah bersama orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
Dengan muka kesal Ravik meninggalkan Adit sambil bergumam,
“Semoga kau dapat petunjuk wahai manusia lugu yang kolot!”
* * *
Bumi terus berputar. Matahari terus terbit di timur dan tenggelam di barat. Tak pernah berhenti. Hari berganti hari. Setelah tiga setengah tahun tahun kuliah Adit berhasil menyelesaikan kuliahnya di Fakultas dengan nilai 3,77 .Cumlaude. (Gak kayak pima yang 3,3 hehehe). Ia terpilih sebagai terbaik pertama di angkatannya. Selesai kuliah ia tidak pulang kampung, tapi mencoba bertahan di Jogja. Ia sangat ingin lanjut pascasarjana. Namun ia merasa perlu kemapanan ekonomi.
Suatu hari di awal musim hujan ia pergi ke kampus.ia kangen dengan kampus. Ia ingin menemui beberapa teman satu angkatannya yang belum lulus sambil refresing menyegarkan pikiran. Di pintu gerbang ia berpapasan dengan Pak D.J., Adit menyalaminya dengan penuh takzim.
“Adit, sudah dua minggu ini aku mencarimu. Nanti jam satu siang datanglah ke ruang kerjaku.”
Kata-kata Pak Djemakin itu sangat menyejukkan hatinya. Jika ia dicari-cari seorang guru besar yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya seperti beliau maka itu suatu keberkahan. Suatu tanda akan datangnya kebaikan-kebaikan.
“Insya Allah, Ustadz.” Jawabnya singkat.
Tepat jam satu kurang tiga menit ia masuk ruang kerja Pak Djemakin dengan terlebih dahulu mengucapkan salam.
“Wa’alaikumussalam. Duduklah Adit! Kau tepat waktu Adit. Aku senang.”
“Ada yang bisa saya bantu ustadz?”
“Begini Adit, aku mau bertanya padamu, mau tidak kamu mengamalkan ilmumu?”
“Tentu Ustadz. Bukankah ilmu harus diamalkan?”
“Mau tidak kamu berjuang dan berdakwah?”
“Tentu ustadz. Itu adalah kewajiban seorang muslim.”
“Rasanya aku tidak salah memanggil kamu. Begini, ada sebuah daerah di pelosok selatan
Purbalingga, daerah itu namanya Babakan yang sangat membutuhkan seorang yang mengerti tentang kesehatan masyarakat tapi juga mumpuni dalam bidang agama ini. Maukah kamu diutus ke sana. Sebagai utusan resmi UGM. Semua biaya UGM yang menanggung. Kau juga akan dapat gaji. Kau tidak selamanya di sana. Hanya dua tahun. Setelah itu kau akan aku usahakan dapat beasiswa untuk lanjut S2. bagaimana?”
Mendengar penjelasan Pak Djemakin, hati Adit gerimis.
“Saya bulatkan tekad diri saya untuk amanah ini, ustadz. Untuk ilmu kesehatan masyarakat yang pernah saya dapatkan, saya siap ditempatkan dan diutus di mana saja.”
“Aku bangga mendengarnya, Anakku. Bersiap-siaplah. Surat-suratnya akan aku urus. Minggu depan kamu berangkat, insya Allah. Dan ingat kamu berangkat ke daerah terpencil yang tidak ringan.”
“Mohon doanya, ustadz.”
“Hayyakallah ya Bunayya.”9
“Amin.”
* * *
Minggu berikutnya, setelah menempuh perjalanan panjang dari Jogja ke Jakarta dengan kereta dan disambung dengan angkot ke Purbalingga kemudian naik delman istimewa dan Adit duduk di muka menemani Pak Kusir yang sedang bekerja sampailah Adit ke sebuah desa. Turun dari delman ia
masih harus berjalan kaki alias ngesot setengah kilo untuk mencapai perkampungan di mana dia ditugaskan. Begitu sampai ia langsung mencari rumah kepala desa.
Seorang petani memberi petunjuk,
“Datangilah rumah yang bercat hijau. Di halamannya ada seekor keledai sedang ditambat. Dari sini kira-kira seratus meter. Setelah kebun singkong.”
Ia bergegas ke sana. Dengan mudah ia temukan rumah itu. Ia ketuk pintu. Seorang lelaki tua, berumur tujuh puluhan keluar. Ia berbincang dengannya penuh takzim, menjelaskan kedatangannya dan menyerahkan surat tugas. Lelaki tua itu mempersilakan masuk rumahnya, menyambutnya dengan penuh
suka cita, “Alhamdulillah surat permohonan saya ke bagian kesehatan masyarakat UGM akhirnya dikabulkan. Saya sangat bahagia. Saya berharap kau betah di desa ini dan bisa jadi penerang di desa kami.”
“Kalau boleh tahu siapa nama Bapak?”
“Ah, sebenarnya saya merasa tidak pantas menjadi Kepala Desa. Kemampuan dalam mengayomi masyarakat saya masih belum benar. Karena tidak ada yang lain jadi terpaksa saya menjadi Kepala Desa. Nama saya Joni. Nanti ba’da sholat Maghrib kau akan kukenalkan pada warga kampong di masjid. Setelah itu kau akan kuajak berkunjung ke rumah para pemuka masyarakat desa dan pengurus masalah keagamaan di kampung ini. Mereka semua pasti akan senang dengan keberadaanmu di sini.”
“Semoga Allah memudahkan semuanya.”
Sejak hari itu mulailah perjuangan Adit benar-benar merasakan beban yang tidak ringan. Masyarakat di desa itu masih ada yang memiliki hobi yang sangat aneh, yaitu gak mandi dan mereka sangat menerima ajakan untuk tidak mandi. Di samping mengobati penyakit psikis seperti itu, ia juga dibebani untuk mengenalkan agama kepada masyarakat kampung Babakan yang terpencil itu. Ia masih menemukan warga kampung tersebut yang buta huruf. Masih ada yang belum bisa baca Al-Quran. Masih banyak yang belum mengerti ajaran Islam dengan benar. Selama ada di desa itu, ia diangkat menjadi imam menggantikan Pak Joni yang menjadi imam sementara. Ia menjadi rujukan, tempat bertanya masalah pendidikan, kesehatan, agama dan lain sebagainya. Bahkan masalah sosial. Masyarakat begitu percaya padanya sebagai lulusan UGM. Anak-anak juga sangat lekat padanya. Mereka
antusias belajar Al-Quran padanya. Seringkali Adit membuat acara yang sangat mengasyikan bagi mereka. Kematangannya ketika aktif di organisasi sebelum masuk kuliah sangat berharga.
Genap satu tahun, Adit seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat desa itu. Klinik kesehatan bagi masyarakat dan pengajian umum yang ia buka di masjid setiap hari Jumat pagi dihadiri oleh ribuan orang. Tidak hanya masyarakat desa itu namun juga desa-desa sekitarnya.
Namun lazimnya sebuah dakwah, tidaklah mulus begitu saja. Sudah beberapa kali nyawanya terancam oleh mereka yang merasa keberadaan Adit sangat membahayakan mereka. Mereka sebuah mafia kecil yang secara diam-diam menanam ganja di tengah-tengah kebun mereka. Mereka adalah bagian dari jaringan
pengaedar narkotika di kawasan Purbalingga Lor. Ulah mereka belum terendus pihak kepolisian. Kehadiran Adit yang berpendidikan dianggap sangat membahayakan. Beberapa kali Adit hendak dilenyahkan namun gagal.
Mafia kecil itu terus mencari cara membinasakan imam muda ini. Akhirnya mereka sepakat untuk menghabisi Adit dengan rekayasa dan fitnah.
“Begini, agaknya imam muda ini banyak disukai anak-anak gadis. Kita manfaatkan hal ini untuk membinasakannya. Kita pernah dengar dulu di Bani Israel ada seorang ahli ibadah yang namanya Barshisha. Dan ia hancur karena perempuan. Bagaimana kalau kita gunakan cara setan itu untuk membinasa-kan imam muda ini.” Seorang anggota mafia berambut keriting mengajukan usul.
“Boleh. Riilnya bagaimana?” Ketua mafia menyahut.
“Begini Bos,” Kata lelaki berambut keriting, “Saya telah amati kegiatan imam muda itu dua minggu penuh. Juga saya bertanya banyak hal tentangnya ke para penduduk. Imam muda itu punya pengajian rutin di masjid tiap hari malam Ahad. Tempatnya di masjid selatan desa. Dia pulang dan pergi tidak pernah sendirian. Jadi kalau kita gunakan kekerasan justru berbahaya.”
“Terus gimana membinasakan dia?” Sahut sang ketua tidak sabar.
“Begini Bos, kita fitnah dia. Penduduk desa ini paling anti dan paling murka terhadap orang yang mengotori anak gadisnya. Saya dapat informasi ada seorang anak gadis yang sangat suka apa saja asal dapat imam muda ini, namanya Sadia. Setahu saya, imam muda ini sampai di rumahnya dari pengajian jam setengah dua belas malam. Kita akan manfaatkan Sadia. Kita seolah membantu Sadia, namun Sadia harus ikut skenario kita. Dan harus menjaga rahasia. Begitu Bos.”
“Lha terus riil memanfaatkan Sadia itu gimana, Keriting?”
“Begini Bos, saat si imam muda itu pergi mengaji, diam-diam dengan cara yang tidak diketahui orang, kita datangi rumah imam itu lewat belakang. Kita ajak Sadia ikut serta. Kita congkel pintu belakang, kita minta Sadia masuk dalam rumah imam itu. Sadia harus bersembunyi. Ketika imam itu nanti pulang dan tidur pulas. Sadia harus tidur di samping imam itu. Satu ranjang kalau perlu dengan pakaian yang tampak acak-acakan. Saat itulah kita grebek, kita kerahkan orang kampung. Pada saat kita grebek Sadia harus memeluk imam muda itu kuat- kuat, menangis dan menjerit-jerit. Dengan demikian hancurlah imam muda itu. Ia akan dilempari batu seperti anjing kurap oleh seluruh penduduk kampung. Akan diusir.” Sang ketua manggut-manggut mengerti.
“Apa Sadia mau?” tanya bos mafia
“Pasti mau bos. Dia sudah masuk perangkap kita. Sekarang dia sudah ikut pakai ganja sebab kakaknya juga bagian dari kelompok kita.”
“Bagus. Segera jalankan rencanamu dengan matang. Ajak dan provokasi para pemuda yang
tidak suka dengan imam sok suci itu!”
* * *
Sore itu Adit asyik membuat acara permainan dengan anak-anak di sebuah kebun korma. Tiba-tiba seorang anak berteriak,
“Imam… imam itu ada ular!”
Adit langsung melihat ke arah yang ditunjuk si anak. Ya ada seekor ular cobra yang sangat berbahaya. Ia minta anak-anak menyingkir. Di PMR yang ia ketuai dulu, ia pernah belajar mengatasi ular. Sepuluh menit kemudian Adit telah berhasil meringkus ular itu dengan kain yang ia gunakan untuk tikar.
“Jangan takut ini ularnya sudah tertangkap.” Anak-anak gembira.
“Imam memang hebat. Di sini belum pernah ada seorang pun yang berani menangkap ular cobra. Kepala desa yang dulu meninggal katanya karena dipatuk ular cobra.” Kata anak yang tadi berteriak.
Sore itu kabar imam muda menangkap ular cobra langsung tersiar ke seluruh penjuru desa. Seorang petani separo baya mendatangi Adit dan menasihati,
“Imam, jangan main-main dengan cobra. Lebih baik langsung di bunuh saja!”
“Saya tidak main-main kok, Paman. Ular ini sengaja tidak saya bunuh sebab besok pagi saya ingin membawanya ke dokter untuk diambil serumnya. Serum itu bisa jadi obat jika kelak ada penduduk desa ini digigit ular berbisa ini. Jangan kuatir, Paman.”
Setelah faham petani itu tersenyum dan minta diri. Adit memasukkan ular itu ke dalam kantong goni lalu mengikatnya dan meletakannya di ruang belakang rumahnya.
Setelah Maghrib, Adit membaca materi yang akan dia sampaikan untuk pengajian rutin. Ba’da Isya ia berangkat ke masjid selatan desa untuk menyampaikan pengajian. Sementara kelompok mafia mulai menjalankan rencananya. Sebagian mereka sudah mampu menyebar fitnah dan meyakinkan
sebagian penduduk desa bahwa si imam muda itu tak lain adalah seekor serigala busuk. Imam muda itu telah mengotori desa dan menodai kesucian gadis desa, di antara korban yang sedang dalam cengkeramannya adalah Sadia.
Sebagian yang lain ada yang menyebar desas-desus ke kalangan ibu-ibu. Mereka minta ibu- ibu melihat apa yang akan terjadi malam nanti. Malam nanti akan ketahuan siapa sebenarnya imam muda yang selama ini dipuji-puji itu.
Di sebuah rumah, Sadia telah siap dengan segala fitnahnya.
“Suratku tak pernah ditanggapinya. Malam ini imam sok suci itu akan tahu siapa Sadia. Dia akan tunduk di telapak kakiku.” Gumamnya.
Tepat pukul sepuluh Sadia dan lelaki berambut keriting berhasil masuk rumah Adit lewat pintu belakang. Sadia berpakaian setengah telanjang. Ia benar-benar sudah kehilangan rasa malunya. Di luar rumah ketua mafia bersiaga penuh dengan beberapa anak buahnya. Beberapa anak buah yang lain bertugas membawa para pemuda pada saat yang tepat.
Tepat pukul sebelas Adit pulang diantar oleh seorang pemuda. Setelah pemuda itu pamit, Adit masuk rumah. Ia tidak masuk ke kamarnya tapi duduk di ruang tamu. Ia belum mengantuk. Ia ingin membaca Al Quran terlebih dahulu.
Satu jam kemudian, terdengar teriakan yang sangat gaduh di luar rumahnya. Teriakan itu mencaci-maki dirinya. Pintu rumahnya digedor dengan sangat keras.
“Ayo seret imam pezina itu!”
“Telanjangi Adit serigala itu! Arak dia biar jadi pelajaran!”
Belum sempat ia beranjak dari tempat duduknya, pintu itu telah terbuka. Didobrak. Adit berdiri kaget. Kitab Al Quran masih ditangannya. Orang-orang masuk dengan marah. Yang paling depan adalah ketua mafia. Mata Adit beradu dengan matanya. Ketua mafia agak gentar, tidak seperti yang direncanakan. Tidak ada suara merengek atau tangis Sadia. Ke mana Sadia? Namun ia tidak kehabisan akal. Ia langsung menggertak.
“Di mana Sadia kausembunyikan, Bangsat!” Adit tidak gentar,
“Siapa Sadia?”
“Jangan sok tidak tahu. Sadia yang kauzinai setiap malam!”
Adit kaget, “Apa zina? Aku mezinai Sadia? Astagh-firullah. Na’udzubillah. Jangan sembarangan kau
bicara! Menuduh zina adalah kriminal!” Kata Adit membela diri.
Jangan banyak bacot. Langsung seret saja pemuda ini. Sadia adalah korbannya ia telah menodai gadis lugu itu. Ayo seret dia!”
Para pemuda yang emosi langsung bergerak memegang tangan Adit. Adit melawan dengan menampar mereka. Terjadi pergulatan. Tiba-tiba terdengar teriakan keras, “Berhenti! Ada apa ini?”
Ternyata suara kepala desa. Di belakangnya ada beberapa orang polisi. Rupanya kepala desa mencium gerakan para pemuda. Ia ingin menegakan hukum, siapa pun yang salah harus diadili sesuai hukum, makanya ia mengundang polisi. Sebelum Adit angkat bicara, ketua mafia angkat bicara dan meluncurkan tuduhan dan fitnahnya. Panjang lebar, dan dengan suara sangat meyakinkan,
“Beberapa kali aku melihat dia dan Sadia berbuat mesum!”
Adit emosi, “Dia bohong! Dia memfitnah! Ini fitnah! Hadzihi fitnah! Hadzihi fitnah!”
“Aku bahkan pernah melihat tengah malam Sadia menutup jendela kamar rumah ini, dalam keadaan telanjang dada dan di belakangnya si jahannam ini mendekapnya mesra!” cerocos ketua mafia.
“Sudah diam kamu Bandot! Tuduhan kamu harus kamu buktikan!” Bentak kepala desa.
“Akan aku buktikan! Aku yakin Sadia sedang terlelap di salah satu ruangan di rumah ini setelah dibius srigala ini! Ayo kita geledah!” Sahut ketua mafia mantap.
Ia bergerak. Beberapa orang bergerak. Pak kepala desa, dua polisi dan Adit mengikuti. Adit hanya pasrah kepada Allah. Kamar pertama digeledah, tak ada apa-apa. Kamar kedua juga. Kamar ketiga, yang tak lain kamar tidur Adit digeledah. Dengan sangat teliti. Almari dibuka. Kolong ranjang diteliti tak ada apa-apa. Wajah ketua mafia merah. Ia marah. Dalam hati ia mendesis, “Di mana kau Sadia? Kurang ajar kamu! Kamu telah mempermainkanku. Awas aku cincang kamu!”
Ketua mafia itu lalu mengajak menggeledah ke ruang belakang yang tak lain adalah dapur dan kamar mandi. Ruang belakang itu gelap. Beberapa orang menyorotkan senternya. Sinar senter itu menerangi ruangan. Di atas lantai orang-orang terkesima dengan pemandangan yang mereka lihat. Dua orang anak manusia lain jenis diam tak bergerak dalam posisi yang sangat memalukan. Tubuh keduanya telanjang.
“Itu Sadia!” teriak seorang pemuda.
“Lha itu yang menidihnya siapa?” Tanya seseorang. Kepala mafia pucat.
“Itu si kerempeng. Anak bejat dari kampung utara!” Polisi melihat keduanya.
“Inna lillahi wa inna ilahi raaji’un”
Keduanya sudah tidak bernyawa. Ada gigitan ular di kaki kedua manusia jalang ini. Kata polisi itu.
Kepala desa langsung berkata pada ketua mafia, dan ia tidak tahu kalau yang ia ajak bicara adalah seorang ketua pengedar narkotika,
“Hai Bandot, berarti kau salah lihat. Yang berbuat mesum bersama sadia itu bukan Adit. Tapi si pemuda keriting ini. Saya tahu persis siapa Adit. Sejak dia datang sampai sekarang saya tahu persis akhlaknya. Memang rumah ini sering ditinggalkannya kalau malam untuk mengisi pengajian. Jadi sering kosong. Kelihatannya itu dimanfaatkan dua manusia itu. Karena mereka merasa aman melakukannya di sini. Tapi Allah tidak ingin membiarkan hal ini berlanjut terus.”
“Ya aku bersaksi Adit bersih dari tuduhan keji itu. Kenyataan di depan mata kita telah
membuktikannya. Memang sejak satu minggu ini ada yang menyebar desas-desus tidak sedap tentang imam muda kita. Dan malam ini semuanya jelas.” Sahut seorang ibu-ibu yang ikut menyaksikan kejadian itu.
Dalam hati Adit bersyukur telah selamat dari fitnah. Ia merasa ada makar yang ingin mencelakainya di balik kejadian menggegerkan desa malam ini, dan Allahlah yang menggagalkan.
Penduduk desa, juga Adit tak ada yang tahu, apa yang dilakukan Sadia dan Pemuda Keriting setelah masuk rumah Adit. Setan telah membakar nafsu mereka berdua di tempat gelap itu karena pengaruh ganja yang mereka hisap. Tangan pemuda itu tidak sadar membuka ikatan karung goni yang berisi ular saat sedang berasyik masyuk. Saat jantung berdegup kencang. Tanpa mereka sadari ular itu memaruk kaki mereka. Jantung terus berdegup. Racun mematikan pun menyebar dengan cepat. Dan tamatlah riwayat mereka berdua. Makar yang mereka buat membinasakan mereka sendiri.
* * *
Peristiwa malam itu berbuntut panjang. Kakak Sadia yang juga anggota mafia kecil itu tidak bisa terima atas kematian adiknya. Ia tahu persis adiknya adalah korban dari makar busuk ketua mafia.
Diam-diam ia mendatangi kantor polisi dan membocorkan rahasia yang selama ini ia pendam. Ia juga mendatangi kepala desa, dan membocorkan semua yang ia tahu, termasuk makar fitnah untuk membinasakan sang imam muda, Adit, pada malam itu.
Polisi bergerak cepat. Seluruh anggota mafia di desa itu dan desa-desa sekitarnya di tangkap. Bahkan jaringan yang lebih besar di Purbalingga Lor segera digulung. Kepala desa mengum-pulkan warganya dan menjelaskan lebih detil tentang makar fitnah itu. Penduduk desa semakin mencintai Adit.
Tak terasa sudah sembilan belas bulan Adit menjadi ladang bertanya, dokter bagi kesehatan masyarakat dan juga imam yang berdakwah di desa itu. Sudah cukup banyak perubahan. Anak-anak sudah fasih baca Al Quran. Para orang tua sudah memahami isi aqidah Thahawiyyah, Fiqh Sunnah, dan inti risalah Islam. Sebuah balai serba guna didirikan di samping masjid.
Tiga bulan lagi tugasnya usai. Ia ingin kembali ke Yogyakarta dan melanjutkan S2. Ia hendak menyampaikan hal itu pada kepala desa, agar tidak mengejutkan kepergiannya. Usai sholat Maghrib ia membicarakn hal itu pada kepala desa dan beberapa pengurus masjid, termasuk Pak Joni yang sangat dihormati. Apa yang ia sampaikan ditanggapi dengan keharuan dan tetesan airmata. Kepala desa berkata dengan mata berkaca,
“Kami sangat mencintaimu Nak Adit. Kami sebenarnya ingin Nak Adit tinggal di sini. Atau lebih lama di sini. Namun semua kembali pada Nak Adit. Kami tidak bisa dan tidak berhak memaksa. Namun ada satu permintaan kami yang kami sangat berharap Nak Adit tidak menolaknya.”
“Apa itu?” Tanya Adit.
“Bicaralah Paman Joni.”
“Begini Nak Adit. Saya punya cucu. Satu-satunya. Tidak cucu langsung, tapi cucu kakak saya yang telah meninggal karena kecelakaan, setengah tahun sebelum kau datang kemari. Akulah satu-satunya keluarganya. Aku sudah tua. Sejak kecil ia hidup di desa ini. Sejak kecil. Meski ayah-ibunya tinggal di kota Padamara, ia tinggal di sini. Bersama kami. Karena ia memang dilahirkan di sini. Setiap dibawa ke Padamara ia sakit. Tapi jika dibawa ke sini ia sembuh.
“Boleh dikata cucu saya itu, menurut pengakuan orang-orang di desa ini adalah gadis tercantik dan
terpandai. Dialah satu-satunya gadis yang menghafal Al-Quran. Menghafal Al- Quran dengan kemauannya sendiri. Cucu saya ini juga bisa dikatakan orang paling kaya di desa ini. Selain mewarisi kekayaan ayahnya di Padamara, ia juga mewarisi kekayaan kakeknya, yaitu kakak saya. Tanggung jawab saya adalah menikahkannya dengan pemuda yang saleh, bertakwa, berilmu dan bertanggung jawab. Saya merasa kau sangat tepat. Saya berani menjamin ia gadis yang salehah. Sekarang sedang kuliah di UGM Jurusan Kesehatan Masyarakat, Yogyakarta, tahun kedua. Kalo Nak Adit dari Jurusan Kesehatan Masyarakat UGM, mungkin juga dia adalah adik kelas nak Adit. Ini permohonan saya. Dan saya berharap tidak kamu tolak. Saya akan sangat merasa aman jika dia dalam naungan lelaki saleh sepertimu.”
Perkataan Pak Joni membuatnya kaget dan terkesima. Lidahnya susah digerakkan. Ia diam. Semua yang ada dalam pembicaraan itu diam. Suasana hening sesaat. Akhirnya ia berhasil menggerakan lidah dan bibirnya,
“Sa… saya akan istikharah dulu.”
* * *
Tiga kali ia istikharah. Setiap kali istikharah ia tidur. Dan dalam tidur selalu bermimpi membaca Al Quran surat Ar Ruum ayat 21. Ia sangat yakin, itu ilham agar ia segera menikah. Akhirnya ia menyampaikan jawaban ‘menerima tawaran itu’ pada Pak Joni. Jawaban Adit menerbitkan airmata haru lelaki itu.
Minggu berikutnya diadakan acara ta’aruf antara Adit dan cucu Pak Joni itu. Acara dihadiri kepala desa. Adit hanya bisa menunduk dengan hati dan jantung berdebar-debar. Darah mudanya meluap. Ia penasaran. Seperti apa rupa gadis yang katanya paling pilihan di desa ini.
Sesampainya di rumah Pak Joni, istri Pak Joni mengeluarkan minuman dan makanan. Gadis itu tidak ikut keluar. Ia ada di dalam. Setelah berbincang-bincang cukup lama. Pak Joni berkata,
“Ya Pima keluarlah!”
Tak lama kemudian seorang gadis berjilbab panjang putih bersih keluar. Ia duduk di samping istri Pak Adit.
“Nak Adit, ini Pima cucuku.” Kata Pak Joni.
Adit mengangkat muka ke arah wajah gadis itu. Si gadis juga melakukan hal yang sama.
Dan….
Subhanallah! Ia teringat peristiwa dua tahun yang lalu. Peristiwa di musim hujan, saat ia berjualan buku. Gadis ini bukankah? Ya, persis! Mata yang bundar dan bening. muka yang bersih dengan tahi lalat di dagu kirinya. Si gadis agaknya juga kaget. Cukup lama mereka berpandangan.
“Agak aneh. Apa kalian pernah saling kenal?” Pak Joni menangkap gelagat. Gadis itu diam. Adit mencoba mengingat kejadian itu. Ia bergumam,
“Masjid Al Fitrah, Kaliurang. Kaset Aa Gym berjudul : Al Mar’ah Ash-shalihah.” Gadis itu tiba-tiba menyambung lirih,
“Ya kapten, lau samah, bikam syarith dza? E….sab’ah junaihat!
Lu ya anisah, hadza jaded. Arba’ah mumkin?
Musyi mumkin, afwan. Khamsah la azid. Masyi.”
Adit terhenyak, gadis itu masih ingat dialog tawar menawar kaset itu dua tahun yang
lalu. Sebelum Adit bicara gadis itu menjelaskan dengan detail pertemuan dua tahun yang lalu. Pertemuan yang setelah itu tidak bertemu lagi kecuali saat ta’aruf itu.
Paman Joni dan semua yang hadir mafhum. Ia lalu membahas lebih dalam. Pima dan Adit sama-sama rida. Hari pernikahan pun ditentukan.
* * *
Musim hujan yang penuh barakah. Pagi yang indah. Langit yang cerah. Orang-orang menatap hari dengan penuh gairah. Begitu juga Pima dan Adit. Pagi hari Jumat itu berlangsung akad nikah di desa bersuka cita. Anak-anak mendendangkan lagu kebahagiaan dan cinta.
Rumah tua yang ditempati Adit ternyata adalah rumah tempat Pima dulu dilahirkan. Rumah itu telah direnovasi. Dicat kembali. Kamar pengantin dihias indah dan wangi.
Malam usai sholat Isya Adit masuk kamar. Sang isteri telah menanti. Kali ini tidak berjilbab. Adit terhenyak ketika melihat kalung permata yang dipakai Pima. Kalung emas permata dengan bandul permata mulia berwarna merah tua yang sangat indah. Ia memandangi kalung itu lama sekali.
Pima heran dan bertnya,
“Ada apa denganmu, Suamiku? Kenapa wajahmu pucat dan matamu berkaca-kacaa saat kau melihat kalung permata ini?”
Adit berkaca-kaca, dan berkata,
“Jika mataku tidak silap. Aku pernah melihat kalung mutiara ini dua tahun yang lalu. Pemiliknya mengatakan kalung ini dibeli dari Madrid untuk hadiah putri keduanya yang baru hafal Al-Quran.”
Mendengar hal itu Pima terisak. Ia teringat cerita ayahnya almarhum. Terbata- bata ia berkata,” Jadi kaukah yang menemukan tas hitam lusuh di kamar kecil masjid Al Fitrah itu? Kaukah yang menolak pemberian tanda terima kasih dari pemiliknya itu?”
Adit kaget, “Kau tahu peristiwa itu? Dari mana kau tahu peristiwa itu?”
“Kau ingat nama Supriyanto bin Mangunkusumo.”
“Ya. Itu pemilik tas itu?”
“Beliau adalah ayahku.”
“Ayahmu?”
“Ya.”
“Subhanallah. Ketika namamu disebut dalam akad nikah Pima binti Supriyanto bin Mangunkusumo. Aku tidak pernah berpikiran nama pemilik tas hitam lusuh itu. Sebab betapa banyak nama Supriyanto di Jogja ini.”
“Hari itu aku datang ke masjid Al Fitrah bersama ayah. Aku asyik melihat buku-buku. Ayah yang bertanya ke pengurus masjid. Ketika ayah bilang tasnya telah ditemukan masih utuh aku sangat bahagia. Sementara ayah menunggu di masjid ba’da sholat Isya, aku memilih langsung istirahat ke hotel. Setengah sepuluh ayah masuk hotel sambil menangis. Aku bertanya pada ayah ada apa. Ayah menjawab, ‘Yang menemukan tas ayah yang sangat berharga ini adalah seorang pemuda yang sangat menjaga keikhlasan dan sangat menjaga amanah. Aku akan merasa bahagia jika Allah berkenan menjodohkan dirimu dengannya.’ Suamiku, apakah kautahu apa yang kulakukan saat mendengar perkataan ayah itu?”
“Aku tak tahu? Apa yang kaulakukan?”
“Dalam hati aku mengaminkan. Dan aku berdoa kepada Allah, jika pemuda itu memang benar-benar saleh dan menjaga amanah semoga kelak ia benar-benar menjadi jodohku. Dan Allahu akbar! Allah mengabulkan doaku.
“Allahu akbar. Saat itu aku menolak amplop pemberian ayahmu. Dan ternyata Allah menyiapkan yang lebih berharga dari itu.”
“Ya. Aku dan segala yang kumiliki sekarang ada dalam kuasamu.”
“Aku merasa musim penghujan kali ini benar-benar penuh barakah.”
Pima mendekat dan meletakkan kepalanya dalam dada Adit. Sesaat, suasana haru dan indah memenuhi kamar pengantin. Kedua makhluk Allah itu larut dalam rasa syukur yang dalam dan panjang.
Keterangan :
1 Kapten, maaf, berapa harga kaset ini?
2 Tujuh ribu.
3 Mahal sekali.
4 Tidak nona, ini baru.
5 Empat, mungkin.
6 Tidak mungkin, afwan.
7 Lima (ribu), tak akan aku tambah.
8 Okay.
9 Semoga Allah selalu menjagamu, memberimu keberhasilan hidup wahai anakku.
Minggu, 19 April 2009
PERCAYA SAMA RAMALAN BINTANG?
“Percaya sama ramalan bintang?? Uh, gak banget, deh!”
Pima memang paling tidak percaya dengan yang namanya ramal meramal. Apalagi ramalan bintang. Dia suka keki kalau melihat kedua sohibnya baca majalah, pasti rubrik zodiak yang pertama kali mereka baca. Mending kalau hanya sekedar iseng-iseng saja… nggak jarang, mereka bener-benar terpengaruh dengan isi ramalan di majalah yang dibacanya.
Tysa, sobat Pima yang sebangku dengannya pernah nangis-nangis hanya gara-gara membaca isi ramalan di salah satu majalah remaja yang mengatakan, ‘Kekasihmu punya affair dengan wanita lain’. Lain lagi dengan Ardhin, sahabat Pima yang duduk di belakang bangku Pima dan Tysa itu pernah membatalkan janjinya hanya karena tak berani keluar pas tanggal 13. “Menurut ramalan di majalah, hari ini merupakan hari sial aku, Pim! Aku gak berani pergi ke mana-mana. Takut terjadi apa-apa.” Uh, nyebelin banget kan?
“Bintang kamu Aquarius kan, Pim?” tanya Ardhin di bangkunya, 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.
“He’eh,” jawab Pima tanpa menoleh. Kepalanya yang berbalut bando putih rebah di atas meja. Malas.
“Mmh…”
Pima menegakkan kepala. Menoleh ke arah Ardhin yang masih menekuni majalahnya.
“Maksudnya apa, tuh?”
“Hah?”
“Deheman kamu barusan?”
“Oh…” Ardhin tak lantas menjawab. Matanya yang jeli belum bergeming dari lembar majalah yang sedang dibacanya.
Kening Pima mengerut. Makin bingung. “Ardhin!”
“Apa honey,” jawabnya tenang.
“Kamu bemum jawab pertanyaanku barusan!”
“Yang mana?”
“Duh… kamu kok jadi pikun begini, seh?!” Pima keki, “Maksud deheman kamu barusan apa?”
Ardhin tersenyum. Sukses dia menarik perhatian sahabatnya itu. “Ini Pim, menurut ramalan bintang aquarius di majalah ini, ada seseorang yang diam-diam suka memperhatikan kamu. Yah, semacam penggemar misterius gitu kali, ya?”
“Eh, ganteng gak… ganteng gak?”
“Mmh… gak ditulis, tuh.” (tapi orangnya ganteng koq…buktinya banyak yang ngejar2 penulis cerpen ini, wekekekek)
“Yah… basi!” Pima kembali merebahkan kepalanya di meja.
Tysa muncul tiba-tiba dari balik pintu kelas. Melempar tasnya ke meja. Mengeluarkan sebuah majalah dari dalam tasnya. “Liat deh, Pim!”
“Apa?” jawabnya dengan mata yang setengah terpejam.
Tysa mengguncang-guncang tubuh Pima, sampai gadis itu membuka mata lebar.
“Uh, gangguin orang aja!”
“Ini penting, Pim. Dengar ya. ‘Asmara: Buka mata, buka telinga. Seseorang di sekitar kehidupan kamu diam-diam memendam perasaan cintanya kepada kamu’, begitu kata ramalan bintang kamu minggu ini.”
“Hah?” Ardhin merebut majalah dari tangan Tysa, “kok mirip-mirip sama ramalan di majalah yang lagi aku baca, sih?”
“Masa, sih?” Tysa mengambil majalah milik Ardhin, dan membaca ramalan bintang di dalamnya.
Ardhin dan Tysa tampak serius menekuni kalimat demi kalimat ramalan bintang aquarius di majalah. Sampai terdengar suara…
“Ggggrrrrooookkkhhhh…!” Suara dengkur si Pima yang tertidur lelap di mejanya.
Ardhin dan Tysa bertukar pandang. Melihat ke arah Pima.
“Dasar peloooorrr!”
Bel masuk berbunyi. Para siswa mulai menempati mejanya. Pima masih saja asyik mendengkur. Kegemarannya jarang mandi dan menulis cerpen sampai larut malam, membuat gadis yang punya cita-cita menjadi penulis ternama itu sering datang terlamat dan tidak boleh masuk ke kelas sebelum menyanyi dulu di depan teman-temannya, juga dia sering ketiduran di dalam kelas. Sudah lumayan banyak cerpen-cerpennya yang dimuat di majalah remaja.
Pak Parlan, guru akuntansi yang juteknya nggak ketulungan itu masuk ke dalam kelas. Emh… sepertinya sebentar lagi bakalan ada yang kena semprot, nih…
“Pimaaaaaaaaaaaaaaa…!!!”
Tuh, kan.
ooOoo
“Kayaknya si Waykit, deh.”
“Kalo menurut aku sih, si Ardi.”
“Kalo Awan gimana?”
“Atau… si Ikhsan?”
“Mmh…”
Kepala Pima mondar-mandir memandang ke arah Ardhin dan Tysa, persis orang yang sedang menonton pertandingan bulutangkis. Saat itu mereka sedang berada di kantin Kampus pas jam istirahat setalah kuliah pertama.
“Kalian pada ngomongin apaan sih?”
“Eh, menurut kamu siapa, Pim?”
“Siapa apanya?” Pima bingung ditanya begitu olah Ardhin.
“Cowok!” tukas Ardhin, “Cowok yang diem-diem naksir sama kamu!”
“Awan, Pim?” sambar Tysa, “Dia kan udah dari kelas satu naksir sama kamu.”
“Pasti Waykitl yang tampangnya kayak almarhum Munir itu ya, Pim?” Ardhin tak mau kalah, “Waykit pernah secara nggak langsung ngomong ke aku kalau dia naksir sama kamu.”
“Masa, sih?”
“Tapi aku sering memergoki si Ardi, ketua kelas kita yang jangkung itu mencuri-curi pandang ke arah kamu,” ujar Ardhin.
“Ah, gak mungkin si Ardi, dia kan udah punya Tupiq,” bantah Tysa, “Kalo Ikhsan aku percaya.“Duh… nggak ngerti, ah!” Pima segera melarikan diri meningalkan kantin yang mulai sepi ditinggalkan para mahasiswa, setelah puas mengisi perut mereka, dan kembali ke kelasnya masing-masing.
Heran, kok bisa ya ada orang yang begitu terpengaruh dengan isi ramalan di majalah? Bagaimana mungkin, individu yang berbeda dengan zodiak yang sama, memiliki peruntungan yang sama pula?! Nonsense!
“Ups!” hampir saja Pima ditabrak seseorang ketika dia hendak masuk ke kelasnya.
“S-sori?” ucap seseorang yang wajahnya sangat rupawan. Bule. Begitu anak-anak semester tiga biasa memanggilnya. Kakak kelas Pima yang jago main basket, paling ganteng dan imut satu angkatan itu punya nama asli Adit. Andromeda Aditya Octavian, lengkapnya. Tapi dia lebih senang dipanggil Aditya Nugroho, karena kesantunannya. Mamanya orang Jawa, papanya robot. (maafkan aku ayah…hiks…hiks…mengece dirimu! Jangan kutuk aku jadi malin kundang)
“Ah, gak pa-pa, kok,” ucap Pima sambil menundukkan pandangnya, takut terkena sihir mata biru Adit yang luar biasa indah. Tapi baru saja dia hendak melangkahkan kakinya, Adit kembali membuka suara.
“Hei!” ucap Adit membuat Pima urung melangkah, “Kamu Pima, kan? Yang cerpennya suka dimuat di majalah remaja?”
Pima mengangguk. Takjub. Kali ini dia tak berhasil menghindari mata biru Adit. Dan dari gelagat Pima, terlihat kalau dia begitu terpana dengan mata adit yang begitu memikat.
“Wah… aku suka baca cerpen-cerpen kamu, lho… keren! Eh, ternyata kamunya juga keren! Kalo ibarat kamu naik mobil BMW, klop luar dalem sama2 keren!”
Pima melambung. Siapa yang tidak? Dipuji cowok sekeren Adit, jelas bisa menaikan pasaran. Apalagi waktu Adit mengucapkan itu, banyak teman-teman sekelas yang juga mendengarnya.
“Kapan-kapan kita ngobrol-ngobrol lagi, ya? Aku pingin banget bisa nulis cerpen seperti kamu.”
Lagi-lagi Pima hanya bisa mengangguk. Tak mampu berucap. Bahkan setelah Adit meninggalkan senyum dan berlalu dari hadapannya. Pima masih saja membeku di tempatnya.
“Duh… ada yang mukanya berubah jadi kepiting rebus, nih…” goda Ardhin yang berdiri di sebelah Tysa. Entah sejak kapan mereka ada di situ. Pima tidak menyadarinya.
Pima tersipu malu.
ooOoo
Sebuah majalah terkapar di atas meja beranda depan rumah Pima. Gadis manis itu tersenyum memungutnya. Dia selalu mendapatkan kiriman majalah itu setiap kali cerpennya dimuat di sana. Honornya lumayan. Bisa buat traktir teman-temannya.
Di kamarnya, Pima membuka-buka lembar demi lembar majalah. Sampai di rubrik Zodiak kamu. Biasanya Pima selalu melewatkan halaman itu. Tapi entah mengapa, kali itu dia tertarik membaca ramalan bintangnya. Mungkin Pima mulai ketularan kedua sahabatnya.
Asmara. Mmh… si dia sudah berani menyapa. Pelan-pelan saja. Kalo jodoh nggak bakal ke mana. Tiba-tiba Pima tersenyum.
Ups… kenapa Pima jadi terbayang-bayang wajah indonya si Adit ya? Pima buru-buru menepis bayangan itu. Istigfar tiga kali. Tapi…
nggak sukses! Wajah itu nempel seperti ketan di dinding ingatan, melekat di retina matanya. Ke manapun dia memandang, wajah Adit ada di sana, di mana-mana. Bahkan di dalam tidur pun, wajah itu seolah tak rela melepaskan Pima dari bayang-bayangnya!
Dan cerita pun mengalir seperti sungai, berembus seperti angin. Bukan sekedar sapaan dengan sedikit senyum dan basa-basi di ambang pintu kelas lagi, Pima dan Adit jadi sering terlihat bersama—meski tak pernah hanya berdua—di sudut-sudut Kampus. Selalu ada Ardhin dan Tysa, atau salah satu di antara keduanya yang menemani Pima dan Adit. Pima yang menghendaki begitu, sebab walau mulai menikmati sihir mata biru Adit yang mampu membuai siapa saja yang sengaja—maupun tak sengaja—memandangnya, seperti zat adiktif yang mampu menghadirkan halusinasi, dia tak berani sendirian berada bersama Adit. Takut tenggelam dalam pesona mata birunya yang memabukkan. Dan untungnya Adit tidak pernah merasa keberatan. Dia malah senang!
ooOoo
Jangan-jangan ramalan bintang itu benar? Jangan-jangan memang ada seseorang yang diam-diam lagi naksir aku? Jangan-jangan orang itu Adit? Jangan-jangan…
“Hayo!” kejut Ardhin yang tanpa sepengetahuan Pima sudah menelusup ke dalam kamarnya, membuat Pima terlonjak. “Lagi ngelamunin Adit, ya?”
“Idih, siapa bilang?”
“Alaaa… gak usah mungkir, deh! Muka kamu udah menjelaskan!” ledek Ardhin yang wajahnya nggak kalah keren sama artis sinetron itu.
“Ada apa dengan muka aku?” Pima meraba-raba wajahnya yang merona merah.
Ardhin mengembil cermin dan membentangkannya di hadapan Pima. “Liat aja sendiri, muka kamu udah persis seperti kepiting rebus! Masih mau membantah?”
Pima tersipu-sipu. Malu. Belakangan ini dia memang benar-benar telah menjadi tawanan bagi wajah tampan Adit. Benar-benar tak mampu melepaskan diri. Jangan-jangan si Pima sudah jatuh cinta dengan pemilik mata biru itu? Wah, bakal jadi berita yang menghebohkan, nih. Pima memang belum pernah jatuh cinta dengan cowok sebelumnya. Cinta pertama? Mungkin. Tapi, Pima masih belum yakin dengan perasaannya.
“Baca deh, Pim!” Ardhin memberikan majalah yang sudah terbuka halamannya kepada Pima. Rubrik ramalan bintang.
“Inilah saat yang paling tepat untuk menyatakan perasaanmu kepadanya,” Pima membaca ramalan asmara bintangnya.
“Tunggu apalagi?”
“Mana bisa begitu? Mana ada kamusnya cewek menyatakan cintanya lebih dulu ke cowok?! Lagipula, siapa yang suka sama Adit?”
“Huh. Masih mau ngelak. Nanti kalo keduluan orang baru tau rasa, lho!”
“Biarin!”
“Bener, nih? Nggak nyesel?”
“NO WAY!”
Ardhin hanya tersenyum mendengar jawaban dari Pima.
ooOoo
Tingginya gunung dapat di daki, luasnya gurun dapat di seberangi, dalamnya lautan dapat diselami. Tapi, siapa dapat menerka isi hati? Meski Pima berusaha mati-matian mengingkari perasaannya, dia tak sanggup menyembunyikan perasaan dari dirinya sendiri. Dia bukan saja mulai memercayai ramalan bintang di majalah. Dia bahkan mulai berharap Adit merupakan seseorang yang diam-diam menaruh hati kepadanya, seperti yang diramalkan di majalah. Sikap Adit seolah menjawab harapan Pima. Tapi, mengapa Adit belum mau juga menyatakan cintanya?
Inilah saat yang tepat untuk menyatakan perasaanmu kepadanya,
Pima teringat dengan ramalan bintang yang dibacanya di majalah beberapa waktu lalu. Tapi apa kata orang nanti kalau Aku menyatakan cinta lebih dulu ke Adit? Bisa-bisa Adit malah tidak bersimpati kepadaku, dan lari menjauh. Lagipula, bagaimana dengan kecantikan pas-pasan yang kumiliki ini? Rasanya…
Suara ponselnya berbunyi. Pima memungutnya dari meja belajar di samping ranjang tidurnya. Pangeran tampan Adit? Nama itu muncul di monitor handphone-nya. Pima tersenyum. Lalu menerima telepon itu.
“Assalamu’alaykum!”
“Wa’alaykumussalam.”
“Ada apa? Kok tumben nelepon aku, sih?”
“Mmm… begini, Pim, sebenarnya udah lama aku mau ngomong ini ke kamu. Tapi aku malu. Nggak tau harus mulai dari mana.”
“Kenapa harus malu? Emang apa sih yang mau kamu omongin?” pancing Pima.
“Ehm… k-kamu mau ngga jadi…”
“Mau! Mau!” jawab Pima spontan sebelum Adit menyelesaikan ucapannya.
“Hah? Yang bener, Pim?”
“Bener…” kali ini Pima terdengar malu-malu.
“Wah, makasih ya, Pim!” ucap Adit senang, “Udah lama aku naksir sama Dian Sastro, makasih ya kamu mau nyomblangin aku sama Dian Sastro!”
Deg!
Pima membeku. Kelu. Tak tahu harus berkata apa. Handphone-nya terjatuh.
Dia mengumpulkan semua majalah yang ada ramalan bintangnya, membuangnya ke tong sampah, dan membakarnya!
Hik… hik… hik…
taMat
Pima memang paling tidak percaya dengan yang namanya ramal meramal. Apalagi ramalan bintang. Dia suka keki kalau melihat kedua sohibnya baca majalah, pasti rubrik zodiak yang pertama kali mereka baca. Mending kalau hanya sekedar iseng-iseng saja… nggak jarang, mereka bener-benar terpengaruh dengan isi ramalan di majalah yang dibacanya.
Tysa, sobat Pima yang sebangku dengannya pernah nangis-nangis hanya gara-gara membaca isi ramalan di salah satu majalah remaja yang mengatakan, ‘Kekasihmu punya affair dengan wanita lain’. Lain lagi dengan Ardhin, sahabat Pima yang duduk di belakang bangku Pima dan Tysa itu pernah membatalkan janjinya hanya karena tak berani keluar pas tanggal 13. “Menurut ramalan di majalah, hari ini merupakan hari sial aku, Pim! Aku gak berani pergi ke mana-mana. Takut terjadi apa-apa.” Uh, nyebelin banget kan?
“Bintang kamu Aquarius kan, Pim?” tanya Ardhin di bangkunya, 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.
“He’eh,” jawab Pima tanpa menoleh. Kepalanya yang berbalut bando putih rebah di atas meja. Malas.
“Mmh…”
Pima menegakkan kepala. Menoleh ke arah Ardhin yang masih menekuni majalahnya.
“Maksudnya apa, tuh?”
“Hah?”
“Deheman kamu barusan?”
“Oh…” Ardhin tak lantas menjawab. Matanya yang jeli belum bergeming dari lembar majalah yang sedang dibacanya.
Kening Pima mengerut. Makin bingung. “Ardhin!”
“Apa honey,” jawabnya tenang.
“Kamu bemum jawab pertanyaanku barusan!”
“Yang mana?”
“Duh… kamu kok jadi pikun begini, seh?!” Pima keki, “Maksud deheman kamu barusan apa?”
Ardhin tersenyum. Sukses dia menarik perhatian sahabatnya itu. “Ini Pim, menurut ramalan bintang aquarius di majalah ini, ada seseorang yang diam-diam suka memperhatikan kamu. Yah, semacam penggemar misterius gitu kali, ya?”
“Eh, ganteng gak… ganteng gak?”
“Mmh… gak ditulis, tuh.” (tapi orangnya ganteng koq…buktinya banyak yang ngejar2 penulis cerpen ini, wekekekek)
“Yah… basi!” Pima kembali merebahkan kepalanya di meja.
Tysa muncul tiba-tiba dari balik pintu kelas. Melempar tasnya ke meja. Mengeluarkan sebuah majalah dari dalam tasnya. “Liat deh, Pim!”
“Apa?” jawabnya dengan mata yang setengah terpejam.
Tysa mengguncang-guncang tubuh Pima, sampai gadis itu membuka mata lebar.
“Uh, gangguin orang aja!”
“Ini penting, Pim. Dengar ya. ‘Asmara: Buka mata, buka telinga. Seseorang di sekitar kehidupan kamu diam-diam memendam perasaan cintanya kepada kamu’, begitu kata ramalan bintang kamu minggu ini.”
“Hah?” Ardhin merebut majalah dari tangan Tysa, “kok mirip-mirip sama ramalan di majalah yang lagi aku baca, sih?”
“Masa, sih?” Tysa mengambil majalah milik Ardhin, dan membaca ramalan bintang di dalamnya.
Ardhin dan Tysa tampak serius menekuni kalimat demi kalimat ramalan bintang aquarius di majalah. Sampai terdengar suara…
“Ggggrrrrooookkkhhhh…!” Suara dengkur si Pima yang tertidur lelap di mejanya.
Ardhin dan Tysa bertukar pandang. Melihat ke arah Pima.
“Dasar peloooorrr!”
Bel masuk berbunyi. Para siswa mulai menempati mejanya. Pima masih saja asyik mendengkur. Kegemarannya jarang mandi dan menulis cerpen sampai larut malam, membuat gadis yang punya cita-cita menjadi penulis ternama itu sering datang terlamat dan tidak boleh masuk ke kelas sebelum menyanyi dulu di depan teman-temannya, juga dia sering ketiduran di dalam kelas. Sudah lumayan banyak cerpen-cerpennya yang dimuat di majalah remaja.
Pak Parlan, guru akuntansi yang juteknya nggak ketulungan itu masuk ke dalam kelas. Emh… sepertinya sebentar lagi bakalan ada yang kena semprot, nih…
“Pimaaaaaaaaaaaaaaa…!!!”
Tuh, kan.
ooOoo
“Kayaknya si Waykit, deh.”
“Kalo menurut aku sih, si Ardi.”
“Kalo Awan gimana?”
“Atau… si Ikhsan?”
“Mmh…”
Kepala Pima mondar-mandir memandang ke arah Ardhin dan Tysa, persis orang yang sedang menonton pertandingan bulutangkis. Saat itu mereka sedang berada di kantin Kampus pas jam istirahat setalah kuliah pertama.
“Kalian pada ngomongin apaan sih?”
“Eh, menurut kamu siapa, Pim?”
“Siapa apanya?” Pima bingung ditanya begitu olah Ardhin.
“Cowok!” tukas Ardhin, “Cowok yang diem-diem naksir sama kamu!”
“Awan, Pim?” sambar Tysa, “Dia kan udah dari kelas satu naksir sama kamu.”
“Pasti Waykitl yang tampangnya kayak almarhum Munir itu ya, Pim?” Ardhin tak mau kalah, “Waykit pernah secara nggak langsung ngomong ke aku kalau dia naksir sama kamu.”
“Masa, sih?”
“Tapi aku sering memergoki si Ardi, ketua kelas kita yang jangkung itu mencuri-curi pandang ke arah kamu,” ujar Ardhin.
“Ah, gak mungkin si Ardi, dia kan udah punya Tupiq,” bantah Tysa, “Kalo Ikhsan aku percaya.“Duh… nggak ngerti, ah!” Pima segera melarikan diri meningalkan kantin yang mulai sepi ditinggalkan para mahasiswa, setelah puas mengisi perut mereka, dan kembali ke kelasnya masing-masing.
Heran, kok bisa ya ada orang yang begitu terpengaruh dengan isi ramalan di majalah? Bagaimana mungkin, individu yang berbeda dengan zodiak yang sama, memiliki peruntungan yang sama pula?! Nonsense!
“Ups!” hampir saja Pima ditabrak seseorang ketika dia hendak masuk ke kelasnya.
“S-sori?” ucap seseorang yang wajahnya sangat rupawan. Bule. Begitu anak-anak semester tiga biasa memanggilnya. Kakak kelas Pima yang jago main basket, paling ganteng dan imut satu angkatan itu punya nama asli Adit. Andromeda Aditya Octavian, lengkapnya. Tapi dia lebih senang dipanggil Aditya Nugroho, karena kesantunannya. Mamanya orang Jawa, papanya robot. (maafkan aku ayah…hiks…hiks…mengece dirimu! Jangan kutuk aku jadi malin kundang)
“Ah, gak pa-pa, kok,” ucap Pima sambil menundukkan pandangnya, takut terkena sihir mata biru Adit yang luar biasa indah. Tapi baru saja dia hendak melangkahkan kakinya, Adit kembali membuka suara.
“Hei!” ucap Adit membuat Pima urung melangkah, “Kamu Pima, kan? Yang cerpennya suka dimuat di majalah remaja?”
Pima mengangguk. Takjub. Kali ini dia tak berhasil menghindari mata biru Adit. Dan dari gelagat Pima, terlihat kalau dia begitu terpana dengan mata adit yang begitu memikat.
“Wah… aku suka baca cerpen-cerpen kamu, lho… keren! Eh, ternyata kamunya juga keren! Kalo ibarat kamu naik mobil BMW, klop luar dalem sama2 keren!”
Pima melambung. Siapa yang tidak? Dipuji cowok sekeren Adit, jelas bisa menaikan pasaran. Apalagi waktu Adit mengucapkan itu, banyak teman-teman sekelas yang juga mendengarnya.
“Kapan-kapan kita ngobrol-ngobrol lagi, ya? Aku pingin banget bisa nulis cerpen seperti kamu.”
Lagi-lagi Pima hanya bisa mengangguk. Tak mampu berucap. Bahkan setelah Adit meninggalkan senyum dan berlalu dari hadapannya. Pima masih saja membeku di tempatnya.
“Duh… ada yang mukanya berubah jadi kepiting rebus, nih…” goda Ardhin yang berdiri di sebelah Tysa. Entah sejak kapan mereka ada di situ. Pima tidak menyadarinya.
Pima tersipu malu.
ooOoo
Sebuah majalah terkapar di atas meja beranda depan rumah Pima. Gadis manis itu tersenyum memungutnya. Dia selalu mendapatkan kiriman majalah itu setiap kali cerpennya dimuat di sana. Honornya lumayan. Bisa buat traktir teman-temannya.
Di kamarnya, Pima membuka-buka lembar demi lembar majalah. Sampai di rubrik Zodiak kamu. Biasanya Pima selalu melewatkan halaman itu. Tapi entah mengapa, kali itu dia tertarik membaca ramalan bintangnya. Mungkin Pima mulai ketularan kedua sahabatnya.
Asmara. Mmh… si dia sudah berani menyapa. Pelan-pelan saja. Kalo jodoh nggak bakal ke mana. Tiba-tiba Pima tersenyum.
Ups… kenapa Pima jadi terbayang-bayang wajah indonya si Adit ya? Pima buru-buru menepis bayangan itu. Istigfar tiga kali. Tapi…
nggak sukses! Wajah itu nempel seperti ketan di dinding ingatan, melekat di retina matanya. Ke manapun dia memandang, wajah Adit ada di sana, di mana-mana. Bahkan di dalam tidur pun, wajah itu seolah tak rela melepaskan Pima dari bayang-bayangnya!
Dan cerita pun mengalir seperti sungai, berembus seperti angin. Bukan sekedar sapaan dengan sedikit senyum dan basa-basi di ambang pintu kelas lagi, Pima dan Adit jadi sering terlihat bersama—meski tak pernah hanya berdua—di sudut-sudut Kampus. Selalu ada Ardhin dan Tysa, atau salah satu di antara keduanya yang menemani Pima dan Adit. Pima yang menghendaki begitu, sebab walau mulai menikmati sihir mata biru Adit yang mampu membuai siapa saja yang sengaja—maupun tak sengaja—memandangnya, seperti zat adiktif yang mampu menghadirkan halusinasi, dia tak berani sendirian berada bersama Adit. Takut tenggelam dalam pesona mata birunya yang memabukkan. Dan untungnya Adit tidak pernah merasa keberatan. Dia malah senang!
ooOoo
Jangan-jangan ramalan bintang itu benar? Jangan-jangan memang ada seseorang yang diam-diam lagi naksir aku? Jangan-jangan orang itu Adit? Jangan-jangan…
“Hayo!” kejut Ardhin yang tanpa sepengetahuan Pima sudah menelusup ke dalam kamarnya, membuat Pima terlonjak. “Lagi ngelamunin Adit, ya?”
“Idih, siapa bilang?”
“Alaaa… gak usah mungkir, deh! Muka kamu udah menjelaskan!” ledek Ardhin yang wajahnya nggak kalah keren sama artis sinetron itu.
“Ada apa dengan muka aku?” Pima meraba-raba wajahnya yang merona merah.
Ardhin mengembil cermin dan membentangkannya di hadapan Pima. “Liat aja sendiri, muka kamu udah persis seperti kepiting rebus! Masih mau membantah?”
Pima tersipu-sipu. Malu. Belakangan ini dia memang benar-benar telah menjadi tawanan bagi wajah tampan Adit. Benar-benar tak mampu melepaskan diri. Jangan-jangan si Pima sudah jatuh cinta dengan pemilik mata biru itu? Wah, bakal jadi berita yang menghebohkan, nih. Pima memang belum pernah jatuh cinta dengan cowok sebelumnya. Cinta pertama? Mungkin. Tapi, Pima masih belum yakin dengan perasaannya.
“Baca deh, Pim!” Ardhin memberikan majalah yang sudah terbuka halamannya kepada Pima. Rubrik ramalan bintang.
“Inilah saat yang paling tepat untuk menyatakan perasaanmu kepadanya,” Pima membaca ramalan asmara bintangnya.
“Tunggu apalagi?”
“Mana bisa begitu? Mana ada kamusnya cewek menyatakan cintanya lebih dulu ke cowok?! Lagipula, siapa yang suka sama Adit?”
“Huh. Masih mau ngelak. Nanti kalo keduluan orang baru tau rasa, lho!”
“Biarin!”
“Bener, nih? Nggak nyesel?”
“NO WAY!”
Ardhin hanya tersenyum mendengar jawaban dari Pima.
ooOoo
Tingginya gunung dapat di daki, luasnya gurun dapat di seberangi, dalamnya lautan dapat diselami. Tapi, siapa dapat menerka isi hati? Meski Pima berusaha mati-matian mengingkari perasaannya, dia tak sanggup menyembunyikan perasaan dari dirinya sendiri. Dia bukan saja mulai memercayai ramalan bintang di majalah. Dia bahkan mulai berharap Adit merupakan seseorang yang diam-diam menaruh hati kepadanya, seperti yang diramalkan di majalah. Sikap Adit seolah menjawab harapan Pima. Tapi, mengapa Adit belum mau juga menyatakan cintanya?
Inilah saat yang tepat untuk menyatakan perasaanmu kepadanya,
Pima teringat dengan ramalan bintang yang dibacanya di majalah beberapa waktu lalu. Tapi apa kata orang nanti kalau Aku menyatakan cinta lebih dulu ke Adit? Bisa-bisa Adit malah tidak bersimpati kepadaku, dan lari menjauh. Lagipula, bagaimana dengan kecantikan pas-pasan yang kumiliki ini? Rasanya…
Suara ponselnya berbunyi. Pima memungutnya dari meja belajar di samping ranjang tidurnya. Pangeran tampan Adit? Nama itu muncul di monitor handphone-nya. Pima tersenyum. Lalu menerima telepon itu.
“Assalamu’alaykum!”
“Wa’alaykumussalam.”
“Ada apa? Kok tumben nelepon aku, sih?”
“Mmm… begini, Pim, sebenarnya udah lama aku mau ngomong ini ke kamu. Tapi aku malu. Nggak tau harus mulai dari mana.”
“Kenapa harus malu? Emang apa sih yang mau kamu omongin?” pancing Pima.
“Ehm… k-kamu mau ngga jadi…”
“Mau! Mau!” jawab Pima spontan sebelum Adit menyelesaikan ucapannya.
“Hah? Yang bener, Pim?”
“Bener…” kali ini Pima terdengar malu-malu.
“Wah, makasih ya, Pim!” ucap Adit senang, “Udah lama aku naksir sama Dian Sastro, makasih ya kamu mau nyomblangin aku sama Dian Sastro!”
Deg!
Pima membeku. Kelu. Tak tahu harus berkata apa. Handphone-nya terjatuh.
Dia mengumpulkan semua majalah yang ada ramalan bintangnya, membuangnya ke tong sampah, dan membakarnya!
Hik… hik… hik…
taMat
Ravik, Pima dan Aku
“Hai, Dit! Kamu ada minat ikut tour tidak?” Tanya Ravik ketika ketemu aku di toko buku.
Aku tak segera menjawab, dan pura-pura sibuk saja mencari sebuah buku yang lupa aku judulnya.
“Kamu tuli ya?” bentaknya tanpa tedeng aling-aling.
Aku senyum-senyum. Untung saja keadaan di toko itu agak sepi. Lalu, tanpa
kuduga, tiba-tiba sebuah cubitan mendarat dilenganku. Aku meringis.
“Sakit tidak?” tanyanya membuatku keki.
“Kamu kejam, ah!”
“Habis, kamu sombong betul!”
“Bukan sombong, tapi kepalaku sedang pusing.”
Ravik mencibir. Dan aku kembali seperti semula, mencari buku yang aku
butuhkan.
“Bagaimana, kamu mau ikut tidak?” Ravik mengulangi pertanyaannya.
“Entahlah, aku pikir-pikir dulu,” sahutku malas-malasan.
Ravik menatapku sejenak. Secepat kilat aku menyembunyikan wajah di balik buku
yang tengah kupegang.
“Lho, kok jadi begitu? Biasanya kalau sanggar kita mengadakan piknik, kamu
selalu bersemangat. Tapi sekarang, mengapa loyo, seperti orang yang sedang frustasi?” Aku membungkam. Kamu tidak tahu apa yang telah terjadi pada diriku. Dan hal
ini memang sengaja tak aku ceritakan kepada Ravik. Kalau aku ceritakan, bisa-bisa
seluruh warga sanggar akan ramai oleh ocehan teman-teman yang akan menambah parah
saja. Hal itulah yang amat kutakuti. Maka jalan yang paling baik, adalah menguburnya dalam-dalam.
“Kamu lagi baca apa sih, kayaknya asyik betul?” suara Ravik memecahkan kebisuanku. Aku jatuhkan buku dan menatapnya lekat-lekat.
“Jangan melihat aku seperti itu. Aku paling tak suka! Katanya.
“Memang kenapa?”
“Tak usah Tanya!” Ravik nampak sewot. Aku tertawa kecil.
“Uh! Malah tertawa!” katanya.
“Apa?” aku pura-pura tarik urat. Padahal aku tahu, matanya menyimpan suatu
rahasia. Namun aku tak mau mengatakannya terus terang, lantaran ia seorang gadis yang memiliki perasaan halus. Kini wajahnya ditekuk. Masam. Melihat hal itu, akhirnya aku kasihan juga. Karena biar bagaimanapun dia adalah temanku. Dengan hati-hati aku mendekatinya.
“Kamu marah ya, Ravik?”
Ia tak menjawab. Digratiskannya kata-kataku itu sambil membuang muka. Bah,
repot! Ketika aku sadar, ternyata berpasang-pasang mata pada menonton kami. Tanpa memikirkan kedongkolan Ravik lebih lanjut, dengan akrab kucekal tangannya erat-erat.
“Yuk, kita pulang!: ajakku.
Sesaat ia memandangku, kemudian mengganguk.
***
Aku tengah mengetik sebuah cerpen, ketika tiba-tiba bel di rumahku berbunyi
nyaring. Serta merta aku memburu ke pintu depan.
“Hallo!” sapa Ravik ketika pintu terbuka lebar.
“hallo, hallo!” sambutku sedikit bergurau.
Tanpa menunggu perintah, kontan saja ia masuk. Hal seperti ini memang sudah
menjadi kebiasaannya. Sikapnya yang bersahabat kadang-kadang membikin letup-letup aneh di sudut sanubariku. Dan terkadang pula aku merasakan kesejukan dalam jiwaku, apabila ia memberi seulas senyum manis plus membagi kedipan mata yang sukar bagiku untuk melukiskannya dengan kata-kata.
“Kok, tumben kamu ada dirumah?” tanyanya membuat aku setengah terkejut. Aku tersenyum getir.
“Memang tak boleh kalau aku di rumah?”
“Boleh-boleh saja, tapi ini kan malam Minggu. Tak lucu kan mengurung diri di
rumah?”
Hmm, bagiku ini tak ada istilah malam minggu. Semua malam kuanggap sama
saja.”
“Ah, kenapa begitu?”
Dan aku pun tak mampu menjawabnya. Yang dapat kulakukan hanya membisu.
Lalu Ravik pun melakukan hal yang serupa. Hening. Terlintas kembali sebuah pukulan
yang membuat batinku remuk. Betapa tidak, persis di depan mataku, Pima, pacarku jalan bergandengan dengan cowok lain, begitu mesra. Hingga detik ini rasa sakit masih membekas dalam diriku. Kalau saja saat itu aku tidak berpikir panjang, puih, entah apa
yang bakal terjadi. Kemungkinan besar cowok itu telah kuhajar habis-habisan. Seketika
itu pula kepercayaan yang kutanamkan pada Pima, lenyap. Dan kesetiaan yang pernah ia beberkan kepadaku ternyata bohong belaka. Memang tak salah apa yang sering kudengar dari mbak Surim eh Mbak Sirum eh Mbak Arum maksudnya, bendahara sanggar, bahwa mengatakan setia itu mudah, namun yang sulit untuk membuktikan dan mempertahankannya.
Maka jangan menyalahkan aku, jika malam Minggu ini aku tak mengapeli Pima lagi. Aku rasa, siapapun orangnya, bila mengalami hal seperti aku pasti tidak tinggal
diam. Setidak-tidaknya, ingin pula membalasnya. Dan secara diam-diam aku pun sedang menyusun rencana untuk bisa melabraknya. Akan tetapi bukan sekarang. Terus terang,
sebetulnya aku tak ingin masalah ini berkepanjangan. Sungguh!
“Kamu sedang marahan sama Pima ya Dit?” suara Ravik mengejutkan dan
menerbangkan lamunanku.
“Hmm,” Aku mengangkat muka. “Tidak,” gelengku perlahan.
“Ah, masak! Buktinya kamu tidak mengunjunginya malam ini.”
“Ya, ampun! Mengapa Ravik tiba-tiba berkata demikian? Apakah ia dapat meraba
lewat sikapku yang belakangan ini berubah secara drastis? Yang membuat hari-hari lalu penuh bunga habis terkikis oleh hantaman ombak yang datang bergulung-gulung? Yang kemudian melemparku dalam kekecewaan yang amat sangat.
Sejenak kupandang Ravik, lalu tanpa mengeluarkan suara secuilpun aku
melangkahkan kaki menuju ke teras depan. Perlahan kudongakkan wajah kelangit, di sana rembulan bersinar cukup terang. Amboi, alangkah indahnya malam ini. Aku
menarik nafas dalam-dalam. Mendadak keinginanku untuk menggapai rembulan muncul. Tapi mampukah aku?
“Dit, aku tidak percaya kalau di antara kamu dan Pima tidak terjadi apa-apa. Aku jadi ingin tahu, apa sih sebabnya? Jika kamu tak keberatan, coba ceritakan kepadaku.
Siapa tahu aku dapat membantumu,” pinta Ravik tiba-tiba, setelah berada di samping kananku.
Aku hanya menoleh dan menatapnya penuh tanda tanya.
“Hei, Dit, untuk apa suatu masalah di sembunyikan? Terlebih lagi terhadap aku,
teman lengketmu. Dan perlu kamu camkan kata-kataku ini,“
Ia menarik tanganku dan mengajakku duduk di kursi kecil yang letaknya agak di pojok.
“Semakin dalam kamu memendam persoalan, semakin berat pula bebanmu. Dan hal itu akan membuatmu selalu gelisah. Akibatnya, tentu saja kamu sendiri yang menyesal,” lanjutnya mengandung nasehat.
Untuk beberapa saat aku terdiam. Betulkah apa yang baru saja dikatakan Ravik?
“Sorry Dit, aku tidak bermaksud mengguruimu. Tapi, aku ingin membantu dan sekaligus melibatkan diri dengan permasalahanmu itu. Terus terang, Dit aku paling tak
bisa melihat seorang teman kehilangan gairah hanya karena ulah cewek,” katanya ketika dilihatnya aku mematung.
“Tapi, tapi, ah tidak…”
“Tapi apa Dit? Jangan pendam perasaanmu terus-menerus seperti itu,” katanya.
Aku mendongak. Entah apa yang harus kukatakan pada saat pikiranku buntu ini.
“Percayalah, aku akan membantumu,” bujuknya lembut.
Bagai disiram air es, sekujur tubuhku terasa dingin. Dan entah mengapa, tiba-tiba saja aku jadi segar kembali seperti telah terlepas dari siksaan yang sangat pedih.
“Kamu serius?” tanyaku akhirnya.
Ia mengangguk penuh kesungguhan.
Lantas aku menceritakan persoalan yang sebenarnya. Dengan tekun Ravik mendengarkannya, sambil sesekali manggut-manggut.
“Nah itulah, Vik, mengapa malam Minggu yang indah ini aku mengurung diri di rumah,” kataku menutup cerita pahit.
“Oooo. Kalau begitu terkaanku tak meleset dong! Tapi jangan kuatir, Dit, aku akan membereskannya, katanya.
Aku tersenyum, meski hati kecilku masih ragu akan kemampuan Ravik.
“Bagaimana? Kamu percaya denganku?”
Setengah terpaksa aku mengangguk.
“Oke, sekarang juga aku harus kerumahnya!” katanya antusias.
Sebenarnya aku melihat jam yang menempel di tembok. Tepat pukul sembilan
belas. Tak mengapa memang, karena Ravik kan bawa mobil sendiri. Dan lagi, bukan baru
sekarang ia keluar malam.
“Tidak takut, Vik?” tanyaku ketika ia mengeluarkan kunci kontak dari saku
celana jeans-nya.
“Alaa, kayak baru kenal aku saja!”
Sekejap mata ia telah menghilang dari hadapanku. Tinggal aku seorang diri.
Setelah menenangkan pikiran beberapa menit, aku bergegas kekamar untuk melanjutkan
cerpenku yang tadi tertunda. Untunglah tinggal menyelesaikan endingnya saja, jadi tidak terlalu memakan waktu. Sambil mengetik, sesekali kupandang potret Pima yang tengah tersenyum. Untuk kesekian kalinya aku teringat hari-hari manis bersamanya. Ah,
mengapa kisah manis itu tiba-tiba terputus, padahal aku telah berjanji untuk tetap bersatu
dengannya? Mengapa pula dengan tiba-tiba kemarau itu datang membikin tubuhku kering dan jatuh seakan tak berdaya? Namun di atas kesadaranku, aku berpikir, bahwa tak selamanya kemarau itu akan berlangsung. Di suatu saat nanti pasti dia akan sirna, lalu berganti dengan musim dingin.
***
Minggu sore, suasana di rumahku sepi. Papa dan mama sedang arisan keluarga. Ini suatu kebetulan, karena aku merasa bebas untuk melakukan kegemaranku. Setelah beberapa lama aku mengaduk-aduk tumpukan cd lagu-lagu house music, akhirnya pilihanku jatuh pada cd tanpa kotak pembungkus.
Lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba daun pintu diketuk orang. Semula aku
membiarkannya, sebab kupikir di sana toh ada bel yang selalu siap di pencet. Aku tetap meneruskan keasikanku, tanpa memperdulikan orang yang mengetuk pintu depan berkali- kali itu.
“Dit! Buka pintu!” seseorang berteriak di luar.
Dengan enggan kuseret sandal yang mengganggur di kolong kursi panjang. Aku terkejut bukan kepalang, begitu pintu kubuka. Dua gadis sama cantiknya berdiri di hadapanku. Mimpikah aku?
“Hai, kok bingung!” bentak Ravik.
“Sedang memikirkan pacar baru barangkali,” sindir Pima sambil melempar pandangan kearah Ravik.
Aku tak bersuara, hanya mataku saja yang menatap dengan tajam. Apa maksudnya datang-datang berkata begitu? Apa dia kira aku ini patung, hingga dengan
mudah ia menumpahkan kesalahannya padaku? Sebenarnya akulah yang pantas berkata begitu. Puih! Dasar cewek, inginnya menang sendiri, gumamku dalam hati.
“Boleh masuk?” Tanya Pima kemudian.
“Silahkan,” perintahku sambil menghilangkan rasa dongkol.
“Terima kasih,” katanya lembut.
Sambil tersenyum-senyum lucu Ravik menguntitnya dari belakang. Aku cengar-
cengir melihat tingkah Ravik. Menurutku ia memang lincah, bila dibandingkan dengan
Indah. Tapi, ah, sudahlah.
“Dit,aku ke belakang dulu ya!” kata Ravik seperti memberi peluang pada kami.
“Ya,” sahutku pendek.
Di hadapan Pima, aku seperti berhadapan dengan orang yang belum kukenal. Tingkahku benar-benar kaku. Aneh!
“Dit, kenapa diam? Kamu sakit ya?” tanyanya.
Aku mengangkat bahu. Ya, aku sakit, tapi bukan tubuhku. Melainkan hatiku yang
sakit, bahkan remuk, sahut hatiku.
“Kalau kamu enggan menimpali pembicaraanku lebih baik aku pulang!” katanya
seraya bangkit dari duduknya.
“Tung… tunggu dulu, aku ingin bicara serius!” cegahku sambil memegang
pergelangan tangannya erat-erat.
“Soal apa?” tanyanya sambil duduk kembali.
“Soal kita!”
“O, kalau Cuma itu aku sudah tahu. Itulah makanya aku datang ke sini dan ingin menjelaskan persoalan yang sebenarnya.”
“Maksudmu?” tanyaku pura-pura bodoh.
“Kamu menuduhku pacaran dengan orang lain kan?” semburnya tepat mengenai
ulu hatiku.
“Tapi memang kenyataan kan?”
“Siapa bilang?” tanyanya melotot.
“Mataku yang bilang!” sahutku keras, tak mau kalah.
Ia menghujamku dengan sorotan mata ganas.
“Kapan?” ia berdiri dan bertolak pinggang.
“Dua minggu yang lalu, kamu berjalan dan bergandengan tangan dengan cowok
lain!”
Ia tertawa kuda sinting. Aku menatapnya dengan emosi yang bergemuruh dalam dada.
Keterlaluan! Rupanya ia masih belum puas menyakiti hatiku.
“Kamu keliru, Dit, cowok itu kan,,,” ia memutuskan kalimatnya.
“Pacarmu! Semprotku dengan emosi meledak.
“Bukan!” tangkisnya cepat. “Dia adalah calon kakakku!”
“Ah!” aku terkejut dan membelalakkan mata lebar-lebar.
“Ja… jadi….,” lidahku terasa kelu, sukar untuk melanjutkan kata-kata.
Ia tersenyum dan memandangi wajahku tanpa berkedip. Seperti anak kecil, aku
menunduk, tapi tak lama. Kini kami bertatapan. Lewat sinar matanya aku dapat merasakan sentuhan lembut yang membuat hatiku sejuk bagai di hembus banyu pegunungan. Dengan begitu, harapanku untuk bersatu kembali dengan Pima hampir menemui titik terang.
Aku menyadari sepenuhnya, bahwa hidup tanpa memiliki cinta dan perasaan di cintai betapa hampa. Aku tak ingin hidupku macam itu. Sungguh, aku tak sanggup untuk membiarkan hari-hari mengalir begitu saja. Mungkin hal itulah yangmembuatku terlalu sering dihantui kecurigaan dan digelayuti oleh perasaan cemburu yang sangat besar. Ini semua karena aku amat takut kehilangan dirinya.
“Melamun?” tegurnya hampir menyerupai bisikan.
Aku sedikit tergagap.
“Kelihatannya kamu bingung.”
Sambil menenangkan diri aku menyandarkan punggung di kursi.
“O, ya, bagaimana? Apa kita tunda dulu masalah kita?” tanyanya.
Buru-buru aku mengembalikan posisi duduk agar maju kedepan.
“Jangan Pim, sebaiknya kita teruskan saja hingga tuntas!”
Ia mengangguk tanda setuju.
“Jadi cowok itu sebenarnyasiapa?” tanyaku mendadak jadi tenang.
“Dia cowok Tia. Saudaraku yang di Surabaya.”
“Oooo,” aku terpana dan kemudian jadi tesipu-sipu.
“Maafkan aku Pima,” kataku.
Ia menggigit bibir bawahnya. Dengan pikiran melayang, aku menunggu
jawabannya.
Tak lama kemudian, ia mengangguk dan mengukir senyum yang teramat manis.
Perlahan aku mendekatinya. Dan dengan lembut kukecup keningnya. Seketika sirna segala duka. Aku membayangkan, hari-hari yang akan datang begitu ceria kami jalani.
Aku tak segera menjawab, dan pura-pura sibuk saja mencari sebuah buku yang lupa aku judulnya.
“Kamu tuli ya?” bentaknya tanpa tedeng aling-aling.
Aku senyum-senyum. Untung saja keadaan di toko itu agak sepi. Lalu, tanpa
kuduga, tiba-tiba sebuah cubitan mendarat dilenganku. Aku meringis.
“Sakit tidak?” tanyanya membuatku keki.
“Kamu kejam, ah!”
“Habis, kamu sombong betul!”
“Bukan sombong, tapi kepalaku sedang pusing.”
Ravik mencibir. Dan aku kembali seperti semula, mencari buku yang aku
butuhkan.
“Bagaimana, kamu mau ikut tidak?” Ravik mengulangi pertanyaannya.
“Entahlah, aku pikir-pikir dulu,” sahutku malas-malasan.
Ravik menatapku sejenak. Secepat kilat aku menyembunyikan wajah di balik buku
yang tengah kupegang.
“Lho, kok jadi begitu? Biasanya kalau sanggar kita mengadakan piknik, kamu
selalu bersemangat. Tapi sekarang, mengapa loyo, seperti orang yang sedang frustasi?” Aku membungkam. Kamu tidak tahu apa yang telah terjadi pada diriku. Dan hal
ini memang sengaja tak aku ceritakan kepada Ravik. Kalau aku ceritakan, bisa-bisa
seluruh warga sanggar akan ramai oleh ocehan teman-teman yang akan menambah parah
saja. Hal itulah yang amat kutakuti. Maka jalan yang paling baik, adalah menguburnya dalam-dalam.
“Kamu lagi baca apa sih, kayaknya asyik betul?” suara Ravik memecahkan kebisuanku. Aku jatuhkan buku dan menatapnya lekat-lekat.
“Jangan melihat aku seperti itu. Aku paling tak suka! Katanya.
“Memang kenapa?”
“Tak usah Tanya!” Ravik nampak sewot. Aku tertawa kecil.
“Uh! Malah tertawa!” katanya.
“Apa?” aku pura-pura tarik urat. Padahal aku tahu, matanya menyimpan suatu
rahasia. Namun aku tak mau mengatakannya terus terang, lantaran ia seorang gadis yang memiliki perasaan halus. Kini wajahnya ditekuk. Masam. Melihat hal itu, akhirnya aku kasihan juga. Karena biar bagaimanapun dia adalah temanku. Dengan hati-hati aku mendekatinya.
“Kamu marah ya, Ravik?”
Ia tak menjawab. Digratiskannya kata-kataku itu sambil membuang muka. Bah,
repot! Ketika aku sadar, ternyata berpasang-pasang mata pada menonton kami. Tanpa memikirkan kedongkolan Ravik lebih lanjut, dengan akrab kucekal tangannya erat-erat.
“Yuk, kita pulang!: ajakku.
Sesaat ia memandangku, kemudian mengganguk.
***
Aku tengah mengetik sebuah cerpen, ketika tiba-tiba bel di rumahku berbunyi
nyaring. Serta merta aku memburu ke pintu depan.
“Hallo!” sapa Ravik ketika pintu terbuka lebar.
“hallo, hallo!” sambutku sedikit bergurau.
Tanpa menunggu perintah, kontan saja ia masuk. Hal seperti ini memang sudah
menjadi kebiasaannya. Sikapnya yang bersahabat kadang-kadang membikin letup-letup aneh di sudut sanubariku. Dan terkadang pula aku merasakan kesejukan dalam jiwaku, apabila ia memberi seulas senyum manis plus membagi kedipan mata yang sukar bagiku untuk melukiskannya dengan kata-kata.
“Kok, tumben kamu ada dirumah?” tanyanya membuat aku setengah terkejut. Aku tersenyum getir.
“Memang tak boleh kalau aku di rumah?”
“Boleh-boleh saja, tapi ini kan malam Minggu. Tak lucu kan mengurung diri di
rumah?”
Hmm, bagiku ini tak ada istilah malam minggu. Semua malam kuanggap sama
saja.”
“Ah, kenapa begitu?”
Dan aku pun tak mampu menjawabnya. Yang dapat kulakukan hanya membisu.
Lalu Ravik pun melakukan hal yang serupa. Hening. Terlintas kembali sebuah pukulan
yang membuat batinku remuk. Betapa tidak, persis di depan mataku, Pima, pacarku jalan bergandengan dengan cowok lain, begitu mesra. Hingga detik ini rasa sakit masih membekas dalam diriku. Kalau saja saat itu aku tidak berpikir panjang, puih, entah apa
yang bakal terjadi. Kemungkinan besar cowok itu telah kuhajar habis-habisan. Seketika
itu pula kepercayaan yang kutanamkan pada Pima, lenyap. Dan kesetiaan yang pernah ia beberkan kepadaku ternyata bohong belaka. Memang tak salah apa yang sering kudengar dari mbak Surim eh Mbak Sirum eh Mbak Arum maksudnya, bendahara sanggar, bahwa mengatakan setia itu mudah, namun yang sulit untuk membuktikan dan mempertahankannya.
Maka jangan menyalahkan aku, jika malam Minggu ini aku tak mengapeli Pima lagi. Aku rasa, siapapun orangnya, bila mengalami hal seperti aku pasti tidak tinggal
diam. Setidak-tidaknya, ingin pula membalasnya. Dan secara diam-diam aku pun sedang menyusun rencana untuk bisa melabraknya. Akan tetapi bukan sekarang. Terus terang,
sebetulnya aku tak ingin masalah ini berkepanjangan. Sungguh!
“Kamu sedang marahan sama Pima ya Dit?” suara Ravik mengejutkan dan
menerbangkan lamunanku.
“Hmm,” Aku mengangkat muka. “Tidak,” gelengku perlahan.
“Ah, masak! Buktinya kamu tidak mengunjunginya malam ini.”
“Ya, ampun! Mengapa Ravik tiba-tiba berkata demikian? Apakah ia dapat meraba
lewat sikapku yang belakangan ini berubah secara drastis? Yang membuat hari-hari lalu penuh bunga habis terkikis oleh hantaman ombak yang datang bergulung-gulung? Yang kemudian melemparku dalam kekecewaan yang amat sangat.
Sejenak kupandang Ravik, lalu tanpa mengeluarkan suara secuilpun aku
melangkahkan kaki menuju ke teras depan. Perlahan kudongakkan wajah kelangit, di sana rembulan bersinar cukup terang. Amboi, alangkah indahnya malam ini. Aku
menarik nafas dalam-dalam. Mendadak keinginanku untuk menggapai rembulan muncul. Tapi mampukah aku?
“Dit, aku tidak percaya kalau di antara kamu dan Pima tidak terjadi apa-apa. Aku jadi ingin tahu, apa sih sebabnya? Jika kamu tak keberatan, coba ceritakan kepadaku.
Siapa tahu aku dapat membantumu,” pinta Ravik tiba-tiba, setelah berada di samping kananku.
Aku hanya menoleh dan menatapnya penuh tanda tanya.
“Hei, Dit, untuk apa suatu masalah di sembunyikan? Terlebih lagi terhadap aku,
teman lengketmu. Dan perlu kamu camkan kata-kataku ini,“
Ia menarik tanganku dan mengajakku duduk di kursi kecil yang letaknya agak di pojok.
“Semakin dalam kamu memendam persoalan, semakin berat pula bebanmu. Dan hal itu akan membuatmu selalu gelisah. Akibatnya, tentu saja kamu sendiri yang menyesal,” lanjutnya mengandung nasehat.
Untuk beberapa saat aku terdiam. Betulkah apa yang baru saja dikatakan Ravik?
“Sorry Dit, aku tidak bermaksud mengguruimu. Tapi, aku ingin membantu dan sekaligus melibatkan diri dengan permasalahanmu itu. Terus terang, Dit aku paling tak
bisa melihat seorang teman kehilangan gairah hanya karena ulah cewek,” katanya ketika dilihatnya aku mematung.
“Tapi, tapi, ah tidak…”
“Tapi apa Dit? Jangan pendam perasaanmu terus-menerus seperti itu,” katanya.
Aku mendongak. Entah apa yang harus kukatakan pada saat pikiranku buntu ini.
“Percayalah, aku akan membantumu,” bujuknya lembut.
Bagai disiram air es, sekujur tubuhku terasa dingin. Dan entah mengapa, tiba-tiba saja aku jadi segar kembali seperti telah terlepas dari siksaan yang sangat pedih.
“Kamu serius?” tanyaku akhirnya.
Ia mengangguk penuh kesungguhan.
Lantas aku menceritakan persoalan yang sebenarnya. Dengan tekun Ravik mendengarkannya, sambil sesekali manggut-manggut.
“Nah itulah, Vik, mengapa malam Minggu yang indah ini aku mengurung diri di rumah,” kataku menutup cerita pahit.
“Oooo. Kalau begitu terkaanku tak meleset dong! Tapi jangan kuatir, Dit, aku akan membereskannya, katanya.
Aku tersenyum, meski hati kecilku masih ragu akan kemampuan Ravik.
“Bagaimana? Kamu percaya denganku?”
Setengah terpaksa aku mengangguk.
“Oke, sekarang juga aku harus kerumahnya!” katanya antusias.
Sebenarnya aku melihat jam yang menempel di tembok. Tepat pukul sembilan
belas. Tak mengapa memang, karena Ravik kan bawa mobil sendiri. Dan lagi, bukan baru
sekarang ia keluar malam.
“Tidak takut, Vik?” tanyaku ketika ia mengeluarkan kunci kontak dari saku
celana jeans-nya.
“Alaa, kayak baru kenal aku saja!”
Sekejap mata ia telah menghilang dari hadapanku. Tinggal aku seorang diri.
Setelah menenangkan pikiran beberapa menit, aku bergegas kekamar untuk melanjutkan
cerpenku yang tadi tertunda. Untunglah tinggal menyelesaikan endingnya saja, jadi tidak terlalu memakan waktu. Sambil mengetik, sesekali kupandang potret Pima yang tengah tersenyum. Untuk kesekian kalinya aku teringat hari-hari manis bersamanya. Ah,
mengapa kisah manis itu tiba-tiba terputus, padahal aku telah berjanji untuk tetap bersatu
dengannya? Mengapa pula dengan tiba-tiba kemarau itu datang membikin tubuhku kering dan jatuh seakan tak berdaya? Namun di atas kesadaranku, aku berpikir, bahwa tak selamanya kemarau itu akan berlangsung. Di suatu saat nanti pasti dia akan sirna, lalu berganti dengan musim dingin.
***
Minggu sore, suasana di rumahku sepi. Papa dan mama sedang arisan keluarga. Ini suatu kebetulan, karena aku merasa bebas untuk melakukan kegemaranku. Setelah beberapa lama aku mengaduk-aduk tumpukan cd lagu-lagu house music, akhirnya pilihanku jatuh pada cd tanpa kotak pembungkus.
Lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba daun pintu diketuk orang. Semula aku
membiarkannya, sebab kupikir di sana toh ada bel yang selalu siap di pencet. Aku tetap meneruskan keasikanku, tanpa memperdulikan orang yang mengetuk pintu depan berkali- kali itu.
“Dit! Buka pintu!” seseorang berteriak di luar.
Dengan enggan kuseret sandal yang mengganggur di kolong kursi panjang. Aku terkejut bukan kepalang, begitu pintu kubuka. Dua gadis sama cantiknya berdiri di hadapanku. Mimpikah aku?
“Hai, kok bingung!” bentak Ravik.
“Sedang memikirkan pacar baru barangkali,” sindir Pima sambil melempar pandangan kearah Ravik.
Aku tak bersuara, hanya mataku saja yang menatap dengan tajam. Apa maksudnya datang-datang berkata begitu? Apa dia kira aku ini patung, hingga dengan
mudah ia menumpahkan kesalahannya padaku? Sebenarnya akulah yang pantas berkata begitu. Puih! Dasar cewek, inginnya menang sendiri, gumamku dalam hati.
“Boleh masuk?” Tanya Pima kemudian.
“Silahkan,” perintahku sambil menghilangkan rasa dongkol.
“Terima kasih,” katanya lembut.
Sambil tersenyum-senyum lucu Ravik menguntitnya dari belakang. Aku cengar-
cengir melihat tingkah Ravik. Menurutku ia memang lincah, bila dibandingkan dengan
Indah. Tapi, ah, sudahlah.
“Dit,aku ke belakang dulu ya!” kata Ravik seperti memberi peluang pada kami.
“Ya,” sahutku pendek.
Di hadapan Pima, aku seperti berhadapan dengan orang yang belum kukenal. Tingkahku benar-benar kaku. Aneh!
“Dit, kenapa diam? Kamu sakit ya?” tanyanya.
Aku mengangkat bahu. Ya, aku sakit, tapi bukan tubuhku. Melainkan hatiku yang
sakit, bahkan remuk, sahut hatiku.
“Kalau kamu enggan menimpali pembicaraanku lebih baik aku pulang!” katanya
seraya bangkit dari duduknya.
“Tung… tunggu dulu, aku ingin bicara serius!” cegahku sambil memegang
pergelangan tangannya erat-erat.
“Soal apa?” tanyanya sambil duduk kembali.
“Soal kita!”
“O, kalau Cuma itu aku sudah tahu. Itulah makanya aku datang ke sini dan ingin menjelaskan persoalan yang sebenarnya.”
“Maksudmu?” tanyaku pura-pura bodoh.
“Kamu menuduhku pacaran dengan orang lain kan?” semburnya tepat mengenai
ulu hatiku.
“Tapi memang kenyataan kan?”
“Siapa bilang?” tanyanya melotot.
“Mataku yang bilang!” sahutku keras, tak mau kalah.
Ia menghujamku dengan sorotan mata ganas.
“Kapan?” ia berdiri dan bertolak pinggang.
“Dua minggu yang lalu, kamu berjalan dan bergandengan tangan dengan cowok
lain!”
Ia tertawa kuda sinting. Aku menatapnya dengan emosi yang bergemuruh dalam dada.
Keterlaluan! Rupanya ia masih belum puas menyakiti hatiku.
“Kamu keliru, Dit, cowok itu kan,,,” ia memutuskan kalimatnya.
“Pacarmu! Semprotku dengan emosi meledak.
“Bukan!” tangkisnya cepat. “Dia adalah calon kakakku!”
“Ah!” aku terkejut dan membelalakkan mata lebar-lebar.
“Ja… jadi….,” lidahku terasa kelu, sukar untuk melanjutkan kata-kata.
Ia tersenyum dan memandangi wajahku tanpa berkedip. Seperti anak kecil, aku
menunduk, tapi tak lama. Kini kami bertatapan. Lewat sinar matanya aku dapat merasakan sentuhan lembut yang membuat hatiku sejuk bagai di hembus banyu pegunungan. Dengan begitu, harapanku untuk bersatu kembali dengan Pima hampir menemui titik terang.
Aku menyadari sepenuhnya, bahwa hidup tanpa memiliki cinta dan perasaan di cintai betapa hampa. Aku tak ingin hidupku macam itu. Sungguh, aku tak sanggup untuk membiarkan hari-hari mengalir begitu saja. Mungkin hal itulah yangmembuatku terlalu sering dihantui kecurigaan dan digelayuti oleh perasaan cemburu yang sangat besar. Ini semua karena aku amat takut kehilangan dirinya.
“Melamun?” tegurnya hampir menyerupai bisikan.
Aku sedikit tergagap.
“Kelihatannya kamu bingung.”
Sambil menenangkan diri aku menyandarkan punggung di kursi.
“O, ya, bagaimana? Apa kita tunda dulu masalah kita?” tanyanya.
Buru-buru aku mengembalikan posisi duduk agar maju kedepan.
“Jangan Pim, sebaiknya kita teruskan saja hingga tuntas!”
Ia mengangguk tanda setuju.
“Jadi cowok itu sebenarnyasiapa?” tanyaku mendadak jadi tenang.
“Dia cowok Tia. Saudaraku yang di Surabaya.”
“Oooo,” aku terpana dan kemudian jadi tesipu-sipu.
“Maafkan aku Pima,” kataku.
Ia menggigit bibir bawahnya. Dengan pikiran melayang, aku menunggu
jawabannya.
Tak lama kemudian, ia mengangguk dan mengukir senyum yang teramat manis.
Perlahan aku mendekatinya. Dan dengan lembut kukecup keningnya. Seketika sirna segala duka. Aku membayangkan, hari-hari yang akan datang begitu ceria kami jalani.
Cinta Buat Adit
“Katakanlah bahwa kau tak menyukai dia, Ravik!” teriakku ketus.
Ravik menatapku.Sejuta keresahan kulihat tersirat di matanya. Aku ingin menangis melihat semuanya ini. Kalau saja, ya aku tidak menyenangi cowok itu, mungkin tak akan begini jadinya.
Aku memandang Ravik sekilas lalu berpindah ke luar jendela. Ada getir kasihan melihat
Ravik menatapku sendu. Ada airmata yang terbendung di pelupuk mataku. Tapi aku tak
berani menumpahkan di hadapannya. Kesulitan-kesulitan itu begitu menghimpitku. Aku perlu marah pada Ravik yang salah tapi karena aku tidak tahu, apa yang mesti ku perbuat.
“Maafkan aku, Vik. Aku, ah, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan,” gumamku tanpa memandang mata Ravik. Hening, tak ada sahutan. Yang kudengar hanya isak tangis.
Milik siapa? Mungkin Ravik yang menangis atau justru aku?
Mendung kian tebal di batas langit. Angin dingin laju memacu embun. Titik-titik air
mulai turun satu per satu. Menjamah tanah hitam yang selamanya kering termakan panas.
“Aku menyayangi dia, Pima. Aku tak bisa membohongi hatiku sendiri,” kata Ravik lirih
di balik bahuku. Ada sembilu menyayat hatiku. Pengakuan yang sama sekali tak kuinginkan. Ah… Ravik mengapa kita harus dilahirkan sama? Aku menggeleng,
menanggapi pertanyaanku sendiri. Kututup jendela kamar. Kutemukan kehangatan itu tak bisa mengusir keheninganku, kekakuanku atau pun kekecewaanku.
Kulangkahkan kakiku satu-satu meninggalkan tempat dimana aku berdiri tadi. Ravik kulihat mengikuti langkahkudengan ekor matanya. Ketika handel pintu akan kuputar,
Ravik berlari dan menghalangiku dengan tubuhnya. Kedua tangannya terlentang di antara daun pintu yang satu dengan daun pintu yang lain. Matanya lebam, wajahnya pucat dan
bibirnya biru.
“Katakanlah, mengapa engkau begitu bersemangat menghalangiku untuk menyayangi
dia, Pima?” Tanya Ravik datar.
Aku membuang muka. Kusibakkan tubuh Ravik yang menghalangi langkahku. Cepat-
cepat kuputar hendel pintu. Aku siap keluar ketika tangan Ravik mencengkeram lenganku.
“Kita dilahirkan sama, Pima. Jasmani kita, perasaan kita, hati kita, semua sama suka
keterbukaan. Aku telah membuktikannya di hadapanmu. Tapi kau, Pima, mana?” teriak Ravik. Matanya menantang mataku tajam.
Tuhan, saat seperti ini rasanya kami bukanlah dua saudara kembar. Tapi kami adalah musuh. Saling perang, saling menjatuhkan. Dan kalau memang demikian keadaannya, aku tentu yang dikatakan kalah. Tapi aku tak mau menyerah sekarang, mungkin besok atau besoknya lagi. Kutepiskan cengkraman Ravik.
Dengan langkah panjang-panjang, kutinggalkan kamar Ravik, saudara kembarku sekaligus musuhku.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan Ravik setelah itu. Mungkin Ravik tertegun melihatku atau mengatakan aku pengecut. Ah, biarin. Aku tak mau mendengar lagi apa yang akan diperbuatnya.
ooOoo
Aku terbangun ketika pintu ruang depan diketuk 3 kali berturut-turut. Kunyalakan lampu meja 20 watt. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam tepat. Hujan masih terdengar turun satu-satu.
Dengan malas kulangkahkan kakiku menuju pintu. Lampu ruang tamu masih menyala terang. Buku-buku ku pun masih tersebar diatas meja. Aku tadi tertidur barangkali. Kusingkapkan tirai jendela. Sesosok tubuh sedang menunggu dengan tangan mendekap dada. Malam memang sangat dingin.
“Kau pulang malam sekali, Ravik?” gumamku ketika pintu telah kubuka. Kucari seseorang yang mungkin mengantar Ravik pulang. Tapi tak ada.
“Dengan siapa?” lanjutku sambil melangkah ke meja. Ravik diam. Yang kudengar
hanya kunci diputar dua kali. Kulihat Ravik menatapku, tapi aku pura-pura sibuk dengan
buku-bukuku. Tak ingin Ravik melihat kecemasanku. Dan aku juga tak ingin Ravik menemukan sesuatu lewat sinar mataku.
“Adit,” Jawab Ravik lemah sambil berlalu.
Aku masih merasa sakit, ketika satu kata itu keluar dari mulut Ravik. Aku semakin
menunduk. Tetesan bening di mataku tak mungkin kusembunyikan lagi. Adit. Ah, mengapa ia hanya diciptakan satu? Aku mengeluh diam-diam. Kurapikan buku-bukuku ketika sehelai kertas terbang dari tumpukan buku-buku yang tadi abis aku pelajari.
Kuraih kertas itu dari lantai yang dingin. Jajaran tulisan kecil-kecil yang rapi tertera
diatasnya. Tulisan Adit buatku beberapa tahun lalu ketika usiaku tepat 17 tahun:
September,
Mendung mengais bulan
Dan hitam mengulas langit Tapi saat seperti ini, masih Aku bisa goreskan
Cintaku buat kamu
Ah ini dulu, beberapa tahun lalu. Sekarang mungkin hanya tinggal angan yang membatu. Biarlah. Biarlah semua berlalu. Toh masih ada jalan panjang bagiku untuk melangkah. Lalu ada sesal pelan-pelan menyusup di rongga dadaku. Kenapa aku harus menghalangi cinta Ravik? Ya, bukankah suatu kebahagiaan kalau aku rela memberikan Adit demi kebahagiaan saudara kembarku?
Kuhisap udara malam pelan-pelan. Rongga dadku menjadi ringan. Seringan kapas yang terbang tanpa himpitan. Bebas. Kutengok jam dinding di sudut ruangan. Sebelas
lebih tujuhbelas menit. Aku harus tidur, gumamku. Kulangkahkan kakiku satu-satu. Buku
di meja sudah teratur rapi. Kumatikan lampu. Gelap. Yang terdengar kini hanya suara
jengkrik. Hening dan hening.
ooOoo
Siang tak seramah biasanya. Matahari kali ini kelihatan sangat angkuh. Terik dan panas menerpa kulit. Aku melangkah pelan-pelan tanpa irama. Melewati trotoar kota
yang hiruk pikuk. Kadang-kadang harus kuhirup udara yang kotor penuh asap dan debu
jika truk atau kendaraan bermotor melaju cepat, membelah jalanan beraspal yang sebagian
masih berwujud pasir.
“Yuk, Pima!” seru seseorang.
“Eh, yuk,” sahutku ketika kutahu yang lewat barusan Nesa, teman sekelasku yang di bonceng cowoknya. Aku lalu kembali melangkah. Mengukir jejak lewat tapak-tapak sepatuku. Tak teratur dan tanpa irama. Tas yang bertali panjang itu kuputar-putar tanpa
sadar. Sekedar mengisi sepi yang tak biasanya kumiliki sepulang kuliah. Pandanganku terarah lurus ke depan, mencari sesuatu yang menarik dari hiruk pikuk suasana seputar kampus.
Sudah lama aku pulang tanpa Adit. Bukan apa-apa, memang. Hanya aku ingin
memberi kesempatan pada Adit untuk mengantar Ravik tanpa merasa takut aku ketahui. Aku sudah berjanji untuk itu. Untuk tidak mengganggu kebebasan Ravik dan Adit.
“Monggo mbecak, mbak,” tawar seorang tukang becak dengan logat Jawanya yang medok. Aku menggeleng pelan. Tersenyum melihat pak becak langgananku kembali
duduk di becaknya dengan sedikit kecewa.
Matahari masih setia dengan keangkuhannya. Kulirik jam tangan di lenganku. Satu
lebih limabelas menit. Duh, siang sekali desahku tanpa sadar. Daun akasia jatuh berguguran di sepanjang trotoar. Kemudian terbang dan terbang dimainkan angin. Atau remuk terinjak kaki pejalan kaki. Ah…ya, seperti aku. Daun itu seperti aku. Remuk, tak berwujud apa-apa lagi.
Adit. Cowok itu lagi yang tergambar dalam benakku. Adit yang…. Kutepiskan anganku ketika aku ingat bahwa sekarang Adit milik Ravik. Adit sekarang bukanlah Adit yang dulu. Beberapa tahun lalu. Kenangan manis itu masih tertulis di hatiku. Bagaimana pun toh aku tak bisa melupakan masa-masa itu.
Pintu gerbang rumah kubuka pelan-pelan. Di sinilah Adit mengungkapkan isi hatinya.
September, di saat ulang tahunku yang ke-17, beberapa tahun lalu.
“Pimaaa….”
“Emm?”
Adit menghentikan langkahku. Ditatapnya aku lembut. Sekilas. Kemudian
pandangannya tertumbuk pada sepotong bulan yang mengantung di ujung langit.
“Kau pernah melihat bulan, Pima? Tanya Adit tanpa menatapku.
“He-eh,” jawabku.
“Indah ya, Pim?”
“He-eh.”
“Kecil tapi bersinar lembut. Seperti kamu. Kecil tapi cantik.”
Aku tersenyum lucu. Tapi Adit tetap serius tadi. Aku tertegun. Adit tidak sedang bergurau.
“Dit, aku tidak cantik. Lebih cantik Ravik dari aku.”
“Tapi aku menyukaimu.”
Aku menunduk, menatap ujung sepatuku yang kumain-mainkan dengan kerikil.
“Tidak menyesal? Kamu punya tampang, brilliant, baik dan….”
“Sssssttt, jangan keras-keras,” sahut Adit sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirku. “Yang penting kau mau kan bila aku menyayangimu?”
“Aku tak tahu.”
“Kenapa? Kau ragu?”
Kutatap Adit. Matanya yang teduh itu menatapku sayu.
“Bukan begitu. Aku percaya kamu. Tapi cinta seusia kita tak akan kokoh. Kita masih
SMA, Dit.’
“Cinta tak mengenal waktu, Pima.”
“Salah satu diantara kita nantinya akan mengingkarinya. Dan cinta itu runtuhlah. Hancur , luluh dan…,”
“Aku tak mungkin seperti itu, Pima. Kau harus percaya itu,” potong Adit tegas.
Di keremangan malam itu, keraguanku masih tertanam di otakku. Toh nyatanya benar, pikirku. Pengkhianatan cinta terjadi juga. Adit. Ia yang melakukannya bersama Ravik. Di tempat ini juga, beberapa hari yang lalu. Begitulah kata Ravik kepadaku.
ooOoo
Rumah tampak sepi. Sinar matahari yang terik itu menerobos rumah lewat celah-celah
genteng. Tak ada apa-apa. Keadaannya sama dengan sebelum kutinggalkan tadi pagi. Rapi dan bersih. Hanya ada sedikit sobekan kertas yang tadi kugunakan mengarsir goresan pensil di atas kertas gambarku.
Hening. Tak ada suara musik, tak ada suara Ravik menyanyi atau berbincang-bincang
dengan Chabby, kucing kesayangannya.
Ravik belum pulang? Tidakkah ia diantar Adit? Ataukah ia berhandai-handai dulu dengan Adit? Tak mungkin. Ravik pasti pamit. Setidak-tidaknya dengan penghuni kost ini.
Kubuka kamar Ravik. Gelap. Jendela kamar masih tertutup rapat. Sesak sekali rasanya.
Ravik benar-benar belum pulang. Uah…. Aku menarik nafas panjang, setelah jendela kubuka lebar-lebar. Sinar matahari menyeruak bebas, memanasi lantai yang dingin.
Meja di sudut ruangan tampak rapi. Tak biasanya Ravik bisa mengatur meja sebersih
ini. Tapi mendadak perasaanku kecut ketika pandanganku jatuh pada sehelai kertas diatas
meja. Surat dari Adit buat Ravik atau surat Ravik yang belum sempat dikirimkan? Surat cinta? Ah ada duri yang menusuk-nusuk rongga dadaku. Perih. Bagaimanapun, toh aku tak bisa tersenyum melihat semua ini. Walaupun aku sudah janji untuk rela melepas cowok ganteng dan imut itu buat Ravik.
Kupungut surat itu dengan gemetar. Pikiranku kacau. Tulisan Ravik buatku, bukan untuk Adit. Tuhan, apa yang telah terjadi?
Pima,
Tentu kau amat terkejut menerima surat ini.
Tapi itulah,Pim. Aku tak mungkin bisa bertemu denganmu siang ini. Aku terburu-buru. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin pulang. Kembali ke Purbalingga. Tapi kupikir, aku harus pergi. Kau tahu, Pima? Mengapa harus kulakukan ini semua, padahal liburanku belum usai?
Pim,
Dua tahun sudah aku bergelut dengan kehidupan Purbalingga. Kau sudah bisa bayangkan kehidupan di sana kan? Aku yang manusia, tetaplah manusia. Kepribadian yang telah tertanam dalam diriku selama kau hidup diantara keluarga kita, lama-kelamaan terkikis habis. Aku berubah menjadi manusia yang tak pernah kalian bayangkan sebelumnya.
Pima,
Aku sadar. Ya aku sadar betapa aku bukan lagi kebanggaan kalian. Papa, mama dan kau. Aku bukan Ravik yang dulu.
Pima,
Akhirnya aku pulang ke sini, ke Jogja. Di sini juga aku mengenal cowok tampan, lembut danbaik hati. Ia penuh pengertian, kasih sayang dan perhatian. Adit. Aditya Nugroho. Dia juga yang setia membimbingku untuk mengembalikan kepribadianku yang dulu. Sampai suatu saat, pertengkaran kita terjadi. Kau masih ingat, Pima? Semula, aku mengira kau hanya iri akan keberuntunganku. Tapi nyatanya tidak.
Pima,
Aku tahu, Adit adalah milikmu. Cowok yang amat kau cintai. Tapi kasihmu bagiku, bagi seorang saudara kembar mengalahkan semuanya. Kau relakan Adit demi aku,
Pima, aku sama sekali tak menyangka, kau berbuat begitu. Bulir-bulir airmata membasahi kedua pipiku setelah membaca tulisanmu. Tulisan itu tak sengaja kutemukan di map
karangan-karanganmu. Ya, lalu aku sadar mengapa Adit menolakku.Dan…maafkanlah aku yang berbohong kalau Adit yang menginginkanku. Tidak… Dia hanya menginginkanmu. Sungguh, cintanya tulus hanya untukmu.
Begitulah. Aku menjadi sangat malu. Malu pada diriku, pada kebodohan-kebodohanku.
Betapa rendahnya aku dibanding kalian. Kau dan Adit. Aku tak punya hati emas seperti kalian. Aku yakin, kalian sama-sama mencintai. Cinta kalian sangat tulus di mataku.
Cinta yang belum pernah aku temui.
Pima, kau mau memaafkanku? Kembalilah pada Adit,Pima. Adit yang sekarang sama
dengan Adit yang dulu. Ia masih tetap milikmu. Milik Rizkia Primasiwi, saudara kembarku.
Jangan katakan kejadian ini pada mama dan papa yah. Biarlah hanya kita yang tahu. Aku ingin mereka tetap yakin bahwa Ravik adalah kebanggaan orang tua
setiap saat. Kebanggaan kalian, papa, mama dan kau.
Aku pergi, Pima. Meneruskan studiku sekalian mencari kebaikan untuk mengubah Ravik
menjadi lebih baik.
RAVIK.
Kututup surat bersampul putih bersih itu dengan hati yang biru. Sebiru langit, Ravik, bagaimanapun kau tetap jadi kebanggaanku. Ya, walaupun aku tahu, kau memang pernah jatuh. Jatuh seperti yang tidak kami inginkan. Tapi aku yakin, kau pasti bisa bangkit. Menyusun kembali semua yang telah runtuh.
Kutatap foto berbingkai yang menggantung di dinding. Wajah mama, papa, aku dan
Ravik yang penuh kegembiraan, terpampang di atasnya. Potret itu diambil dua tahun yang
lalu.
Jarum jam melangkah seiring dengan waktu. Melangkah dan terus melangkah.
Kubaringkan tubuhku di tempat tidur. Ada sesuatu yang hilang dari kehidupanku. Tapi ada sesuatu pula yang hadir. Entah apa itu. Kutatap langit-langit kamar. Ada dua sosok manusia yang tergambar di atsnya. Adit dan Ravik. Tak pernah bisa aku bayangkan, mengapa ia hadir dalam kehidupanku. Itulah kehendak tuhan. Hanya kehendak-Nyalah yang terjadi.
Ravik menatapku.Sejuta keresahan kulihat tersirat di matanya. Aku ingin menangis melihat semuanya ini. Kalau saja, ya aku tidak menyenangi cowok itu, mungkin tak akan begini jadinya.
Aku memandang Ravik sekilas lalu berpindah ke luar jendela. Ada getir kasihan melihat
Ravik menatapku sendu. Ada airmata yang terbendung di pelupuk mataku. Tapi aku tak
berani menumpahkan di hadapannya. Kesulitan-kesulitan itu begitu menghimpitku. Aku perlu marah pada Ravik yang salah tapi karena aku tidak tahu, apa yang mesti ku perbuat.
“Maafkan aku, Vik. Aku, ah, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan,” gumamku tanpa memandang mata Ravik. Hening, tak ada sahutan. Yang kudengar hanya isak tangis.
Milik siapa? Mungkin Ravik yang menangis atau justru aku?
Mendung kian tebal di batas langit. Angin dingin laju memacu embun. Titik-titik air
mulai turun satu per satu. Menjamah tanah hitam yang selamanya kering termakan panas.
“Aku menyayangi dia, Pima. Aku tak bisa membohongi hatiku sendiri,” kata Ravik lirih
di balik bahuku. Ada sembilu menyayat hatiku. Pengakuan yang sama sekali tak kuinginkan. Ah… Ravik mengapa kita harus dilahirkan sama? Aku menggeleng,
menanggapi pertanyaanku sendiri. Kututup jendela kamar. Kutemukan kehangatan itu tak bisa mengusir keheninganku, kekakuanku atau pun kekecewaanku.
Kulangkahkan kakiku satu-satu meninggalkan tempat dimana aku berdiri tadi. Ravik kulihat mengikuti langkahkudengan ekor matanya. Ketika handel pintu akan kuputar,
Ravik berlari dan menghalangiku dengan tubuhnya. Kedua tangannya terlentang di antara daun pintu yang satu dengan daun pintu yang lain. Matanya lebam, wajahnya pucat dan
bibirnya biru.
“Katakanlah, mengapa engkau begitu bersemangat menghalangiku untuk menyayangi
dia, Pima?” Tanya Ravik datar.
Aku membuang muka. Kusibakkan tubuh Ravik yang menghalangi langkahku. Cepat-
cepat kuputar hendel pintu. Aku siap keluar ketika tangan Ravik mencengkeram lenganku.
“Kita dilahirkan sama, Pima. Jasmani kita, perasaan kita, hati kita, semua sama suka
keterbukaan. Aku telah membuktikannya di hadapanmu. Tapi kau, Pima, mana?” teriak Ravik. Matanya menantang mataku tajam.
Tuhan, saat seperti ini rasanya kami bukanlah dua saudara kembar. Tapi kami adalah musuh. Saling perang, saling menjatuhkan. Dan kalau memang demikian keadaannya, aku tentu yang dikatakan kalah. Tapi aku tak mau menyerah sekarang, mungkin besok atau besoknya lagi. Kutepiskan cengkraman Ravik.
Dengan langkah panjang-panjang, kutinggalkan kamar Ravik, saudara kembarku sekaligus musuhku.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan Ravik setelah itu. Mungkin Ravik tertegun melihatku atau mengatakan aku pengecut. Ah, biarin. Aku tak mau mendengar lagi apa yang akan diperbuatnya.
ooOoo
Aku terbangun ketika pintu ruang depan diketuk 3 kali berturut-turut. Kunyalakan lampu meja 20 watt. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam tepat. Hujan masih terdengar turun satu-satu.
Dengan malas kulangkahkan kakiku menuju pintu. Lampu ruang tamu masih menyala terang. Buku-buku ku pun masih tersebar diatas meja. Aku tadi tertidur barangkali. Kusingkapkan tirai jendela. Sesosok tubuh sedang menunggu dengan tangan mendekap dada. Malam memang sangat dingin.
“Kau pulang malam sekali, Ravik?” gumamku ketika pintu telah kubuka. Kucari seseorang yang mungkin mengantar Ravik pulang. Tapi tak ada.
“Dengan siapa?” lanjutku sambil melangkah ke meja. Ravik diam. Yang kudengar
hanya kunci diputar dua kali. Kulihat Ravik menatapku, tapi aku pura-pura sibuk dengan
buku-bukuku. Tak ingin Ravik melihat kecemasanku. Dan aku juga tak ingin Ravik menemukan sesuatu lewat sinar mataku.
“Adit,” Jawab Ravik lemah sambil berlalu.
Aku masih merasa sakit, ketika satu kata itu keluar dari mulut Ravik. Aku semakin
menunduk. Tetesan bening di mataku tak mungkin kusembunyikan lagi. Adit. Ah, mengapa ia hanya diciptakan satu? Aku mengeluh diam-diam. Kurapikan buku-bukuku ketika sehelai kertas terbang dari tumpukan buku-buku yang tadi abis aku pelajari.
Kuraih kertas itu dari lantai yang dingin. Jajaran tulisan kecil-kecil yang rapi tertera
diatasnya. Tulisan Adit buatku beberapa tahun lalu ketika usiaku tepat 17 tahun:
September,
Mendung mengais bulan
Dan hitam mengulas langit Tapi saat seperti ini, masih Aku bisa goreskan
Cintaku buat kamu
Ah ini dulu, beberapa tahun lalu. Sekarang mungkin hanya tinggal angan yang membatu. Biarlah. Biarlah semua berlalu. Toh masih ada jalan panjang bagiku untuk melangkah. Lalu ada sesal pelan-pelan menyusup di rongga dadaku. Kenapa aku harus menghalangi cinta Ravik? Ya, bukankah suatu kebahagiaan kalau aku rela memberikan Adit demi kebahagiaan saudara kembarku?
Kuhisap udara malam pelan-pelan. Rongga dadku menjadi ringan. Seringan kapas yang terbang tanpa himpitan. Bebas. Kutengok jam dinding di sudut ruangan. Sebelas
lebih tujuhbelas menit. Aku harus tidur, gumamku. Kulangkahkan kakiku satu-satu. Buku
di meja sudah teratur rapi. Kumatikan lampu. Gelap. Yang terdengar kini hanya suara
jengkrik. Hening dan hening.
ooOoo
Siang tak seramah biasanya. Matahari kali ini kelihatan sangat angkuh. Terik dan panas menerpa kulit. Aku melangkah pelan-pelan tanpa irama. Melewati trotoar kota
yang hiruk pikuk. Kadang-kadang harus kuhirup udara yang kotor penuh asap dan debu
jika truk atau kendaraan bermotor melaju cepat, membelah jalanan beraspal yang sebagian
masih berwujud pasir.
“Yuk, Pima!” seru seseorang.
“Eh, yuk,” sahutku ketika kutahu yang lewat barusan Nesa, teman sekelasku yang di bonceng cowoknya. Aku lalu kembali melangkah. Mengukir jejak lewat tapak-tapak sepatuku. Tak teratur dan tanpa irama. Tas yang bertali panjang itu kuputar-putar tanpa
sadar. Sekedar mengisi sepi yang tak biasanya kumiliki sepulang kuliah. Pandanganku terarah lurus ke depan, mencari sesuatu yang menarik dari hiruk pikuk suasana seputar kampus.
Sudah lama aku pulang tanpa Adit. Bukan apa-apa, memang. Hanya aku ingin
memberi kesempatan pada Adit untuk mengantar Ravik tanpa merasa takut aku ketahui. Aku sudah berjanji untuk itu. Untuk tidak mengganggu kebebasan Ravik dan Adit.
“Monggo mbecak, mbak,” tawar seorang tukang becak dengan logat Jawanya yang medok. Aku menggeleng pelan. Tersenyum melihat pak becak langgananku kembali
duduk di becaknya dengan sedikit kecewa.
Matahari masih setia dengan keangkuhannya. Kulirik jam tangan di lenganku. Satu
lebih limabelas menit. Duh, siang sekali desahku tanpa sadar. Daun akasia jatuh berguguran di sepanjang trotoar. Kemudian terbang dan terbang dimainkan angin. Atau remuk terinjak kaki pejalan kaki. Ah…ya, seperti aku. Daun itu seperti aku. Remuk, tak berwujud apa-apa lagi.
Adit. Cowok itu lagi yang tergambar dalam benakku. Adit yang…. Kutepiskan anganku ketika aku ingat bahwa sekarang Adit milik Ravik. Adit sekarang bukanlah Adit yang dulu. Beberapa tahun lalu. Kenangan manis itu masih tertulis di hatiku. Bagaimana pun toh aku tak bisa melupakan masa-masa itu.
Pintu gerbang rumah kubuka pelan-pelan. Di sinilah Adit mengungkapkan isi hatinya.
September, di saat ulang tahunku yang ke-17, beberapa tahun lalu.
“Pimaaa….”
“Emm?”
Adit menghentikan langkahku. Ditatapnya aku lembut. Sekilas. Kemudian
pandangannya tertumbuk pada sepotong bulan yang mengantung di ujung langit.
“Kau pernah melihat bulan, Pima? Tanya Adit tanpa menatapku.
“He-eh,” jawabku.
“Indah ya, Pim?”
“He-eh.”
“Kecil tapi bersinar lembut. Seperti kamu. Kecil tapi cantik.”
Aku tersenyum lucu. Tapi Adit tetap serius tadi. Aku tertegun. Adit tidak sedang bergurau.
“Dit, aku tidak cantik. Lebih cantik Ravik dari aku.”
“Tapi aku menyukaimu.”
Aku menunduk, menatap ujung sepatuku yang kumain-mainkan dengan kerikil.
“Tidak menyesal? Kamu punya tampang, brilliant, baik dan….”
“Sssssttt, jangan keras-keras,” sahut Adit sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirku. “Yang penting kau mau kan bila aku menyayangimu?”
“Aku tak tahu.”
“Kenapa? Kau ragu?”
Kutatap Adit. Matanya yang teduh itu menatapku sayu.
“Bukan begitu. Aku percaya kamu. Tapi cinta seusia kita tak akan kokoh. Kita masih
SMA, Dit.’
“Cinta tak mengenal waktu, Pima.”
“Salah satu diantara kita nantinya akan mengingkarinya. Dan cinta itu runtuhlah. Hancur , luluh dan…,”
“Aku tak mungkin seperti itu, Pima. Kau harus percaya itu,” potong Adit tegas.
Di keremangan malam itu, keraguanku masih tertanam di otakku. Toh nyatanya benar, pikirku. Pengkhianatan cinta terjadi juga. Adit. Ia yang melakukannya bersama Ravik. Di tempat ini juga, beberapa hari yang lalu. Begitulah kata Ravik kepadaku.
ooOoo
Rumah tampak sepi. Sinar matahari yang terik itu menerobos rumah lewat celah-celah
genteng. Tak ada apa-apa. Keadaannya sama dengan sebelum kutinggalkan tadi pagi. Rapi dan bersih. Hanya ada sedikit sobekan kertas yang tadi kugunakan mengarsir goresan pensil di atas kertas gambarku.
Hening. Tak ada suara musik, tak ada suara Ravik menyanyi atau berbincang-bincang
dengan Chabby, kucing kesayangannya.
Ravik belum pulang? Tidakkah ia diantar Adit? Ataukah ia berhandai-handai dulu dengan Adit? Tak mungkin. Ravik pasti pamit. Setidak-tidaknya dengan penghuni kost ini.
Kubuka kamar Ravik. Gelap. Jendela kamar masih tertutup rapat. Sesak sekali rasanya.
Ravik benar-benar belum pulang. Uah…. Aku menarik nafas panjang, setelah jendela kubuka lebar-lebar. Sinar matahari menyeruak bebas, memanasi lantai yang dingin.
Meja di sudut ruangan tampak rapi. Tak biasanya Ravik bisa mengatur meja sebersih
ini. Tapi mendadak perasaanku kecut ketika pandanganku jatuh pada sehelai kertas diatas
meja. Surat dari Adit buat Ravik atau surat Ravik yang belum sempat dikirimkan? Surat cinta? Ah ada duri yang menusuk-nusuk rongga dadaku. Perih. Bagaimanapun, toh aku tak bisa tersenyum melihat semua ini. Walaupun aku sudah janji untuk rela melepas cowok ganteng dan imut itu buat Ravik.
Kupungut surat itu dengan gemetar. Pikiranku kacau. Tulisan Ravik buatku, bukan untuk Adit. Tuhan, apa yang telah terjadi?
Pima,
Tentu kau amat terkejut menerima surat ini.
Tapi itulah,Pim. Aku tak mungkin bisa bertemu denganmu siang ini. Aku terburu-buru. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin pulang. Kembali ke Purbalingga. Tapi kupikir, aku harus pergi. Kau tahu, Pima? Mengapa harus kulakukan ini semua, padahal liburanku belum usai?
Pim,
Dua tahun sudah aku bergelut dengan kehidupan Purbalingga. Kau sudah bisa bayangkan kehidupan di sana kan? Aku yang manusia, tetaplah manusia. Kepribadian yang telah tertanam dalam diriku selama kau hidup diantara keluarga kita, lama-kelamaan terkikis habis. Aku berubah menjadi manusia yang tak pernah kalian bayangkan sebelumnya.
Pima,
Aku sadar. Ya aku sadar betapa aku bukan lagi kebanggaan kalian. Papa, mama dan kau. Aku bukan Ravik yang dulu.
Pima,
Akhirnya aku pulang ke sini, ke Jogja. Di sini juga aku mengenal cowok tampan, lembut danbaik hati. Ia penuh pengertian, kasih sayang dan perhatian. Adit. Aditya Nugroho. Dia juga yang setia membimbingku untuk mengembalikan kepribadianku yang dulu. Sampai suatu saat, pertengkaran kita terjadi. Kau masih ingat, Pima? Semula, aku mengira kau hanya iri akan keberuntunganku. Tapi nyatanya tidak.
Pima,
Aku tahu, Adit adalah milikmu. Cowok yang amat kau cintai. Tapi kasihmu bagiku, bagi seorang saudara kembar mengalahkan semuanya. Kau relakan Adit demi aku,
Pima, aku sama sekali tak menyangka, kau berbuat begitu. Bulir-bulir airmata membasahi kedua pipiku setelah membaca tulisanmu. Tulisan itu tak sengaja kutemukan di map
karangan-karanganmu. Ya, lalu aku sadar mengapa Adit menolakku.Dan…maafkanlah aku yang berbohong kalau Adit yang menginginkanku. Tidak… Dia hanya menginginkanmu. Sungguh, cintanya tulus hanya untukmu.
Begitulah. Aku menjadi sangat malu. Malu pada diriku, pada kebodohan-kebodohanku.
Betapa rendahnya aku dibanding kalian. Kau dan Adit. Aku tak punya hati emas seperti kalian. Aku yakin, kalian sama-sama mencintai. Cinta kalian sangat tulus di mataku.
Cinta yang belum pernah aku temui.
Pima, kau mau memaafkanku? Kembalilah pada Adit,Pima. Adit yang sekarang sama
dengan Adit yang dulu. Ia masih tetap milikmu. Milik Rizkia Primasiwi, saudara kembarku.
Jangan katakan kejadian ini pada mama dan papa yah. Biarlah hanya kita yang tahu. Aku ingin mereka tetap yakin bahwa Ravik adalah kebanggaan orang tua
setiap saat. Kebanggaan kalian, papa, mama dan kau.
Aku pergi, Pima. Meneruskan studiku sekalian mencari kebaikan untuk mengubah Ravik
menjadi lebih baik.
RAVIK.
Kututup surat bersampul putih bersih itu dengan hati yang biru. Sebiru langit, Ravik, bagaimanapun kau tetap jadi kebanggaanku. Ya, walaupun aku tahu, kau memang pernah jatuh. Jatuh seperti yang tidak kami inginkan. Tapi aku yakin, kau pasti bisa bangkit. Menyusun kembali semua yang telah runtuh.
Kutatap foto berbingkai yang menggantung di dinding. Wajah mama, papa, aku dan
Ravik yang penuh kegembiraan, terpampang di atasnya. Potret itu diambil dua tahun yang
lalu.
Jarum jam melangkah seiring dengan waktu. Melangkah dan terus melangkah.
Kubaringkan tubuhku di tempat tidur. Ada sesuatu yang hilang dari kehidupanku. Tapi ada sesuatu pula yang hadir. Entah apa itu. Kutatap langit-langit kamar. Ada dua sosok manusia yang tergambar di atsnya. Adit dan Ravik. Tak pernah bisa aku bayangkan, mengapa ia hadir dalam kehidupanku. Itulah kehendak tuhan. Hanya kehendak-Nyalah yang terjadi.
Aditya namanya...
Ini nggak mungkin kenyataan!
Kalo aja cowok di depan rumahku ini nggak menatapku terus menerus, aku pasti udah menampar mukaku sendiri untuk mengetesnya.
Ini pasti mimpi! Nggak mungkin seorang Lando si cowok blasteran antara Aceh dan Canada yang bulan lalu dapetin penghargaan Coverboy Favorit dari majalah super beken, sekarang ada di depan pintu rumahku dengan bunga mawar merah di tangannya… Yang jelas… aku nggak mau ini terjadi!
Bukan karena aku nggak suka (Alooow! Cewek cacat mental mana yang bisa nolak pesonanya Lando?) tapi karena…
“Siapa, Pim?” Ibuku tergopoh-gopoh dengan daster kumalnya dan muka berminyak baru bangun tidur.
Oh, no! no! Tuhan, bila kau mau membunuhku bukan begini caranyaaaa…
“Bu-bukan siapa-siapa, Ma!” kataku cepat-cepat sambil ngasih isyarat ke Lando untuk pergi.
Coverboy itu ngegeleng keras kepala. Sekarang aku percaya sama pepatah yang bilang, ketampanan seseorang bisa dituker sama kepinteran. Bisa jadi Lando seganteng ini karena udah bikin perjanjian sama setan dan menukarkan separuh otaknya.
“Pergi!” bisikku memohon. Percaya deh! Mengusir cowok paling keren seangkatan dari rumahmu bukan hal yang gampang!
Mata tajam dan alis tebal Lando hampir aja mempengaruhiku.
“Riz? Kenapa?” mungkin cowok ini sekarang lagi bertanya-tanya kenapa bisa cewek sejelek aku menolak mawar darinya.
“Piiiim!” bentakan Papaku membuatku mundur. Aku berbalik dan mendapati Papaku dengan sarung favoritnya yang bolong-bolong itu tengah berdiri tegak, nggak memakai kaosnya.
Mati gw… watchau, dunia, selamat tinggal!
“Siapa itu?” tanya Papa dengan suara Ngapak’s_nya yang menggelegar.
Lando, dengan segenap rasa beraninya yang tinggal tersisa sedikit itu, maju selangkah dan tersenyum ke arah Papa.
“Pagi, Om!”
Oh…tiddddaaaakkkk!!!! Permulaan yang salah. Papa benci dipanggil Om karena itu mengingatkannya sama usianya yang udah tua.
“Saya Lando, temen Rizkia. Coverboy….” Diiringi senyumnya yang dibikin semanis mungkin.
Seakan-akan fakta punya tampang super keren itu, bisa ngerubah mata Papa yang mulai menyipit muak.
Pertengahan yang salah. Aku menghela napas, dan menahan sesak.
“Saya cuma mau nganterin mawar ini.” Lando dengan senyum dibuat-buat yang dibalas masam sama Papa dan Mama.
Aku menggeleng putus asa. Akhir yang saaaangat salah!
“Oh, jadi pengantar barang? Bagus, kamu bisa pulang sekarang.” Papa sambil ngebanting pintu depan idungnya. Untung aja gak kena idungnya yang mancung itu.
Mau nggak mau mataku udah berkaca-kaca duluan waktu ngedenger bunyi motor ninja RR Lando menjauh.
See?!
Udah cukup memalukan mendapati cowok keren mau bersusah payah ke rumahku yang ada di tengah kampung, mengetuk pintu rumahku yang bobrok, menemukan Papa cuma dengan sarung kucelnya… Sekarang, Papa pun mengusir cowok itu!
Ya, ampuuun! Ups, belum cukup juga kayaknya neh?
Papaku menatapku garang. “Kamu harus fokus sama kuliah! Sekarang kan lagi ujian! Ngerti?”
Dunia ini gila atau apa?! Aku sudah Semester enam di Kesehatan Masyarakat UGM, meeen! Teman-temanku biasa didatangin pacarnya tiap Sabtu… Sementara aku? Pacaran pun nggak pernah! Dan Lando itu kan bukan cowokku… Eee, tapi kan aku ini lebih fokus daripada siapapun! Yeah! Seakan juara satu di angkatanku aja nggak cukup!
“Udahlah, Pim! Cowok gampang dicari lagi!” Mamaku mengusap pipiku yang berurai airmata.
Cowok gampang dicari. Kata-kata itu nggak berlaku bagiku. Ya, ampun! Mama pikir aku secantik apa? Apa dia nggak bisa nerima kenyataan kalo anaknya cuma punya tampang pas-pasan? Ada satu cowok nyangkut aja udah amazing banget! Apalagi kali ini cowok KEREN!
Mama nggak ngerti. Tentu aja Mama nggak akan ngerti. Gimana rasanya jadi aku di tengah para model di sekolahku. Gimana rasanya punya wajah pas-pasan kayak aku yang gak ada miripnya sama artis-artis yang tengah naik daun akhir-akhir ini.
Aku mendesah putus asa. Mungkin memang tak ada lagi jodoh yang tersisa untukku.
ooOoo
Gimana sih rasanya cinta?
“Kayak ada di awang-awang… Hm…” itu kata Bejo, cowok klub sastra kelas sebelah.
“Hitam. 500 cc. Empat tak.” Ini komentar Dicky, cowok gothic yang terkenal sama bengkel motornya.
“Indah. Bagaikan oase di tengah padang pasir.”
Nah! Kalo ini katanya Sigit, cowok sok puitis yang sering tebar pesona ke kelas orang.
“Rasa sop kecoa.”
Ah, ini mah celetukannya Aris Si Mun yang kayaknya emang udah ngerasain berbagai macam makanan, dan konon punya resep rahasia biar tetep kurus meski makan mulu.
“Hm…. Ng…. Aaa… Hhhh… apa yak pertanyaannya?” Dani yang suer banget lemotnya ngalahin Oneng itu, gayanya sambil miringin kepalanya.
“Eee, apa penting ya?” Dedi yang dingin sedingin kutub utara, malahan balik nanya dan melengos, nerusin bengongnya yang tertunda.
Cowok-cowok dalam rubrik Cute Boys on Talk yang baru kuwawancarai ini, boleh ngaku kalo mereka ganteng… tapi mereka semua PAYAH karena udah mengungkapkan sesuatu yang salah!
Karena besoknya, seperti yang sudah diramalkan oleh majalah Times, Gadis, Aneka, Cemerlang, eeh, yang terakhir ini udah mendiang ya? Pendeknya, berbagai media massa lainnya, Lando langsung nyuekin aku.
See? Inilah cinta. Kau bisa berlari mengejarnya, tapi begitu terjatuh sekali… bye-bye!
Aku tertunduk lesu di seberang jalan sepulang sekolah. Lando baru aja lewat dengan cewek baru di boncengannya. Hampir aja aku mengejar motornya dan ngelakuin hal gila, jambak cewek itu, misalnya. Untung aku inget, kalo sekarang lagi nungguin sobatku.
“Hei, bengong aza, ah!” seru Nesa sambil ngegandeng tangan Dani. Yeah… salah satu cowok beken di sekolah itu loh. Cowok lemot yang kalo dipikir-pikir bener-bener ngegemesin.
“Neca Cay, emang kita gak jadi nonton DVD di rumah gw ya? Kok nyapa dia sih?” tanya Dani cemberut.
Nesa mencubit pipi cowok itu sebelum menepuknya. Aduuuh! Lagi ujian semesteran gini masih aja pacaran! Lagian apa ka si lemot tadi, Neca Cay? Fheeew, segitunya dicadel-cadelin?
“Gini, Pim… gw sama Dani mau nonton di…”
“Okey. Gapapa. Gw bisa pulang sendiri,” potongku dengan senyum dipaksa. Dan terus tersenyum gitu sampe Nesa pergi.
Aku melototin Dani kesel. Cowok lemot nyebelin! Gimana bisa cowok lemot kayak gitu jadian sama Nesa yang berkawat gigi, berkulit putih dan penuh daya tarik mempesona?! Eeee, tapi meskipun gitu-gitu juga, Dani sayang banget sama Nesa. Apapun yang ntu cewek mau, pasti dikasih. Dan selalu cemburu kalo ada cowok yang deket-deket Nesa.
Gimana ya rasanya dicemburuin? Aku pengen jadi Nesa. Pasti rasanya indah banget disayang sama orang sampe segitunya. Khayalku berhenti waktu aku sadar sesuatu yang aneh. Aku iri. Ya, ampun! Ini malu-maluin! Aku iri sama pasangan aneh itu? Gilaaa meeen!
Kurasa aku harus ke psikiater. Setelah menyia-nyiakan Lando, sekarang aku iri sama Nesa dan Dani. Selanjutnya apa? Berubah cita-cita jadi Sailormoon? Rasa-rasanya aku harus pasrah deh dengan masalah nggak-akan-punya-cowok ini.
Sambil ngehela napas capek (aku bener-bener capek sama hubungan cewek-cowok!) aku menaiki angkot. Cuma beberapa meter sebenarnya, tapi lagi males jalan kaki dengan otak bete.
“Stooop, pinggiiir!” teriakku selang sesaat.
Waktu mau nyari uang di tas, tanganku menemukan sehelai kertas bertuliskan…
Maaf. Rasanya kita nggak akan bisa jadian deh. Bukan karena bokap-nyokap loe, tapi karena kita nggak klop aja.
Lando.
Aku mendengus cuek. Meski otakku terus memikirkannya. Ah, ya! Tentu aja… betapa egoisnya aku menyalahkan Mama-Papa padahal cowok-cowok itu nggak mau karena masalahnya ada pada diriku sendiri.
Gw gak peduli! Jeritku dalam hati walau mataku berlinang airmata. Aku mengeluarkan tanganku dari jendela dengan marah untuk membuang kertas itu jauh-jauh. Tapi…
Cekiiit! Tiiin, tiiin!
JEDUG! BRAK! PRETTTT (eh, yang terakhir gak)
Ups? Sebuah motor GP 500 tergeletak dengan pengendaranya. Karena aku! Tepatnya karena mo ngehindar tanganku yang ngulur cuek dari jendela angkot buat ngebuang kertas dari Lando jauh-jauh?
“Maaf! Maaf!” Aku loncat dari angkot ngeburu korban gara-gara diriku dengan terlebih dulu aku nginjek kaki penumpang di sebelah pintu, jatuh dan mendarat di samping angkot dengan sukses karena gak ngeliat kalo pintu angkot tuh pendek yah! Aduh! Motornya keren banget! Aku teringat sama obrolan Dani, motor kayak gini harganya bisa dua-tiga ratus juta. Aduh! Mati deh! Semoga motornya nggak rusak!
Tapi perhatianku ke motor GP itu langsung tersita begitu ngeliat tetesan darah dari sudut-sudut mulut cowok itu. Aw! Aku meringis begitu ngeliat lukanya.
Berbaret!
Aku ngelirik kerikil-kerikil tajam yang ada di bawahku… ya ampun! Pasti sakit banget!
“Panas. Pipi gw panas.” Gumam cowok itu tenang meskipun wajahnya yang imut sekarang udah belepotan darah. Buru-buru aku lari ke warung terdekat dan kembali lagi dengan sebotol air es dan seember air, siapa tau aja tuh cowok mau nyuci-nyuci lukanya sebelum ngompres pake air es yang kubawa.
Tanpa babibu dan pikir panjang, aku coba bantu dia buat bersihin lukanya. Perasaanku ngeri banget ngeliat apa yang baru aja kulakukan. Beberapa saat aku menunggu cacian keluar dari mulut cowok itu. Hmm, Tapi sebelumnya tampangnya cakep banget. Lebih cakep dari Lando bahkan siapapun deh. Tapi itu dulu. Sebelum ketemu aku yang membuat mukanya penuh baret.
Aku cuma bisa berdoa semoga luka itu nggak berbekas.
“Dingin.” Komentar cowok itu lama. “Nama loe siapa?” cowok itu mengamati seragam batik sekolahku yang kudu dipakai tiap jumat dan kami menamakannya sebagai hari Batik Nasional alias Batik Day!
“Pim…pima! Jawabku sambil tergagap karena kagum akan ketampanannya.
“ Maaf ya, maaf!” ulangku gugup sekali.
“Biasa aja kenapa sih? Lagian ini salah gw juga kok. Nggak pake helm. Pima… hm… kelas berapa?” pertanyaannya bikin aku deg-degan.
Prasangka demi prasangka mulai bermunculan. Ah, masa sih cakep-cakep gini mau ngaduin gw ke sekolah? Tapi… bisa aja! Dia kan cakep, pasti dia ngerasa dirugiin sama luka ini!
“Se-sepuluh enam,” desisku kaku.
Cowok itu ketawa dan langsung berhenti sedetik kemudian. Kayaknya dia kesakitan! Aku buru-buru menghampirinya, kepingin mencermati kondisinya dari jarak lebih dekat. Tapi… uuups! Aku tersandung kaki sendiri, maka tak pelak lagi seember air es yang tadi kubawa tumpah…. tepat di kepala cowok itu.
“Maaf! Maaf! Maaf!” kataku berulang-ulang. Tapi cowok itu cuma memamerkan senyumnya yang super manis.
“Cewek unik.” Gumamnya sambil mengusap matanya yang masih sembab pake saputangan.
“Kenapa nangis?” tanyaku keheranan
“Gw bener-bener heran sama orang yang bikin gue nangis… cewek itu kan diciptakan dari tulang rusuk cowok. Bukan dari tulang kaki sebagai bawahan atau pembantu. Bukan juga dari kepala, sebagai atasan kaum cowok. Tapi dari tulang rusuk. Dekat dengan lengan untuk dilindungi. Dekat dengan hati untuk dicintai…”
Kata-katanya indah. Membuatku hampir simpati… kalo aja aku nggak inget kalo hari ini hari jumat, so aku harus pergi les berkuda.
“Ah! Gw mau les dulu! Maaf ya? Dah!” aku melambaikan tangan sambil menjauh.
“Nama gw Aditya.”
“Ha? So wooot gitu loooh?”
Tapi cowok itu cuma nyengir kuda sekilas, ngasih liat gigi depannya yang berjejer rapi.
“Biar loe bisa nyebut nama gw di mimpi.”
Cowok gila!
ooOoo
Ujian smester udah lewat… yang paling nyedihin, liburannya pun udah lewat. Segerombolan anak kelas sepuluh ngumpul di depan kelasku.
“Ada apa?” tanyaku ke arah Nesa yang bertampang kuyu.
Hehehe… tau gak, dia udah putus lho sama Dani. Aku tau, kejam banget berbahagia di atas penderitaan orang. Tapi, asyik kan? Jomblo rame-rame! Anggota Ijo Lumut ato Ikatan Jomblo Lucu dan Imut-imut nambah satu lagi!
“Loe sih pim… kemaren kesiangan sampe nggak dibolehin masuk… jadi nggak tau kan ada anak baru lagi di kelas kita.”
“Namanya siapa?” tanyaku penasaran.
“Dia nggak mau nyebutin nama. Tiap ditanya, selalu ngehindar. Abis cewek-cewek kelas kita gak bisa nganggur sih kalo liat cowok cakep. Apalagi kelas kita kan nggak ada perkenalannya. Mana kemaren cuma upacara doang, jadi kita nggak tau namanya di daftar absen…”
“Tuh, dia tau nama gw!” Sosok ganteng dan imut mendadak muncul di depan hidungku, langsung menuding ke arahku. Dan gak kupungkiri, cowok ganteng itu adalah Aditya yang tempo hari lalu kecelakaan gara-gara gue!
Aneh, mendadak juga semua orang, termasuk Nesa pamit mundur dari hadapanku. Cuma ada dia. Oh, my God! Apa mungkin dia ke sini untuk balas dendam? Apa dia sejahat itu? Tapi di komik-komik kan sering muncul yang kayak gitu!
“Maaf! Maaf! Maaf!” seruku menyesal waktu Adit mendekat.
Mau meninjuku? Menyilet-nyilet mukaku? Aduuuh, jangan dong! Nggak disilet pun tampangku udah nggak laku…
“Ngucapin sesuatu tuh sekali aja! Bakal lebih terasa feeling-nya.”
Dia ngedeketin mulutnya ke mukaku seperti mo ngebisikkin sesuatu di telingaku. Watchaaau, ini gilaaa meeen! Mendingan buru-buru cabut.
“Ap…apa?!” tanyaku dengan sedikit ketakutan bagai di dunia lain.
“Maukah kamu menjadi bidadari yang selalu ada di setiap mimpiku?”
-Tamat-
Kalo aja cowok di depan rumahku ini nggak menatapku terus menerus, aku pasti udah menampar mukaku sendiri untuk mengetesnya.
Ini pasti mimpi! Nggak mungkin seorang Lando si cowok blasteran antara Aceh dan Canada yang bulan lalu dapetin penghargaan Coverboy Favorit dari majalah super beken, sekarang ada di depan pintu rumahku dengan bunga mawar merah di tangannya… Yang jelas… aku nggak mau ini terjadi!
Bukan karena aku nggak suka (Alooow! Cewek cacat mental mana yang bisa nolak pesonanya Lando?) tapi karena…
“Siapa, Pim?” Ibuku tergopoh-gopoh dengan daster kumalnya dan muka berminyak baru bangun tidur.
Oh, no! no! Tuhan, bila kau mau membunuhku bukan begini caranyaaaa…
“Bu-bukan siapa-siapa, Ma!” kataku cepat-cepat sambil ngasih isyarat ke Lando untuk pergi.
Coverboy itu ngegeleng keras kepala. Sekarang aku percaya sama pepatah yang bilang, ketampanan seseorang bisa dituker sama kepinteran. Bisa jadi Lando seganteng ini karena udah bikin perjanjian sama setan dan menukarkan separuh otaknya.
“Pergi!” bisikku memohon. Percaya deh! Mengusir cowok paling keren seangkatan dari rumahmu bukan hal yang gampang!
Mata tajam dan alis tebal Lando hampir aja mempengaruhiku.
“Riz? Kenapa?” mungkin cowok ini sekarang lagi bertanya-tanya kenapa bisa cewek sejelek aku menolak mawar darinya.
“Piiiim!” bentakan Papaku membuatku mundur. Aku berbalik dan mendapati Papaku dengan sarung favoritnya yang bolong-bolong itu tengah berdiri tegak, nggak memakai kaosnya.
Mati gw… watchau, dunia, selamat tinggal!
“Siapa itu?” tanya Papa dengan suara Ngapak’s_nya yang menggelegar.
Lando, dengan segenap rasa beraninya yang tinggal tersisa sedikit itu, maju selangkah dan tersenyum ke arah Papa.
“Pagi, Om!”
Oh…tiddddaaaakkkk!!!! Permulaan yang salah. Papa benci dipanggil Om karena itu mengingatkannya sama usianya yang udah tua.
“Saya Lando, temen Rizkia. Coverboy….” Diiringi senyumnya yang dibikin semanis mungkin.
Seakan-akan fakta punya tampang super keren itu, bisa ngerubah mata Papa yang mulai menyipit muak.
Pertengahan yang salah. Aku menghela napas, dan menahan sesak.
“Saya cuma mau nganterin mawar ini.” Lando dengan senyum dibuat-buat yang dibalas masam sama Papa dan Mama.
Aku menggeleng putus asa. Akhir yang saaaangat salah!
“Oh, jadi pengantar barang? Bagus, kamu bisa pulang sekarang.” Papa sambil ngebanting pintu depan idungnya. Untung aja gak kena idungnya yang mancung itu.
Mau nggak mau mataku udah berkaca-kaca duluan waktu ngedenger bunyi motor ninja RR Lando menjauh.
See?!
Udah cukup memalukan mendapati cowok keren mau bersusah payah ke rumahku yang ada di tengah kampung, mengetuk pintu rumahku yang bobrok, menemukan Papa cuma dengan sarung kucelnya… Sekarang, Papa pun mengusir cowok itu!
Ya, ampuuun! Ups, belum cukup juga kayaknya neh?
Papaku menatapku garang. “Kamu harus fokus sama kuliah! Sekarang kan lagi ujian! Ngerti?”
Dunia ini gila atau apa?! Aku sudah Semester enam di Kesehatan Masyarakat UGM, meeen! Teman-temanku biasa didatangin pacarnya tiap Sabtu… Sementara aku? Pacaran pun nggak pernah! Dan Lando itu kan bukan cowokku… Eee, tapi kan aku ini lebih fokus daripada siapapun! Yeah! Seakan juara satu di angkatanku aja nggak cukup!
“Udahlah, Pim! Cowok gampang dicari lagi!” Mamaku mengusap pipiku yang berurai airmata.
Cowok gampang dicari. Kata-kata itu nggak berlaku bagiku. Ya, ampun! Mama pikir aku secantik apa? Apa dia nggak bisa nerima kenyataan kalo anaknya cuma punya tampang pas-pasan? Ada satu cowok nyangkut aja udah amazing banget! Apalagi kali ini cowok KEREN!
Mama nggak ngerti. Tentu aja Mama nggak akan ngerti. Gimana rasanya jadi aku di tengah para model di sekolahku. Gimana rasanya punya wajah pas-pasan kayak aku yang gak ada miripnya sama artis-artis yang tengah naik daun akhir-akhir ini.
Aku mendesah putus asa. Mungkin memang tak ada lagi jodoh yang tersisa untukku.
ooOoo
Gimana sih rasanya cinta?
“Kayak ada di awang-awang… Hm…” itu kata Bejo, cowok klub sastra kelas sebelah.
“Hitam. 500 cc. Empat tak.” Ini komentar Dicky, cowok gothic yang terkenal sama bengkel motornya.
“Indah. Bagaikan oase di tengah padang pasir.”
Nah! Kalo ini katanya Sigit, cowok sok puitis yang sering tebar pesona ke kelas orang.
“Rasa sop kecoa.”
Ah, ini mah celetukannya Aris Si Mun yang kayaknya emang udah ngerasain berbagai macam makanan, dan konon punya resep rahasia biar tetep kurus meski makan mulu.
“Hm…. Ng…. Aaa… Hhhh… apa yak pertanyaannya?” Dani yang suer banget lemotnya ngalahin Oneng itu, gayanya sambil miringin kepalanya.
“Eee, apa penting ya?” Dedi yang dingin sedingin kutub utara, malahan balik nanya dan melengos, nerusin bengongnya yang tertunda.
Cowok-cowok dalam rubrik Cute Boys on Talk yang baru kuwawancarai ini, boleh ngaku kalo mereka ganteng… tapi mereka semua PAYAH karena udah mengungkapkan sesuatu yang salah!
Karena besoknya, seperti yang sudah diramalkan oleh majalah Times, Gadis, Aneka, Cemerlang, eeh, yang terakhir ini udah mendiang ya? Pendeknya, berbagai media massa lainnya, Lando langsung nyuekin aku.
See? Inilah cinta. Kau bisa berlari mengejarnya, tapi begitu terjatuh sekali… bye-bye!
Aku tertunduk lesu di seberang jalan sepulang sekolah. Lando baru aja lewat dengan cewek baru di boncengannya. Hampir aja aku mengejar motornya dan ngelakuin hal gila, jambak cewek itu, misalnya. Untung aku inget, kalo sekarang lagi nungguin sobatku.
“Hei, bengong aza, ah!” seru Nesa sambil ngegandeng tangan Dani. Yeah… salah satu cowok beken di sekolah itu loh. Cowok lemot yang kalo dipikir-pikir bener-bener ngegemesin.
“Neca Cay, emang kita gak jadi nonton DVD di rumah gw ya? Kok nyapa dia sih?” tanya Dani cemberut.
Nesa mencubit pipi cowok itu sebelum menepuknya. Aduuuh! Lagi ujian semesteran gini masih aja pacaran! Lagian apa ka si lemot tadi, Neca Cay? Fheeew, segitunya dicadel-cadelin?
“Gini, Pim… gw sama Dani mau nonton di…”
“Okey. Gapapa. Gw bisa pulang sendiri,” potongku dengan senyum dipaksa. Dan terus tersenyum gitu sampe Nesa pergi.
Aku melototin Dani kesel. Cowok lemot nyebelin! Gimana bisa cowok lemot kayak gitu jadian sama Nesa yang berkawat gigi, berkulit putih dan penuh daya tarik mempesona?! Eeee, tapi meskipun gitu-gitu juga, Dani sayang banget sama Nesa. Apapun yang ntu cewek mau, pasti dikasih. Dan selalu cemburu kalo ada cowok yang deket-deket Nesa.
Gimana ya rasanya dicemburuin? Aku pengen jadi Nesa. Pasti rasanya indah banget disayang sama orang sampe segitunya. Khayalku berhenti waktu aku sadar sesuatu yang aneh. Aku iri. Ya, ampun! Ini malu-maluin! Aku iri sama pasangan aneh itu? Gilaaa meeen!
Kurasa aku harus ke psikiater. Setelah menyia-nyiakan Lando, sekarang aku iri sama Nesa dan Dani. Selanjutnya apa? Berubah cita-cita jadi Sailormoon? Rasa-rasanya aku harus pasrah deh dengan masalah nggak-akan-punya-cowok ini.
Sambil ngehela napas capek (aku bener-bener capek sama hubungan cewek-cowok!) aku menaiki angkot. Cuma beberapa meter sebenarnya, tapi lagi males jalan kaki dengan otak bete.
“Stooop, pinggiiir!” teriakku selang sesaat.
Waktu mau nyari uang di tas, tanganku menemukan sehelai kertas bertuliskan…
Maaf. Rasanya kita nggak akan bisa jadian deh. Bukan karena bokap-nyokap loe, tapi karena kita nggak klop aja.
Lando.
Aku mendengus cuek. Meski otakku terus memikirkannya. Ah, ya! Tentu aja… betapa egoisnya aku menyalahkan Mama-Papa padahal cowok-cowok itu nggak mau karena masalahnya ada pada diriku sendiri.
Gw gak peduli! Jeritku dalam hati walau mataku berlinang airmata. Aku mengeluarkan tanganku dari jendela dengan marah untuk membuang kertas itu jauh-jauh. Tapi…
Cekiiit! Tiiin, tiiin!
JEDUG! BRAK! PRETTTT (eh, yang terakhir gak)
Ups? Sebuah motor GP 500 tergeletak dengan pengendaranya. Karena aku! Tepatnya karena mo ngehindar tanganku yang ngulur cuek dari jendela angkot buat ngebuang kertas dari Lando jauh-jauh?
“Maaf! Maaf!” Aku loncat dari angkot ngeburu korban gara-gara diriku dengan terlebih dulu aku nginjek kaki penumpang di sebelah pintu, jatuh dan mendarat di samping angkot dengan sukses karena gak ngeliat kalo pintu angkot tuh pendek yah! Aduh! Motornya keren banget! Aku teringat sama obrolan Dani, motor kayak gini harganya bisa dua-tiga ratus juta. Aduh! Mati deh! Semoga motornya nggak rusak!
Tapi perhatianku ke motor GP itu langsung tersita begitu ngeliat tetesan darah dari sudut-sudut mulut cowok itu. Aw! Aku meringis begitu ngeliat lukanya.
Berbaret!
Aku ngelirik kerikil-kerikil tajam yang ada di bawahku… ya ampun! Pasti sakit banget!
“Panas. Pipi gw panas.” Gumam cowok itu tenang meskipun wajahnya yang imut sekarang udah belepotan darah. Buru-buru aku lari ke warung terdekat dan kembali lagi dengan sebotol air es dan seember air, siapa tau aja tuh cowok mau nyuci-nyuci lukanya sebelum ngompres pake air es yang kubawa.
Tanpa babibu dan pikir panjang, aku coba bantu dia buat bersihin lukanya. Perasaanku ngeri banget ngeliat apa yang baru aja kulakukan. Beberapa saat aku menunggu cacian keluar dari mulut cowok itu. Hmm, Tapi sebelumnya tampangnya cakep banget. Lebih cakep dari Lando bahkan siapapun deh. Tapi itu dulu. Sebelum ketemu aku yang membuat mukanya penuh baret.
Aku cuma bisa berdoa semoga luka itu nggak berbekas.
“Dingin.” Komentar cowok itu lama. “Nama loe siapa?” cowok itu mengamati seragam batik sekolahku yang kudu dipakai tiap jumat dan kami menamakannya sebagai hari Batik Nasional alias Batik Day!
“Pim…pima! Jawabku sambil tergagap karena kagum akan ketampanannya.
“ Maaf ya, maaf!” ulangku gugup sekali.
“Biasa aja kenapa sih? Lagian ini salah gw juga kok. Nggak pake helm. Pima… hm… kelas berapa?” pertanyaannya bikin aku deg-degan.
Prasangka demi prasangka mulai bermunculan. Ah, masa sih cakep-cakep gini mau ngaduin gw ke sekolah? Tapi… bisa aja! Dia kan cakep, pasti dia ngerasa dirugiin sama luka ini!
“Se-sepuluh enam,” desisku kaku.
Cowok itu ketawa dan langsung berhenti sedetik kemudian. Kayaknya dia kesakitan! Aku buru-buru menghampirinya, kepingin mencermati kondisinya dari jarak lebih dekat. Tapi… uuups! Aku tersandung kaki sendiri, maka tak pelak lagi seember air es yang tadi kubawa tumpah…. tepat di kepala cowok itu.
“Maaf! Maaf! Maaf!” kataku berulang-ulang. Tapi cowok itu cuma memamerkan senyumnya yang super manis.
“Cewek unik.” Gumamnya sambil mengusap matanya yang masih sembab pake saputangan.
“Kenapa nangis?” tanyaku keheranan
“Gw bener-bener heran sama orang yang bikin gue nangis… cewek itu kan diciptakan dari tulang rusuk cowok. Bukan dari tulang kaki sebagai bawahan atau pembantu. Bukan juga dari kepala, sebagai atasan kaum cowok. Tapi dari tulang rusuk. Dekat dengan lengan untuk dilindungi. Dekat dengan hati untuk dicintai…”
Kata-katanya indah. Membuatku hampir simpati… kalo aja aku nggak inget kalo hari ini hari jumat, so aku harus pergi les berkuda.
“Ah! Gw mau les dulu! Maaf ya? Dah!” aku melambaikan tangan sambil menjauh.
“Nama gw Aditya.”
“Ha? So wooot gitu loooh?”
Tapi cowok itu cuma nyengir kuda sekilas, ngasih liat gigi depannya yang berjejer rapi.
“Biar loe bisa nyebut nama gw di mimpi.”
Cowok gila!
ooOoo
Ujian smester udah lewat… yang paling nyedihin, liburannya pun udah lewat. Segerombolan anak kelas sepuluh ngumpul di depan kelasku.
“Ada apa?” tanyaku ke arah Nesa yang bertampang kuyu.
Hehehe… tau gak, dia udah putus lho sama Dani. Aku tau, kejam banget berbahagia di atas penderitaan orang. Tapi, asyik kan? Jomblo rame-rame! Anggota Ijo Lumut ato Ikatan Jomblo Lucu dan Imut-imut nambah satu lagi!
“Loe sih pim… kemaren kesiangan sampe nggak dibolehin masuk… jadi nggak tau kan ada anak baru lagi di kelas kita.”
“Namanya siapa?” tanyaku penasaran.
“Dia nggak mau nyebutin nama. Tiap ditanya, selalu ngehindar. Abis cewek-cewek kelas kita gak bisa nganggur sih kalo liat cowok cakep. Apalagi kelas kita kan nggak ada perkenalannya. Mana kemaren cuma upacara doang, jadi kita nggak tau namanya di daftar absen…”
“Tuh, dia tau nama gw!” Sosok ganteng dan imut mendadak muncul di depan hidungku, langsung menuding ke arahku. Dan gak kupungkiri, cowok ganteng itu adalah Aditya yang tempo hari lalu kecelakaan gara-gara gue!
Aneh, mendadak juga semua orang, termasuk Nesa pamit mundur dari hadapanku. Cuma ada dia. Oh, my God! Apa mungkin dia ke sini untuk balas dendam? Apa dia sejahat itu? Tapi di komik-komik kan sering muncul yang kayak gitu!
“Maaf! Maaf! Maaf!” seruku menyesal waktu Adit mendekat.
Mau meninjuku? Menyilet-nyilet mukaku? Aduuuh, jangan dong! Nggak disilet pun tampangku udah nggak laku…
“Ngucapin sesuatu tuh sekali aja! Bakal lebih terasa feeling-nya.”
Dia ngedeketin mulutnya ke mukaku seperti mo ngebisikkin sesuatu di telingaku. Watchaaau, ini gilaaa meeen! Mendingan buru-buru cabut.
“Ap…apa?!” tanyaku dengan sedikit ketakutan bagai di dunia lain.
“Maukah kamu menjadi bidadari yang selalu ada di setiap mimpiku?”
-Tamat-
Tunggu Aku Cinta....
“Pima!” hatiku bergetar hebat.
Gadis di hadapanku menunduk dan menganggukkan kepala. Aku terpana. Dia masih secantik dahulu. Bahkan lebih cantik!
Sejenak aku tak dapat berkata-kata. Mengawasinya dengan seksama. Sebuah pertemuan yang selalu hadir dalam lamunan-lamunanku, kini menjadi kenyataan. Letupan-letupan
bahagia membuatku seperti orang mabuk, linglung dan salah tingkah.
“Apa kabar kak Adit?”
“Aku tergugu. Sapanya masih ramah. Seramah senyum yang selalu hadir di wajahnya. Dan… pancaran wajahnya yang selalu tersipu-sipu malu itu. Ah! Pesona itulah yang tak pernah lepas dari lamunanku.
“Kok tumben kemari? Tidak kuliah?” dengan susah payah kucoba memperbaiki
sikapku. Kubuat diriku setenang mungkin. Aku tak mau kehilangan wibawa di hadapannya.
Gadis itu, Pima, menggelengkan kepala.
Ingin aku bertanya: “Apakah kedatanganmu ke tempat ini untuk melihat aku membaca
puisi? Kau tahu bahwa hari ini aku membaca puisi kan?” Tapi lidahku terasa kelu. Aku
tak sanggup bertanya penuh keyakinan seperti itu. Aku takut dianggap ge-er. Juga, hatiku
yang paling dalam memberi peringatan padaku. Aku tak boleh terlalu berharap!
Walaupun, tanpa dapat kucegah, harapan itu sendiri telah melambung tinggi. Kenyataan
bahwa Pima menemuiku di tempat ini, membuatku berpikiran bahwa Pima memang memiliki sebuah rasa kepadaku sejak pertemuan kami beberapa tahun silam.
Suara Ravik terdengar memanggilku. Dan, belum lagi aku menjawab Ravik telah berada
di sebelahku.
“Eh, sorry ya. Mengganggu nih. Tapi, giliranmu membaca puisi sudah tiba, Dit. Atau, aku minta pada panitia untuk merubah susunan acaranya?” Ravik bertanya sambil melirik
Pima.
Aku tahu Ravik tentu heran dengan kelakuanku yang tak seperti biasanya : Bercakap-
cakap dengan seorang gadis seperti tak menghiraukan kemunculanku dipanggung nanti. Pernahkah aku berkelakuan seperti ini di hari-hari kemarin?
“Eits! Jangan dong Vik!” aku cepat mencegah niat Ravik. Kapan lagi aku dapat mempertunjukkan kebolehanku di hadapan Pima?
“Kau mau menemani Pima kan, Vik? O ya. Kalian belum berkenalan. Ini Ravik, temanku yang sealiran di bidang puisi dan sastra. Dan ini Pima,” lalu akupun bergegas ke
belakang panggung, mempersiapkan diri untuk pembacaan puisi, tanpa menunggu
jawaban Ravik maupun Pima. Walaupun sempat kulihat, kekagetan di wajah Ravik. Ya. Ya. Ravik memang pernah kuceritakan tentang Pima.
Pikiranku terbang pada kejadian setahun yang lalu. Pada pertemuan pertamaku dengan
Pima. Gadis manis yang kujumpai tanpa sengaja di dalam bis kota. Sungguh. Banyak
gadis manis yang kujumpai dalam perjalanan hidupku. Apalagi profesiku yang rangkap sebagai penulis cerpen, pembaca puisi dan wartawan majalah, memungkinkan aku bertemu dengan aneka macam gadis. Dari gadis biasa, sampai gadis yang menyandang gelar artis. Tapi, tak pernah aku merasakan getaran halus seperti yang kurasakan ketika bertemu dengan Pima.
Pima mempunyai sesuatu yang lain, entah apa, tapi sanggup membuat aku terpesona sekaligus jatuh cinta. Ya. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Hal yang selama ini kuanggap tak mungkin terjadi dalam hidupku. Karena sebenarnya, sebelum bertemu Pima, aku penganut paham cinta datang karena kebiasaan. Tapi, Pima yang kutemui di
dalam bis kota, memporak-porandakan paham itu. Aku cinta padanya. Itu fakta yang tak dapat kutolak!
Dan jika hatiku telah mengatakan cinta, maka otakku pun akan memerintah : Kejar dan tundukkan gadis itu
Oleh karena itu, ketika bisa berhenti di halte bis dan kulihat Pima turun, aku pun ikut turun. Mengikuti langkah Pima dengan gaya spionase. Hingga akhirnya, kuketahui
rumahnya!
“Selamat siang. Aku wartawan dari sebuah majalah…..,” srategi perkenalanku berjalan
lancar. Dan untuk pertama kalinya pula, aku mengucapkan syukur atas profesiku sebagai wartawan.
“Aku ingin membuat tulisan tentang suka dukanya kuliah. Kau mau membantuku kan?” Gadis itu tersenyum ramah. Ah. Hatiku makin tertikam. Aku ingin segera memilikinya!
“Boleh saja.” Sambutnya yang hangat dan penuh persahabatan itu membuatku ingin bersorak.
“Kau kuliah di…..”
“Fakultas Kedokteran.Jurusan Kesehatan Masyarakat, tepatnya”
Fui! Hatiku menciut. Calon dokter rupanya gadis ini he?! Sedangkan aku…..
“Tingkat berapa?”
“Baru tingkat satu,” gadis itu, yang mempunyai nama Pima, menjawab sambil tersenyum.
Kutatap wajahnya. Pima tersipu. Ah. Dia memang masih muda. Sangat muda bila dibandingkan dengan aku!
“Senang dengan puisi dan cerpen?” entah mengapa aku jadi ingin tahu tentang dunia yang biasa kugeluti itu.
“Hmm. Kalau cerpen senang tapi kalau puisi …., Pima menggelengkan kepala.
“Aku tak pernah bisa menikmatinya.”
“O ya? Pernah melihat orang membaca puisi?” Pima menggelengkan kepala.
“Aku…. Ah, ya, kurasa aku tak menyukai puisi. Bolehkan aku berterus terang?” Kepalaku mengangguk. Kuhargai kejujurannya. Walaupun ada sedikit penyesalan di
sudut hatiku.
“Kak Adit suka puisi?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Tentu saja,” dan aku pun bercerita tentang kegiatan-kegiatanku. Semuanya. Sehingga
ketika aku pamit untuk pulang dan merenungkan semua pembicaraan itu dirumah, baru kusadari bahwa aku lebih banyak bercerita tentang diriku, mengorek keterangan
sebanyak mungkin tentang dirinya dan… mengabaikan tujuan semula yang kuutarakan – Walaupun sebenarnya itu memang taktikku belaka.
Untungnya, Pima pun tak pernah bertanya-tanya tentang hal itu. Kedatanganku pada hari-hari berikutnya selalu disambut dengan ramah dan hangat, penuh persahabatan.
Pima benar-benar menerima kehadiranku tanpa pamrih. Tidak seperti gadis-gadis lain yang banyak mendekatiku dengan maksud agar dirinya dapat dipublikasikan. Pima
sungguh berbeda! Sehingga membuat hasratku untuk memilikinya pun semakin menggebu-gebu.
Dan ketika tekad itu semakin membulat, kuambil selembar kertas. Bukan untuk menulis kegiatan jurnalistik, bukan untuk menulis puisi, bukan juga untuk menulis cerpen. Bukan
semua itu! Tapi aku ingin membuat surat cinta. Ya, pernyataan cinta lewat surat, harus segera aku utarakan. Agar pikiranku bisa tenang, sesak dadaku bisa berkurang dan….
Agar aku bisa melihat wajah cantik itu tersenyum manis kepadaku.
Kepada
Bidadari Surga yang turun ke bumi
Dimanapun kau berada
Pima yang baik,
Untaian kata senandung pengobat rindu bagi jiwa telah terlantunkan dan menggemakan namamu. Selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap mimpi dalam tidurku. Aku berlari mengejar cintamu, atas nama cinta. Tak ingin rasanya melihat matamu tergenangi racun jingga karna terluka.
Jiwa ini telah terpenjara oleh cintamu. Lukisan alam paling indah yang pernah kulihat adalah wajahmu. Sungguh, tak pernah ku merasa begitu nyaman berada di dekat seseoramg selain berada di dekatmu, bidadari.
Ah…pesonamu selalu mengingatkanku akan pesona Cleopatra yang kan buyarkan dunia. Dan kau adalah Cleopatra untukku.
Andai saja kau ada di sini, aku kan belari menyergap bayangmu, di batas mimpi ini aku melihatmu disana. Dalam tangis..dalam tawa…Rebah manja di pelukan kebahagiaan dan kepedihan..
Saat lembut sapamu terucap dan mata lugumu menggugat, tanpa kusadari lajunya cintamu menusukku. Di pelukan cintamu, semua rasa meletup, menyatu. Seirama mengukir hari yang sepi dan detik yang ramai dalam rindu bahagia yang tak berpenghujung.
Aku percaya,mencintaimu adalah pilihan dari setiap hidup yang kuyakini. Aku selalu berharap, cintaku akan selalu sempurna kepadamu.
Abadi…dan untuk selamanya
Barangkali semua yang telah kau baca akan kau anggap hal paling gombal
yang pernah dilakukan seseorang padamu. Dan juga hal paling konyol yang pernah kulakukan kepadamu.Tapi, yang jelas, aku sudah mencoba untuk berlaku jujur pada diri sendiri dan engkau. Ya, meskipun semua ini diketik ( tapi tulisan tanganku memang buruk kok). Dan pakai kop surat majalah dimana aku bekerja (aku memang tak pernah terampil memilih kertas surat yang manis untuk soal begini, kecuali dalam cerpen-cerpenku) Aku ingin mengatakan, Aku mencintaimu.
Terserah padamu, untuk menolak atau menerima. Yang penting dan harus kau ketahui
adalah bahwa aku benar-benar mencintaimu dan ingin kau bersedia menjadi ratu yang duduk di singgasana hatiku. Balasanmu kutunggu
.
Adit
Ya. Katakan aku pengecut, karena memakai surat untuk menyatakan Cinta. Tapi, apa
boleh buat. Kenyataannya memang demikian. Aku takut tak siap mental jika harus
menghadapi kejadian yang tidak enak! Lain lagi jika aku telah yakin sepenuhnya bahwa cintaku tak akan ditolak. Itu tentu akan kuhadapi dengan face to face.
Kak Adit yang baik,
Saat awan menyentuh bibir langit biru, di setiap pagi menjelang dan senja yang datang, ku selalu menebas kemarau rindu. Dinginnya embun memuji pagi, seperti terang matahari yang menyambut pagi.
Kehadiranmu dalam hidupku, seketika menggugat bibirku untuk tersenyum. Menancapkan sebuah pesona dalam hatiku. Akan selalu kunanti senyummu dalam mimpi dan nyataku. Kan kutemui kau esok hari dalam bahagia nyata.
Jemputlah cintaku dengan apa adanya dirimu. Bahagiaku berkumandang menyambut uluran hatimu..
Manis selalu, Pima.
Aku termangu membaca balasan Pima. Ya. Ya. Pima memang manis. Dan tetap manis walau pun dia menghilang setelah membalas surat cintaku. Aku tak tahu kemana Pima pergi, hingga hari ini akhirnya aku menemuinya kembali. Sungguh bahagia yang menggebu-gebu kurasa.
“Hei, Adit! Siap? Giliranmu sekarang!” suara Aris Munhari membuyarkan lamunanku. Dengan semangat tinggi dan konsentrasi penuh, aku melangkahkan kaki ke atas panggung. Aku ingin membuat Pima, terpesona akan penampilanku. Dan sekaligus, kalau bisa jatuh cinta padaku. Bukankah setiap orang pernah melihatku membaca puisi
selalu berkomentar bahwa aku mempunyai kharisma tinggi yang memabukkan?
Dan benar dugaanku. Sambutan hangat dan tepuk tangan yang bergemuruh terdengar bersamaan dengan habisnya baris-baris puisi yang kubaca. Hatiku senang. Dadaku mengembang. Apalagi ketika Tedi menjabat tanganku erat-erat sambil berkata.
“Benar-benar memukau. Luar biasa. Pembacaan puisimu yang terbagus yang pernah ku
lihat.”
Ah. Ingin rasanya aku cepat-cepat menemui Pima. Pembacaan puisi kali ini kutujukan
padanya, sesungguhnya. Oleh karena itu, aku ingin mendengar komentarnya. Ingin sekali!
“Adit…”
“Hei Pima kau tinggalkan sendirian, Vik?” aku terperangah melihat Ravik yang sudah
berdiri dihadapanku.
Ravik menganggukkan kepala.
Aku menatap Ravik tajam. Kubayangkan Pima yang celingukan sendirian. Ingin kumarahi Ravik, tapi aku tak tega. Ravik selalu baik teramat baik malah! Bahkan, Ravik mencintaiku. Begitu pengakuannya yang pernah kudengar.
“Kasihan Pima. Aku ingin menemaninya,” hanya kata itu yang dapat kukatakan pada
Ravik.
Tapi Ravik menghalangi jalanku. Dan ketika keningku berkerut tanda tak senang dengan
perlakuannya, Ravik menyodorkan sebuah amplop sambil berkata.
“Dia telah pergi begitu kau meninggalkan dia naik ke atas panggung.”
Pima? Aku benar-benar kaget dan shock mendengar penuturan Ravik. Apalagi ketika amplop di tanganku kubuka dan tulisan yang ada di dalamnya kubaca. Untuk inikah Pima datang da menemuiku?
Kepada
Kak Adit
Setelah turun dari pentas
Setelah cinta kujaga setia, rinduku menyatu bersama degup jantung yang memberiku setitik cerah. Cerita rindu dan penantianmu kurajut dalam benang merah terindah. Hari-hariku tak lepas dari kegelisahan…
Aku tak berani menerjemahkan isi hatimu. Tanda pertanda yang kuat dan ku berkutat dengan damba dan penantianmu, membawa getar cintamu padaku.Nyata aatau semuanya senyumku, mungkin kamu yang tau jawabnya. Kemudian izinkan cintaku tuk menepi dan berlabuh dalam dermaga indah dalam alur hidupmu.
Tak beringsut aku menyapa hatimu, berharap janji cinta kita kan bersatu
Salam sayang selalu
Ratu di singgasana hatimu
Pima
Mataku berkunang-kunang. Percaya tak percaya membaca surat yang Pima berikan kepadaku. Tanpa menyianyiakan waktu lagi, ku segera bersiap menemui cintaku yang akan kuucapkan kepada Pima yang bersambut menjadi indah.
Ku akan datangi Pima. Kuucapkan janji itu di batas waktuku. Beberapa tahun yang lalu, ketika kau memberikan balasan akan surat cintaku. Ya di tempat itu pula aku akan menjemput cintamu.
“Mau kemana Dit?” tanya Ravik
Dengan senyum yang melebar di ujung bibirku, sambil tersenyum ke Ravik ku berkata,
“Akan kujemput cintaku Vik. Tunggu aku cintaaaaa……”
Gadis di hadapanku menunduk dan menganggukkan kepala. Aku terpana. Dia masih secantik dahulu. Bahkan lebih cantik!
Sejenak aku tak dapat berkata-kata. Mengawasinya dengan seksama. Sebuah pertemuan yang selalu hadir dalam lamunan-lamunanku, kini menjadi kenyataan. Letupan-letupan
bahagia membuatku seperti orang mabuk, linglung dan salah tingkah.
“Apa kabar kak Adit?”
“Aku tergugu. Sapanya masih ramah. Seramah senyum yang selalu hadir di wajahnya. Dan… pancaran wajahnya yang selalu tersipu-sipu malu itu. Ah! Pesona itulah yang tak pernah lepas dari lamunanku.
“Kok tumben kemari? Tidak kuliah?” dengan susah payah kucoba memperbaiki
sikapku. Kubuat diriku setenang mungkin. Aku tak mau kehilangan wibawa di hadapannya.
Gadis itu, Pima, menggelengkan kepala.
Ingin aku bertanya: “Apakah kedatanganmu ke tempat ini untuk melihat aku membaca
puisi? Kau tahu bahwa hari ini aku membaca puisi kan?” Tapi lidahku terasa kelu. Aku
tak sanggup bertanya penuh keyakinan seperti itu. Aku takut dianggap ge-er. Juga, hatiku
yang paling dalam memberi peringatan padaku. Aku tak boleh terlalu berharap!
Walaupun, tanpa dapat kucegah, harapan itu sendiri telah melambung tinggi. Kenyataan
bahwa Pima menemuiku di tempat ini, membuatku berpikiran bahwa Pima memang memiliki sebuah rasa kepadaku sejak pertemuan kami beberapa tahun silam.
Suara Ravik terdengar memanggilku. Dan, belum lagi aku menjawab Ravik telah berada
di sebelahku.
“Eh, sorry ya. Mengganggu nih. Tapi, giliranmu membaca puisi sudah tiba, Dit. Atau, aku minta pada panitia untuk merubah susunan acaranya?” Ravik bertanya sambil melirik
Pima.
Aku tahu Ravik tentu heran dengan kelakuanku yang tak seperti biasanya : Bercakap-
cakap dengan seorang gadis seperti tak menghiraukan kemunculanku dipanggung nanti. Pernahkah aku berkelakuan seperti ini di hari-hari kemarin?
“Eits! Jangan dong Vik!” aku cepat mencegah niat Ravik. Kapan lagi aku dapat mempertunjukkan kebolehanku di hadapan Pima?
“Kau mau menemani Pima kan, Vik? O ya. Kalian belum berkenalan. Ini Ravik, temanku yang sealiran di bidang puisi dan sastra. Dan ini Pima,” lalu akupun bergegas ke
belakang panggung, mempersiapkan diri untuk pembacaan puisi, tanpa menunggu
jawaban Ravik maupun Pima. Walaupun sempat kulihat, kekagetan di wajah Ravik. Ya. Ya. Ravik memang pernah kuceritakan tentang Pima.
Pikiranku terbang pada kejadian setahun yang lalu. Pada pertemuan pertamaku dengan
Pima. Gadis manis yang kujumpai tanpa sengaja di dalam bis kota. Sungguh. Banyak
gadis manis yang kujumpai dalam perjalanan hidupku. Apalagi profesiku yang rangkap sebagai penulis cerpen, pembaca puisi dan wartawan majalah, memungkinkan aku bertemu dengan aneka macam gadis. Dari gadis biasa, sampai gadis yang menyandang gelar artis. Tapi, tak pernah aku merasakan getaran halus seperti yang kurasakan ketika bertemu dengan Pima.
Pima mempunyai sesuatu yang lain, entah apa, tapi sanggup membuat aku terpesona sekaligus jatuh cinta. Ya. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Hal yang selama ini kuanggap tak mungkin terjadi dalam hidupku. Karena sebenarnya, sebelum bertemu Pima, aku penganut paham cinta datang karena kebiasaan. Tapi, Pima yang kutemui di
dalam bis kota, memporak-porandakan paham itu. Aku cinta padanya. Itu fakta yang tak dapat kutolak!
Dan jika hatiku telah mengatakan cinta, maka otakku pun akan memerintah : Kejar dan tundukkan gadis itu
Oleh karena itu, ketika bisa berhenti di halte bis dan kulihat Pima turun, aku pun ikut turun. Mengikuti langkah Pima dengan gaya spionase. Hingga akhirnya, kuketahui
rumahnya!
“Selamat siang. Aku wartawan dari sebuah majalah…..,” srategi perkenalanku berjalan
lancar. Dan untuk pertama kalinya pula, aku mengucapkan syukur atas profesiku sebagai wartawan.
“Aku ingin membuat tulisan tentang suka dukanya kuliah. Kau mau membantuku kan?” Gadis itu tersenyum ramah. Ah. Hatiku makin tertikam. Aku ingin segera memilikinya!
“Boleh saja.” Sambutnya yang hangat dan penuh persahabatan itu membuatku ingin bersorak.
“Kau kuliah di…..”
“Fakultas Kedokteran.Jurusan Kesehatan Masyarakat, tepatnya”
Fui! Hatiku menciut. Calon dokter rupanya gadis ini he?! Sedangkan aku…..
“Tingkat berapa?”
“Baru tingkat satu,” gadis itu, yang mempunyai nama Pima, menjawab sambil tersenyum.
Kutatap wajahnya. Pima tersipu. Ah. Dia memang masih muda. Sangat muda bila dibandingkan dengan aku!
“Senang dengan puisi dan cerpen?” entah mengapa aku jadi ingin tahu tentang dunia yang biasa kugeluti itu.
“Hmm. Kalau cerpen senang tapi kalau puisi …., Pima menggelengkan kepala.
“Aku tak pernah bisa menikmatinya.”
“O ya? Pernah melihat orang membaca puisi?” Pima menggelengkan kepala.
“Aku…. Ah, ya, kurasa aku tak menyukai puisi. Bolehkan aku berterus terang?” Kepalaku mengangguk. Kuhargai kejujurannya. Walaupun ada sedikit penyesalan di
sudut hatiku.
“Kak Adit suka puisi?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Tentu saja,” dan aku pun bercerita tentang kegiatan-kegiatanku. Semuanya. Sehingga
ketika aku pamit untuk pulang dan merenungkan semua pembicaraan itu dirumah, baru kusadari bahwa aku lebih banyak bercerita tentang diriku, mengorek keterangan
sebanyak mungkin tentang dirinya dan… mengabaikan tujuan semula yang kuutarakan – Walaupun sebenarnya itu memang taktikku belaka.
Untungnya, Pima pun tak pernah bertanya-tanya tentang hal itu. Kedatanganku pada hari-hari berikutnya selalu disambut dengan ramah dan hangat, penuh persahabatan.
Pima benar-benar menerima kehadiranku tanpa pamrih. Tidak seperti gadis-gadis lain yang banyak mendekatiku dengan maksud agar dirinya dapat dipublikasikan. Pima
sungguh berbeda! Sehingga membuat hasratku untuk memilikinya pun semakin menggebu-gebu.
Dan ketika tekad itu semakin membulat, kuambil selembar kertas. Bukan untuk menulis kegiatan jurnalistik, bukan untuk menulis puisi, bukan juga untuk menulis cerpen. Bukan
semua itu! Tapi aku ingin membuat surat cinta. Ya, pernyataan cinta lewat surat, harus segera aku utarakan. Agar pikiranku bisa tenang, sesak dadaku bisa berkurang dan….
Agar aku bisa melihat wajah cantik itu tersenyum manis kepadaku.
Kepada
Bidadari Surga yang turun ke bumi
Dimanapun kau berada
Pima yang baik,
Untaian kata senandung pengobat rindu bagi jiwa telah terlantunkan dan menggemakan namamu. Selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap mimpi dalam tidurku. Aku berlari mengejar cintamu, atas nama cinta. Tak ingin rasanya melihat matamu tergenangi racun jingga karna terluka.
Jiwa ini telah terpenjara oleh cintamu. Lukisan alam paling indah yang pernah kulihat adalah wajahmu. Sungguh, tak pernah ku merasa begitu nyaman berada di dekat seseoramg selain berada di dekatmu, bidadari.
Ah…pesonamu selalu mengingatkanku akan pesona Cleopatra yang kan buyarkan dunia. Dan kau adalah Cleopatra untukku.
Andai saja kau ada di sini, aku kan belari menyergap bayangmu, di batas mimpi ini aku melihatmu disana. Dalam tangis..dalam tawa…Rebah manja di pelukan kebahagiaan dan kepedihan..
Saat lembut sapamu terucap dan mata lugumu menggugat, tanpa kusadari lajunya cintamu menusukku. Di pelukan cintamu, semua rasa meletup, menyatu. Seirama mengukir hari yang sepi dan detik yang ramai dalam rindu bahagia yang tak berpenghujung.
Aku percaya,mencintaimu adalah pilihan dari setiap hidup yang kuyakini. Aku selalu berharap, cintaku akan selalu sempurna kepadamu.
Abadi…dan untuk selamanya
Barangkali semua yang telah kau baca akan kau anggap hal paling gombal
yang pernah dilakukan seseorang padamu. Dan juga hal paling konyol yang pernah kulakukan kepadamu.Tapi, yang jelas, aku sudah mencoba untuk berlaku jujur pada diri sendiri dan engkau. Ya, meskipun semua ini diketik ( tapi tulisan tanganku memang buruk kok). Dan pakai kop surat majalah dimana aku bekerja (aku memang tak pernah terampil memilih kertas surat yang manis untuk soal begini, kecuali dalam cerpen-cerpenku) Aku ingin mengatakan, Aku mencintaimu.
Terserah padamu, untuk menolak atau menerima. Yang penting dan harus kau ketahui
adalah bahwa aku benar-benar mencintaimu dan ingin kau bersedia menjadi ratu yang duduk di singgasana hatiku. Balasanmu kutunggu
.
Adit
Ya. Katakan aku pengecut, karena memakai surat untuk menyatakan Cinta. Tapi, apa
boleh buat. Kenyataannya memang demikian. Aku takut tak siap mental jika harus
menghadapi kejadian yang tidak enak! Lain lagi jika aku telah yakin sepenuhnya bahwa cintaku tak akan ditolak. Itu tentu akan kuhadapi dengan face to face.
Kak Adit yang baik,
Saat awan menyentuh bibir langit biru, di setiap pagi menjelang dan senja yang datang, ku selalu menebas kemarau rindu. Dinginnya embun memuji pagi, seperti terang matahari yang menyambut pagi.
Kehadiranmu dalam hidupku, seketika menggugat bibirku untuk tersenyum. Menancapkan sebuah pesona dalam hatiku. Akan selalu kunanti senyummu dalam mimpi dan nyataku. Kan kutemui kau esok hari dalam bahagia nyata.
Jemputlah cintaku dengan apa adanya dirimu. Bahagiaku berkumandang menyambut uluran hatimu..
Manis selalu, Pima.
Aku termangu membaca balasan Pima. Ya. Ya. Pima memang manis. Dan tetap manis walau pun dia menghilang setelah membalas surat cintaku. Aku tak tahu kemana Pima pergi, hingga hari ini akhirnya aku menemuinya kembali. Sungguh bahagia yang menggebu-gebu kurasa.
“Hei, Adit! Siap? Giliranmu sekarang!” suara Aris Munhari membuyarkan lamunanku. Dengan semangat tinggi dan konsentrasi penuh, aku melangkahkan kaki ke atas panggung. Aku ingin membuat Pima, terpesona akan penampilanku. Dan sekaligus, kalau bisa jatuh cinta padaku. Bukankah setiap orang pernah melihatku membaca puisi
selalu berkomentar bahwa aku mempunyai kharisma tinggi yang memabukkan?
Dan benar dugaanku. Sambutan hangat dan tepuk tangan yang bergemuruh terdengar bersamaan dengan habisnya baris-baris puisi yang kubaca. Hatiku senang. Dadaku mengembang. Apalagi ketika Tedi menjabat tanganku erat-erat sambil berkata.
“Benar-benar memukau. Luar biasa. Pembacaan puisimu yang terbagus yang pernah ku
lihat.”
Ah. Ingin rasanya aku cepat-cepat menemui Pima. Pembacaan puisi kali ini kutujukan
padanya, sesungguhnya. Oleh karena itu, aku ingin mendengar komentarnya. Ingin sekali!
“Adit…”
“Hei Pima kau tinggalkan sendirian, Vik?” aku terperangah melihat Ravik yang sudah
berdiri dihadapanku.
Ravik menganggukkan kepala.
Aku menatap Ravik tajam. Kubayangkan Pima yang celingukan sendirian. Ingin kumarahi Ravik, tapi aku tak tega. Ravik selalu baik teramat baik malah! Bahkan, Ravik mencintaiku. Begitu pengakuannya yang pernah kudengar.
“Kasihan Pima. Aku ingin menemaninya,” hanya kata itu yang dapat kukatakan pada
Ravik.
Tapi Ravik menghalangi jalanku. Dan ketika keningku berkerut tanda tak senang dengan
perlakuannya, Ravik menyodorkan sebuah amplop sambil berkata.
“Dia telah pergi begitu kau meninggalkan dia naik ke atas panggung.”
Pima? Aku benar-benar kaget dan shock mendengar penuturan Ravik. Apalagi ketika amplop di tanganku kubuka dan tulisan yang ada di dalamnya kubaca. Untuk inikah Pima datang da menemuiku?
Kepada
Kak Adit
Setelah turun dari pentas
Setelah cinta kujaga setia, rinduku menyatu bersama degup jantung yang memberiku setitik cerah. Cerita rindu dan penantianmu kurajut dalam benang merah terindah. Hari-hariku tak lepas dari kegelisahan…
Aku tak berani menerjemahkan isi hatimu. Tanda pertanda yang kuat dan ku berkutat dengan damba dan penantianmu, membawa getar cintamu padaku.Nyata aatau semuanya senyumku, mungkin kamu yang tau jawabnya. Kemudian izinkan cintaku tuk menepi dan berlabuh dalam dermaga indah dalam alur hidupmu.
Tak beringsut aku menyapa hatimu, berharap janji cinta kita kan bersatu
Salam sayang selalu
Ratu di singgasana hatimu
Pima
Mataku berkunang-kunang. Percaya tak percaya membaca surat yang Pima berikan kepadaku. Tanpa menyianyiakan waktu lagi, ku segera bersiap menemui cintaku yang akan kuucapkan kepada Pima yang bersambut menjadi indah.
Ku akan datangi Pima. Kuucapkan janji itu di batas waktuku. Beberapa tahun yang lalu, ketika kau memberikan balasan akan surat cintaku. Ya di tempat itu pula aku akan menjemput cintamu.
“Mau kemana Dit?” tanya Ravik
Dengan senyum yang melebar di ujung bibirku, sambil tersenyum ke Ravik ku berkata,
“Akan kujemput cintaku Vik. Tunggu aku cintaaaaa……”
Pesona Cleopatra
ADIT betul-betul lelah. Kakinya terasa semakin berat. la tak kuat lagi melangkah. Apalagi, mencapai pintu-pintu yang berdiri kokoh dan menyambutnya dingin. la bahkan tak berani lagi berharap akan ada pintu yang terbuka lebar dan merangkulnya tulus.
Salahkah jika ia ingin berhenti saja dan tak seteguh harapan orang banyak?
Wajah Ayah Ibunya terpatri jelas di benaknya, semangat yang mereka alirkan. Nenek bilang nama Adit yang diberikan Ayah dan Ibu sudah dipatok jauh-jauh hari.
"Bahkan sebelum kau lahir!" Di saat-saat lemah dalam kesendirian-nya, lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu sering tertawa frustrasi. Ayah dan Ibunya sudah lama meninggal, tapi mereka masih menyisakan beban namanya.
Bagaimana ia punya ruang berlemah diri kalau embel-embel lain dari namanya adalah Iman? Aditya Nur Iman, begitu lengkapnya.
Waktu kecil, limpahan kasih dari Ayah dan Ibu membuat Adit nyaris tak merasa minder akan kekurangan fisiknya. Beranjak besar dan melihat kenyataan masalah fisik yang membekapnya, ternyata jauh lebih serius dan bukan sekadar organ yang belum berkembang, ia mulai panik. Tapi, naungan Islam, lingkungan baru kemudian mendekapnya, membuat cowok usia delapan belas tahun itu pasrah.
Tuhan pasti punya skenario besar untuknya. Pasti. Dengan kepercayaan itu, dulu ia menjalani hari-hari sekolahnya. Lelaki bertubuh tegap, dengan hidung mancung, dan mata coklat itu menjalani takdir dengan semangat. ia tampan. Cerdas pula. Kekurangan satu-satunya cuma...
"Le, jangan dipikirkan. Fokuslah pada kelebihanmu. Jangan meratapi kekurangan!"
Ibu yang bijak. Lalu, Ayah yang selalu siap dengan jempol teracung untuknya.
"Anak Ayah paling hebaaat!" Semua orang sepertinya selalu siap menghiburnya. "Optimis, Dit... optimis!"
Riza, temannya satu kampus pun tak kurang memompakan semangat dan berusaha mengalirkan kepercayaan diri setiap dilihatnya Adit termenung menatapi kekurangannya.
"Apa ada muslimah yang mau jadi istriku ya, Ri?" tanyanya gamang.
Dan, Riza dengan tawa khasnya selalu mengalirkan hawa optimis. "Kamu ada-ada aja, Dit!"
"Hey, aku serius!"
Mereka sudah di tahun kelima kuliah. Mendekati wisuda. Teman-teman sekampus sudah banyak yang menikah, bahkan ada yang di tahun-tahun awal kuliah. Wajar kalau lelaki itu mulai cemas.
"Pasti ada, Dit!"
"Dengan kaki begini?" Adit menunjuk sebelah kakinya yang mengecil dan tak imbang. Kaki itu mengharuskannya kemana-mana dengan kruk. Cacat sejak lahir kata Nenek.
"Dit, perempuan menikah denganmu karena iman, karena percaya mereka tak perlu suami dengan dua kaki untuk menuntun mereka ke surga. Perempuan seperti itu pasti ada!"
Tatapan ragu Adit dibalas tepukan di bahu, menenangkan.
"Dit, tenang. Kita punya banyak aktivitas dakwah yang ikhlas! Mereka bukan orang-orang yang fisik oriented!"
Benarkah?
************
Malam itu, Adit berdandan rapi, membuktikan kalimat yang diucapkan Riza dengan sangat optimis.
Sahabatnya yang telah menikah dua bulan lalu, memprakarsai diri untuk mencarikan calon istri untuknya.
"Seperti apa dia itu, Ri?"
Riza tampak berpikir. Beberapa detik berlalu dan ia masih kelihatan berpikir sangat keras.
"Hey...."
Teriakan Adit dijawab dengan tawa meledak Riza. Ah, dia memang teman sejati.
"Orang manis, kulit kuning, pendidikannya D-3. Nggak masalah, kan?"
Adit mengedikkan bahu. la tahu banyak temannya yang mensyaratkan pendidikan harus S-l untuk calon istri. Tapi, hal itu sama sekali tak berlaku untuknya. la bahkan tak punya syarat apa-apa, kecuali bahwa perempuan itu bisa berlapang dada terhadap keadaan fisiknya.
"Dit, jangan melamun! Kita harus cepat-cepat pergi sebelum calon istrimu digaet orang. Oke?"
Dengan kendaraan Riza, mereka akhirnya sampai ke tempat calon istri. Ravik namanya, mengingatkan Adit akan sosok tegar pahlawan perempuan dari Aceh.
Ini fase perkenalan. Ta'aruf orang bilang. Fase kenal bagi dua orang yang ingin menikah.
Waktu serasa lambat, kala dua sahabat itu duduk menunggu di ruang tamu yang diterangi bohlam sepuluh watt. Ketika akhirnya Ravik muncul dan tersenyum manis sambil mengucap salam, Adit merasa dunianya bersinar.
Barangkali Riza benar, pikir Adit sambil matanya mengawasi Ravik yang bicara dengan pandangan tertunduk, perempuan shalih tak memandang fisik.
Mereka berbicara panjang lebar. Diskusi tentang macam-macam. Saat itulah, ketika Adit dengan susah payah bangkit menyambut Ravik yang tangannya penuh nampan dan toples, mata gadis itu tertumbuk pada kruk kayu di ketiak laki-laki itu. Raut manisnya yang pias tertangkap basah. Adit tak akan lupa.
Laik masa kenal dan dilihat, ia memang takberoleh jawaban malam itu. Tapi, Adit merasa lebih dari bisa menebak. Dan, dugaan lelaki itu ternyata tepat. Ravik menolaknya!
Setelah itu, pintu demi pintu yang lain menutup diri darinya. Rinda yang perawat, Nesa—sepupu istrinya Riza, Sirum eh Arum yang anak sastra Jerman, Sinta yang ketua keputrian Kalimanah, adik kelas mereka, bahkan Tysa, gadis hitam manis yang berkerudung, anak ibu kantin di kantomya. Semua menolak!
Awalnya tentu sangat menyakitkan bagi lelaki itu. Untunglah, Riza tak pernah meninggalkannya. Sahabat baiknya itu selalu mengajaknya untuk kembali berpikir positif setelah mereka mendapat respons negatif dari gadis-gadis yang didatanginya. Sikap Riza benar-benar mewakili dunia networking yang digelutinya belakangan.
"Mungkin mereka belum siap ya, Dit?" "Mungkin mereka masih mau kuliah." "Mungkin..."
Berbagai dalih yang disampaikan dan diulangi Riza, demi menjaga perasaan, akhirnya dipatahkan Adit.
"Atau, mungkin mereka tak mau punya suami pakai kruk macam aku, Ri!"
"Dit..., jangan begitu!"
"Ini kenyataan. Dan, kalau perempuan terpilih macam mereka saja yang aktif dalam dakwah, yang shalihah, yang mengejar surga katamu, tak siap bersuamikan aku, bagaimana yang lain?"
Untuk kali pertama dalam persahabatan mereka, Riza kehilangan daya menghibur sahabatnya. Ahh, apa yang salah dengan perempuan-perempuan itu? Tidakkah mereka melihat ketampanan dan keimutan Adit? Otaknya cerdas, dan memang laki-laki itu sangat cerdas. Tidakkah mereka melihat kemahiran Adit berorasi? Wawasannya yang luas. Tidakkah?
"Ri, mereka pun melihat aku cacat!"
Keletihan itu sungguh menguras batin dan energinya. Awalnya, ia masih mencoba berjalan. Meraih handle pintu-pintu yang dilewatinya. Tapi, beberapa tahun terakhir, Adit merasa apa yang dilakukannya sia-sia belaka. Maka, lelaki muda itu pun mulai mengunci hati. la menyibukkan diri dengan berbagai tugas kantor, berbagai aktivitas kemasyarakatan. la tetap pribadi yang baik. Hanya saja soal mengetuk pintu hati perempuan menjadi hal sensitif yang menyisakan goresan perih.
la bahkan sudah berpikir untuk benar-benar menyerah. Dan itu mungkin, andai saja malam itu Riza yang sudah lama hilang, tidak tiba-tiba muncul dan mengusik dengan semangat khas orang-orang multi¬level!
"Dit, ayolah. Jangan menyerah!"
Riza belum kapok juga menyemangati setelah tiga tahun mereka tidak bertemu. Dan, lelaki itu tak bisa menahan iba melihat penampilan Adit yang jauh berbeda. Dulu, sebelum keberangkatannya ke daerah untuk tugas kantor, Adit masih rapi dan klimis.
Sementara, sosok di hadapannya sekarang...
"Kenapa wajahmu jadi penuh onak dan duri begini?"
Sahabatnya tertawa. Meraih kruk dan menggeser duduknya mendekati Riza.
"Kamu aneh Dit, pake cambang dan kumis begitu. Gondrong lagi!"
Adit tak memedulikan. Tangannya meraih toples dekat meja dan membukanya untuk Riza.
"Rapi atau gondrong, apa bedanya bagiku, Ri?"
Riza menggelengkan kepala.
"Dit, jangan menyerah. Kamu tidak boleh patah semangat dong. Jangan berputus asa dari rahmat Al¬lah! Masih banyak gadis-gadis lain di luar sana!"
Adit tersenyum kecil.
"Ya, dan mereka semua menutup pintunya untukku. Sudahlah. Gimana kabar istri dan anak-anakmu?"
Obrolan mereka berlanjut ke hal-hal lain. Di luar penampilannya yang lebih kucel, Adit masih sama. Simpatik, pintar ngomong, dan cerdas.
"Seandainya aku perempuan, Dit. Pasti..."
"Seandainya kamu perempuan, wuihh, aku tak berani membayangkannya. Pasti menyeramkan!"
Riza yang diserobot, terpingkal-pingkal. "Dit, sekali ini saja. Please? Ikut aku?" Adit cepat-cepat menggeleng.
"Aku capek, Ri. Letih membayangkan orang-orang menampar pintunya depan mukaku."
Riza tidak setuju. Tangannya menunjuk ke lampu ruang tamu.
"Bayangkan Thomas Alfa Edison. Dia melakukan percobaan hingga ribuan kali, baru berhasil. Coba kalau ia menyerah dihitungan kelima ratus, misalnya?" ujarnya gigih.
"Beri kesempatan satu kali ini. Ayolah!"
Dan, tanpa menunggu jawaban Adit, Riza sudah menyiapkan segalanya. la sendiri yang memilihkan kemeja bertangan panjang untuk Adit, lalu sepatu, celana panjang untuk mengganti sarung lusuh, dan terakhir alat cukur.
"Ya. Biar rapi. Cepat, kita tak punya banyak waktu!" Satu jam kemudian, dua sahabat itu sudah berada di depan sebuah rumah megah. Seorang satpam membukakan pintu gerbang untuk mobil Riza, sebelum menutupkannya kembali.
"Anak pejabat, Ri?"
"Bukan, Dia perempuan pengusaha. Orangnya begini!" Riza mengacungkan ibu jarinya, "top habis! Pokoknya Te O Pe Be Ge Te lah Dit !"
Mereka tak menunggu lama dalam ruang tamu yang beralas karpet tebal. Seorang gadis berpakaian hijau pupus melangkah mendekati mereka, lalu tersenyum ke arah keduanya.
"Apa kabar, Riza?" "Alhamdulillah, baik, Mbak!"
Adit merasa sahabatnya mestilah sudah gila mengajaknya kemari. Gadis di depannya punya lekuk wajah yang lebih dari cantik, juga dua bola mata yang tenang, menyiratkan kecerdasan. Dengan alasan apa Riza berpikir menjodohkannya dengan gadis berwajah bidadari ini?
"Ssst..., namanya Pima. Lengkapnya Pima Primasiwi. Ia senang dipanggil Pima !"
"la lebih tua? Kamu memanggilnya mbak?"
"Psstt…bukan begitu. Itu hanya reflek. Aku merasa tak pantas memanggilnya cuma nama."
"Kenal di mana?"
"Oh," Riza menjawab dengan suara lebih pelan, "dulu pemah kupresentasi!"
‘’Waduh!’’ Begitulah kalau punya bakat MLM, pikirku.
Pima hanya tersenyum saja mendengar keributan dua sahabat tadi.
"Mbak Pima ini punya usaha sendiri di bidang..."
Dalam sekejap, Riza menyebutkan seluruh kehidupan Pima yang luar biasa, melebihi public re¬lations mana pun. Perkenalan yang membuat hati Adit kian menciut. Di matanya, Pima memiliki segalanya; kekayaan, paras yang cantik, kedudukan. Kemandirian gadis itu sungguh membuatnya rikuh. Lantas, apa yang membuat gadis sesempurna itu belum menikah?
"Bagi saya, pernikahan bukanlah sebuah penyelesaian suatu keadaan."
Setuju, timpal Adit dalam hati.
"Menikah adalah keputusan besar. Saya tidak bisa menikahi siapa pun yang hanya berlandaskan ketertarikan fisik semata karena, bagi saya, itu bisa sangat menipu."
Ya, Pima benar. Tampaknya, sejauh ini mereka memiliki pemikiran yang sama.
"Pun karena alasan kemapanan atau status sosial. Saya tidak bisa menikah hanya demi memuaskan sta¬tus sosial kalangan tertentu."
Ooo... Bibir Riza dan Adit membulat berbarengan. Menyadari itu, keduanya tersenyum malu. Untunglah Pima tak melihatnya.
"Menikah adalah kebahagiaan hati, bukan begitu, Ri?"
Riza memerlukan waktu beberapa detik, sebelum dengan sedikit gagap menjawab, "I..iYa... Sepakat, Mbak!"
*********
Setelah malam itu, Adit dan Pima menjadi lebih akrab. Mereka tak sering bertemu, lebih banyak bertukar kabar lewat e-mail, sms, atau yM. Waktu yang berlalu kian memupuk rasa kagum di hati Aditya Nur Imut eh Nur Iman akan gadis yang satu itu.
"Lamarlah. Buat keputusan besar!"
Riza menyemangati. Adit menggelengkan kepala.
"Aku masih trauma, Ri. Lha, gadis-gadis yang di bawah standarnya saja menolak, apalagi dia? Biarlah, setidaknya kami memiliki persahabatan yang unik."
"Wah, payah. Kamu tidak ingin dapat lebih apa?"
"Lebih?"
"Ya, memilikinya sebagai istri. Begitu."
"Bagaimana kalau ia menolak?"
"Maka, kalian tetap berada pada persahabatan yang sekarang. Nothing to lose, Dit! Aku yakin, dia cukup bijak untuk itu. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika ia menerima?"
"Masa?"
"Mungkin saja! Tapi, kita nggak akan pernah tahu kan?"
"Ya, kecuali mencobanya.”
Tepat!
Malam itu, dengan berlapis-lapis keberanian, mereka mendatangi rumah Pima.
Tapi, pintu gerbang terkunci rapat. Satpamnya hanya berteriak tanpa membuka pagar.
"Bu Pima ke Singapura."
"Sama siapa?"
"Saya nggak tahu, Mas!"
"Kapan pulangnya?"
Hening. Lalu, "Saya nggak tahu, Mas! Ke sini aja lagi!"
Adit merasa keberanian yang dikumpulkannya menguap. Apalagi, ketika esok dan esoknya, sms, yM atau e-mailnya tak pernah dibalas gadis cantik itu.
Tiba-tiba lelaki itu melihat pintu yang sedang coba diketuknya, kembali tertutup rapat. Deritnya menyanyikan melodi masa silam yang membuat nyeri tak hanya telinga, tapi juga jiwanya.
Delapan minggu, ia tak mendapat kabar apa pun dari Pima. Adit sempat merasa tubuhnya tak menapak. Limbung. Tapi hari ini, ia mendapat e-mail. Syukurlah, gadis itu sudah di Jakarta lagi.
"Bagus, Dit! Langsung lamar sebelum dia pergi lagi!" nasihat Riza yang membuat laki-laki itu kontan
"Apa bisa?"
"Bisa saja! Biar penasaranmu cepat tuntas. Biar penasaranku juga tuntas!"
Adit tak langsung mengiyakan. Sebaliknya, lelaki itu tepekur beberapa lama. Kejadian-kejadian ini, belum-belum sudah membuat tubuhnya tak bertenaga. Akankah menyisakan keletihan yang lain?
"Pernikahan, Dit! Pernikahan!"
"Kenapa dengan pernikahan?"
Riza tampak gemas.
"Pernikahan itu bisa menjadi bahan bakar yang melejitkan kemampuan dan potensi seseorang! Trust me!"
la hanya tersenyum tipis dan menjawab kalimat Riza dalam hati, "Dan, gagal menikah, akan jadi duri yang hidup di jantungmu dan diam-diam mencuri umurmu!"
Lelaki itu tidak tahu, apakah senyum Riza dan perkataan trust me-nya yang membuat ia menuruti permintaan sahabatnya itu untuk berkemas. Atau, setitik harapan, biarpun setitik, tetaplah sebuah harapan dan lebih dari layak untuk diperjuangkan.
"Pakai bajumu yang terbaik," ujar Riza setengah memberi perintah.
Meski enggan, Adit mengambil juga kemeja biru tua berlengan panjang dengan motif kotak-kotak.
Sebelum berangkat, Riza masih menyempatkan diri mengamati penampilan Adit dengan kruk di ketiaknya.
"Gimana?"
"Good! Ini baru sahabatku. Penuh semangat, penuh antusiasme, penuh..."
"Ri, cukup!"
Riza tertawa, kontan menghentikan ocehannya.
Sejam berikutnya, mereka sudah duduk berhadapan dengan Pima. Gadis itu kelihatan jauh lebih kurus. Wajahnya yang oval lebih tirus dari biasanya.
Menyadari rekaman yang detil dari memorinya, Adit terkejut sendiri. Gadis ini terpatri dalam ingatannya lebih dari sosok manapun yang dikenalnya!
Maka, dengan mengucap bismillah, laki-laki yang beberapa menit tadi merasa darahnya beku, seolah tubuhnya digantung terbalik, mulai bicara. la tak berani menatap paras anggun Pima sebab takut perubahan wajah gadis itu akan melemahkan semangatnya.
Entah kekuatan dari mana yang membuat ia terus bicara. Adit seolah lupa akan pintu-pintu yang tertutup. Lupa soal kakinya yang cacat. Lupa kalau ia berhadapan dengan Pima, perempuan pengusaha muda yang memiliki beribu pesona Cleopatra. Perempuan yang dalam hitungan beberapa detik kemudian, pasti merontokkan pertahanan yang belakangan ini dibangunnya, begitu ia bilang "tidak!".
Tapi, ajaib, Pima bukan seperti perempuan lain yang dengan tak sabar mengatakan tidak. Sebaliknya, gadis itu malah menangis, terisak, dan sulit dihentikan.
"Terima kasih," jawabnya sedikit terbata.
"Untuk?"
"Kesediaan melamarku, Dit."
Adit terpana. Kali pertama dalam sejarahnya, calon istri yang dilamarnya mengucapkan terima kasih.
"Tapi….."
Adit masih mengejar. la merasa kalimat Pima belum final. Seterusnya pasti ada tetapi, akan tetapi, atau mungkin namun... yang berujung dengan penolakan.
Barangkali cara gadis ini lebih halus.
Namun, di depannya, Pima menatap tak mengerti.
"Tapi?" kejar Adit lagi, membuat gadis itu tertawa. Bibirnya membentuk lengkung pelangi terbalik. Begitu indah di mata Adit yang sederhana.
"Tidak ada tapi," jawab Pima tegas, "Ya, jika niatmu melamarku bukan karena fisik!"
Adit melonjak di tempat duduknya.
"Ini bukan soal fisik, Pima."
"Terima kasih."
"Untuk apa?" ucap Adit tak mengerti.
Pima menyeka matanya yang basah dengan tisu.
"Dulu sekali, Guh, mereka menganggap aku terlalu tinggi untuk dilamar. Sekarang, seandainya mereka tahu pun, entah kaum lelaki itu akan berbondong atau berlari menghindar."
"Kenapa?"
Pima mengangkat dagunya.
"Tatap mataku, Guh. Tak apa."
Dua bola mata yang hitam, dengan lentik bulu mata, menatap kedua lelaki itu tanpa kedip. Tuhan..., bintik di mata Pima kehilangan pendar. Adit baru menyadari tatapan gadis itu yang sepenuhnya kosong. Mau tak mau ia terhenyak. Pima tak bisa melihat? Sejak kapan?
"Aku kecelakaan, Dit."
Di kursinya, Adit memejamkan matanya rapat. Dunia baru Pima, menjadi dunianya. Siapkah dia? Seumur hidup, Adit mencari orang yang bisa mengerti dan menerima dengan lapang dada akan kekurangan fisiknya. Bisakah ia melakukan hal yang sama? Tak menuntut? Namun, sudah watak manusia, tak pernah mudah menundukkan ego!
Ruangan seperti kosong. Dunia berhenti berputar. Riza menunggu. Pima menunggu. Sementara, Adit berperang dengan egonya. Tetapi mukanya yang imut tetap memancarkan pesona pangeran.
"Maafkan aku, Dit," bisik Riza, melihat kegalauan di hati sahabatnya. Bukan niatnya mencarikan istri yang buta untuk Adit. la sama sekali tak tahu.
Di sampingnya, Adit mengangguk. Rahang lelaki itu mengeras ketika menatap Pima yang menitik air mata.
"Pima," suaranya kemudian terdengar serak, "aku akan menjadi matamu!"
Senyap. Riza terkejut di tempat duduknya. Pima sebaliknya, tampak mengusap air mata yang tadi mampir di pipinya, lalu….tersenyum. Senyuman terindah dari seorang wanita berparas Cleopatra yang pernah Adit lihat.
"Terima kasih, Dit."
Lalu lanjutnya, dengan bola mata yang tiba-tiba gemintang,
"Dan, maafkan aku. Tapi...kemeja kotak-kotak birumu, aku suka!"
Salahkah jika ia ingin berhenti saja dan tak seteguh harapan orang banyak?
Wajah Ayah Ibunya terpatri jelas di benaknya, semangat yang mereka alirkan. Nenek bilang nama Adit yang diberikan Ayah dan Ibu sudah dipatok jauh-jauh hari.
"Bahkan sebelum kau lahir!" Di saat-saat lemah dalam kesendirian-nya, lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu sering tertawa frustrasi. Ayah dan Ibunya sudah lama meninggal, tapi mereka masih menyisakan beban namanya.
Bagaimana ia punya ruang berlemah diri kalau embel-embel lain dari namanya adalah Iman? Aditya Nur Iman, begitu lengkapnya.
Waktu kecil, limpahan kasih dari Ayah dan Ibu membuat Adit nyaris tak merasa minder akan kekurangan fisiknya. Beranjak besar dan melihat kenyataan masalah fisik yang membekapnya, ternyata jauh lebih serius dan bukan sekadar organ yang belum berkembang, ia mulai panik. Tapi, naungan Islam, lingkungan baru kemudian mendekapnya, membuat cowok usia delapan belas tahun itu pasrah.
Tuhan pasti punya skenario besar untuknya. Pasti. Dengan kepercayaan itu, dulu ia menjalani hari-hari sekolahnya. Lelaki bertubuh tegap, dengan hidung mancung, dan mata coklat itu menjalani takdir dengan semangat. ia tampan. Cerdas pula. Kekurangan satu-satunya cuma...
"Le, jangan dipikirkan. Fokuslah pada kelebihanmu. Jangan meratapi kekurangan!"
Ibu yang bijak. Lalu, Ayah yang selalu siap dengan jempol teracung untuknya.
"Anak Ayah paling hebaaat!" Semua orang sepertinya selalu siap menghiburnya. "Optimis, Dit... optimis!"
Riza, temannya satu kampus pun tak kurang memompakan semangat dan berusaha mengalirkan kepercayaan diri setiap dilihatnya Adit termenung menatapi kekurangannya.
"Apa ada muslimah yang mau jadi istriku ya, Ri?" tanyanya gamang.
Dan, Riza dengan tawa khasnya selalu mengalirkan hawa optimis. "Kamu ada-ada aja, Dit!"
"Hey, aku serius!"
Mereka sudah di tahun kelima kuliah. Mendekati wisuda. Teman-teman sekampus sudah banyak yang menikah, bahkan ada yang di tahun-tahun awal kuliah. Wajar kalau lelaki itu mulai cemas.
"Pasti ada, Dit!"
"Dengan kaki begini?" Adit menunjuk sebelah kakinya yang mengecil dan tak imbang. Kaki itu mengharuskannya kemana-mana dengan kruk. Cacat sejak lahir kata Nenek.
"Dit, perempuan menikah denganmu karena iman, karena percaya mereka tak perlu suami dengan dua kaki untuk menuntun mereka ke surga. Perempuan seperti itu pasti ada!"
Tatapan ragu Adit dibalas tepukan di bahu, menenangkan.
"Dit, tenang. Kita punya banyak aktivitas dakwah yang ikhlas! Mereka bukan orang-orang yang fisik oriented!"
Benarkah?
************
Malam itu, Adit berdandan rapi, membuktikan kalimat yang diucapkan Riza dengan sangat optimis.
Sahabatnya yang telah menikah dua bulan lalu, memprakarsai diri untuk mencarikan calon istri untuknya.
"Seperti apa dia itu, Ri?"
Riza tampak berpikir. Beberapa detik berlalu dan ia masih kelihatan berpikir sangat keras.
"Hey...."
Teriakan Adit dijawab dengan tawa meledak Riza. Ah, dia memang teman sejati.
"Orang manis, kulit kuning, pendidikannya D-3. Nggak masalah, kan?"
Adit mengedikkan bahu. la tahu banyak temannya yang mensyaratkan pendidikan harus S-l untuk calon istri. Tapi, hal itu sama sekali tak berlaku untuknya. la bahkan tak punya syarat apa-apa, kecuali bahwa perempuan itu bisa berlapang dada terhadap keadaan fisiknya.
"Dit, jangan melamun! Kita harus cepat-cepat pergi sebelum calon istrimu digaet orang. Oke?"
Dengan kendaraan Riza, mereka akhirnya sampai ke tempat calon istri. Ravik namanya, mengingatkan Adit akan sosok tegar pahlawan perempuan dari Aceh.
Ini fase perkenalan. Ta'aruf orang bilang. Fase kenal bagi dua orang yang ingin menikah.
Waktu serasa lambat, kala dua sahabat itu duduk menunggu di ruang tamu yang diterangi bohlam sepuluh watt. Ketika akhirnya Ravik muncul dan tersenyum manis sambil mengucap salam, Adit merasa dunianya bersinar.
Barangkali Riza benar, pikir Adit sambil matanya mengawasi Ravik yang bicara dengan pandangan tertunduk, perempuan shalih tak memandang fisik.
Mereka berbicara panjang lebar. Diskusi tentang macam-macam. Saat itulah, ketika Adit dengan susah payah bangkit menyambut Ravik yang tangannya penuh nampan dan toples, mata gadis itu tertumbuk pada kruk kayu di ketiak laki-laki itu. Raut manisnya yang pias tertangkap basah. Adit tak akan lupa.
Laik masa kenal dan dilihat, ia memang takberoleh jawaban malam itu. Tapi, Adit merasa lebih dari bisa menebak. Dan, dugaan lelaki itu ternyata tepat. Ravik menolaknya!
Setelah itu, pintu demi pintu yang lain menutup diri darinya. Rinda yang perawat, Nesa—sepupu istrinya Riza, Sirum eh Arum yang anak sastra Jerman, Sinta yang ketua keputrian Kalimanah, adik kelas mereka, bahkan Tysa, gadis hitam manis yang berkerudung, anak ibu kantin di kantomya. Semua menolak!
Awalnya tentu sangat menyakitkan bagi lelaki itu. Untunglah, Riza tak pernah meninggalkannya. Sahabat baiknya itu selalu mengajaknya untuk kembali berpikir positif setelah mereka mendapat respons negatif dari gadis-gadis yang didatanginya. Sikap Riza benar-benar mewakili dunia networking yang digelutinya belakangan.
"Mungkin mereka belum siap ya, Dit?" "Mungkin mereka masih mau kuliah." "Mungkin..."
Berbagai dalih yang disampaikan dan diulangi Riza, demi menjaga perasaan, akhirnya dipatahkan Adit.
"Atau, mungkin mereka tak mau punya suami pakai kruk macam aku, Ri!"
"Dit..., jangan begitu!"
"Ini kenyataan. Dan, kalau perempuan terpilih macam mereka saja yang aktif dalam dakwah, yang shalihah, yang mengejar surga katamu, tak siap bersuamikan aku, bagaimana yang lain?"
Untuk kali pertama dalam persahabatan mereka, Riza kehilangan daya menghibur sahabatnya. Ahh, apa yang salah dengan perempuan-perempuan itu? Tidakkah mereka melihat ketampanan dan keimutan Adit? Otaknya cerdas, dan memang laki-laki itu sangat cerdas. Tidakkah mereka melihat kemahiran Adit berorasi? Wawasannya yang luas. Tidakkah?
"Ri, mereka pun melihat aku cacat!"
Keletihan itu sungguh menguras batin dan energinya. Awalnya, ia masih mencoba berjalan. Meraih handle pintu-pintu yang dilewatinya. Tapi, beberapa tahun terakhir, Adit merasa apa yang dilakukannya sia-sia belaka. Maka, lelaki muda itu pun mulai mengunci hati. la menyibukkan diri dengan berbagai tugas kantor, berbagai aktivitas kemasyarakatan. la tetap pribadi yang baik. Hanya saja soal mengetuk pintu hati perempuan menjadi hal sensitif yang menyisakan goresan perih.
la bahkan sudah berpikir untuk benar-benar menyerah. Dan itu mungkin, andai saja malam itu Riza yang sudah lama hilang, tidak tiba-tiba muncul dan mengusik dengan semangat khas orang-orang multi¬level!
"Dit, ayolah. Jangan menyerah!"
Riza belum kapok juga menyemangati setelah tiga tahun mereka tidak bertemu. Dan, lelaki itu tak bisa menahan iba melihat penampilan Adit yang jauh berbeda. Dulu, sebelum keberangkatannya ke daerah untuk tugas kantor, Adit masih rapi dan klimis.
Sementara, sosok di hadapannya sekarang...
"Kenapa wajahmu jadi penuh onak dan duri begini?"
Sahabatnya tertawa. Meraih kruk dan menggeser duduknya mendekati Riza.
"Kamu aneh Dit, pake cambang dan kumis begitu. Gondrong lagi!"
Adit tak memedulikan. Tangannya meraih toples dekat meja dan membukanya untuk Riza.
"Rapi atau gondrong, apa bedanya bagiku, Ri?"
Riza menggelengkan kepala.
"Dit, jangan menyerah. Kamu tidak boleh patah semangat dong. Jangan berputus asa dari rahmat Al¬lah! Masih banyak gadis-gadis lain di luar sana!"
Adit tersenyum kecil.
"Ya, dan mereka semua menutup pintunya untukku. Sudahlah. Gimana kabar istri dan anak-anakmu?"
Obrolan mereka berlanjut ke hal-hal lain. Di luar penampilannya yang lebih kucel, Adit masih sama. Simpatik, pintar ngomong, dan cerdas.
"Seandainya aku perempuan, Dit. Pasti..."
"Seandainya kamu perempuan, wuihh, aku tak berani membayangkannya. Pasti menyeramkan!"
Riza yang diserobot, terpingkal-pingkal. "Dit, sekali ini saja. Please? Ikut aku?" Adit cepat-cepat menggeleng.
"Aku capek, Ri. Letih membayangkan orang-orang menampar pintunya depan mukaku."
Riza tidak setuju. Tangannya menunjuk ke lampu ruang tamu.
"Bayangkan Thomas Alfa Edison. Dia melakukan percobaan hingga ribuan kali, baru berhasil. Coba kalau ia menyerah dihitungan kelima ratus, misalnya?" ujarnya gigih.
"Beri kesempatan satu kali ini. Ayolah!"
Dan, tanpa menunggu jawaban Adit, Riza sudah menyiapkan segalanya. la sendiri yang memilihkan kemeja bertangan panjang untuk Adit, lalu sepatu, celana panjang untuk mengganti sarung lusuh, dan terakhir alat cukur.
"Ya. Biar rapi. Cepat, kita tak punya banyak waktu!" Satu jam kemudian, dua sahabat itu sudah berada di depan sebuah rumah megah. Seorang satpam membukakan pintu gerbang untuk mobil Riza, sebelum menutupkannya kembali.
"Anak pejabat, Ri?"
"Bukan, Dia perempuan pengusaha. Orangnya begini!" Riza mengacungkan ibu jarinya, "top habis! Pokoknya Te O Pe Be Ge Te lah Dit !"
Mereka tak menunggu lama dalam ruang tamu yang beralas karpet tebal. Seorang gadis berpakaian hijau pupus melangkah mendekati mereka, lalu tersenyum ke arah keduanya.
"Apa kabar, Riza?" "Alhamdulillah, baik, Mbak!"
Adit merasa sahabatnya mestilah sudah gila mengajaknya kemari. Gadis di depannya punya lekuk wajah yang lebih dari cantik, juga dua bola mata yang tenang, menyiratkan kecerdasan. Dengan alasan apa Riza berpikir menjodohkannya dengan gadis berwajah bidadari ini?
"Ssst..., namanya Pima. Lengkapnya Pima Primasiwi. Ia senang dipanggil Pima !"
"la lebih tua? Kamu memanggilnya mbak?"
"Psstt…bukan begitu. Itu hanya reflek. Aku merasa tak pantas memanggilnya cuma nama."
"Kenal di mana?"
"Oh," Riza menjawab dengan suara lebih pelan, "dulu pemah kupresentasi!"
‘’Waduh!’’ Begitulah kalau punya bakat MLM, pikirku.
Pima hanya tersenyum saja mendengar keributan dua sahabat tadi.
"Mbak Pima ini punya usaha sendiri di bidang..."
Dalam sekejap, Riza menyebutkan seluruh kehidupan Pima yang luar biasa, melebihi public re¬lations mana pun. Perkenalan yang membuat hati Adit kian menciut. Di matanya, Pima memiliki segalanya; kekayaan, paras yang cantik, kedudukan. Kemandirian gadis itu sungguh membuatnya rikuh. Lantas, apa yang membuat gadis sesempurna itu belum menikah?
"Bagi saya, pernikahan bukanlah sebuah penyelesaian suatu keadaan."
Setuju, timpal Adit dalam hati.
"Menikah adalah keputusan besar. Saya tidak bisa menikahi siapa pun yang hanya berlandaskan ketertarikan fisik semata karena, bagi saya, itu bisa sangat menipu."
Ya, Pima benar. Tampaknya, sejauh ini mereka memiliki pemikiran yang sama.
"Pun karena alasan kemapanan atau status sosial. Saya tidak bisa menikah hanya demi memuaskan sta¬tus sosial kalangan tertentu."
Ooo... Bibir Riza dan Adit membulat berbarengan. Menyadari itu, keduanya tersenyum malu. Untunglah Pima tak melihatnya.
"Menikah adalah kebahagiaan hati, bukan begitu, Ri?"
Riza memerlukan waktu beberapa detik, sebelum dengan sedikit gagap menjawab, "I..iYa... Sepakat, Mbak!"
*********
Setelah malam itu, Adit dan Pima menjadi lebih akrab. Mereka tak sering bertemu, lebih banyak bertukar kabar lewat e-mail, sms, atau yM. Waktu yang berlalu kian memupuk rasa kagum di hati Aditya Nur Imut eh Nur Iman akan gadis yang satu itu.
"Lamarlah. Buat keputusan besar!"
Riza menyemangati. Adit menggelengkan kepala.
"Aku masih trauma, Ri. Lha, gadis-gadis yang di bawah standarnya saja menolak, apalagi dia? Biarlah, setidaknya kami memiliki persahabatan yang unik."
"Wah, payah. Kamu tidak ingin dapat lebih apa?"
"Lebih?"
"Ya, memilikinya sebagai istri. Begitu."
"Bagaimana kalau ia menolak?"
"Maka, kalian tetap berada pada persahabatan yang sekarang. Nothing to lose, Dit! Aku yakin, dia cukup bijak untuk itu. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika ia menerima?"
"Masa?"
"Mungkin saja! Tapi, kita nggak akan pernah tahu kan?"
"Ya, kecuali mencobanya.”
Tepat!
Malam itu, dengan berlapis-lapis keberanian, mereka mendatangi rumah Pima.
Tapi, pintu gerbang terkunci rapat. Satpamnya hanya berteriak tanpa membuka pagar.
"Bu Pima ke Singapura."
"Sama siapa?"
"Saya nggak tahu, Mas!"
"Kapan pulangnya?"
Hening. Lalu, "Saya nggak tahu, Mas! Ke sini aja lagi!"
Adit merasa keberanian yang dikumpulkannya menguap. Apalagi, ketika esok dan esoknya, sms, yM atau e-mailnya tak pernah dibalas gadis cantik itu.
Tiba-tiba lelaki itu melihat pintu yang sedang coba diketuknya, kembali tertutup rapat. Deritnya menyanyikan melodi masa silam yang membuat nyeri tak hanya telinga, tapi juga jiwanya.
Delapan minggu, ia tak mendapat kabar apa pun dari Pima. Adit sempat merasa tubuhnya tak menapak. Limbung. Tapi hari ini, ia mendapat e-mail. Syukurlah, gadis itu sudah di Jakarta lagi.
"Bagus, Dit! Langsung lamar sebelum dia pergi lagi!" nasihat Riza yang membuat laki-laki itu kontan
"Apa bisa?"
"Bisa saja! Biar penasaranmu cepat tuntas. Biar penasaranku juga tuntas!"
Adit tak langsung mengiyakan. Sebaliknya, lelaki itu tepekur beberapa lama. Kejadian-kejadian ini, belum-belum sudah membuat tubuhnya tak bertenaga. Akankah menyisakan keletihan yang lain?
"Pernikahan, Dit! Pernikahan!"
"Kenapa dengan pernikahan?"
Riza tampak gemas.
"Pernikahan itu bisa menjadi bahan bakar yang melejitkan kemampuan dan potensi seseorang! Trust me!"
la hanya tersenyum tipis dan menjawab kalimat Riza dalam hati, "Dan, gagal menikah, akan jadi duri yang hidup di jantungmu dan diam-diam mencuri umurmu!"
Lelaki itu tidak tahu, apakah senyum Riza dan perkataan trust me-nya yang membuat ia menuruti permintaan sahabatnya itu untuk berkemas. Atau, setitik harapan, biarpun setitik, tetaplah sebuah harapan dan lebih dari layak untuk diperjuangkan.
"Pakai bajumu yang terbaik," ujar Riza setengah memberi perintah.
Meski enggan, Adit mengambil juga kemeja biru tua berlengan panjang dengan motif kotak-kotak.
Sebelum berangkat, Riza masih menyempatkan diri mengamati penampilan Adit dengan kruk di ketiaknya.
"Gimana?"
"Good! Ini baru sahabatku. Penuh semangat, penuh antusiasme, penuh..."
"Ri, cukup!"
Riza tertawa, kontan menghentikan ocehannya.
Sejam berikutnya, mereka sudah duduk berhadapan dengan Pima. Gadis itu kelihatan jauh lebih kurus. Wajahnya yang oval lebih tirus dari biasanya.
Menyadari rekaman yang detil dari memorinya, Adit terkejut sendiri. Gadis ini terpatri dalam ingatannya lebih dari sosok manapun yang dikenalnya!
Maka, dengan mengucap bismillah, laki-laki yang beberapa menit tadi merasa darahnya beku, seolah tubuhnya digantung terbalik, mulai bicara. la tak berani menatap paras anggun Pima sebab takut perubahan wajah gadis itu akan melemahkan semangatnya.
Entah kekuatan dari mana yang membuat ia terus bicara. Adit seolah lupa akan pintu-pintu yang tertutup. Lupa soal kakinya yang cacat. Lupa kalau ia berhadapan dengan Pima, perempuan pengusaha muda yang memiliki beribu pesona Cleopatra. Perempuan yang dalam hitungan beberapa detik kemudian, pasti merontokkan pertahanan yang belakangan ini dibangunnya, begitu ia bilang "tidak!".
Tapi, ajaib, Pima bukan seperti perempuan lain yang dengan tak sabar mengatakan tidak. Sebaliknya, gadis itu malah menangis, terisak, dan sulit dihentikan.
"Terima kasih," jawabnya sedikit terbata.
"Untuk?"
"Kesediaan melamarku, Dit."
Adit terpana. Kali pertama dalam sejarahnya, calon istri yang dilamarnya mengucapkan terima kasih.
"Tapi….."
Adit masih mengejar. la merasa kalimat Pima belum final. Seterusnya pasti ada tetapi, akan tetapi, atau mungkin namun... yang berujung dengan penolakan.
Barangkali cara gadis ini lebih halus.
Namun, di depannya, Pima menatap tak mengerti.
"Tapi?" kejar Adit lagi, membuat gadis itu tertawa. Bibirnya membentuk lengkung pelangi terbalik. Begitu indah di mata Adit yang sederhana.
"Tidak ada tapi," jawab Pima tegas, "Ya, jika niatmu melamarku bukan karena fisik!"
Adit melonjak di tempat duduknya.
"Ini bukan soal fisik, Pima."
"Terima kasih."
"Untuk apa?" ucap Adit tak mengerti.
Pima menyeka matanya yang basah dengan tisu.
"Dulu sekali, Guh, mereka menganggap aku terlalu tinggi untuk dilamar. Sekarang, seandainya mereka tahu pun, entah kaum lelaki itu akan berbondong atau berlari menghindar."
"Kenapa?"
Pima mengangkat dagunya.
"Tatap mataku, Guh. Tak apa."
Dua bola mata yang hitam, dengan lentik bulu mata, menatap kedua lelaki itu tanpa kedip. Tuhan..., bintik di mata Pima kehilangan pendar. Adit baru menyadari tatapan gadis itu yang sepenuhnya kosong. Mau tak mau ia terhenyak. Pima tak bisa melihat? Sejak kapan?
"Aku kecelakaan, Dit."
Di kursinya, Adit memejamkan matanya rapat. Dunia baru Pima, menjadi dunianya. Siapkah dia? Seumur hidup, Adit mencari orang yang bisa mengerti dan menerima dengan lapang dada akan kekurangan fisiknya. Bisakah ia melakukan hal yang sama? Tak menuntut? Namun, sudah watak manusia, tak pernah mudah menundukkan ego!
Ruangan seperti kosong. Dunia berhenti berputar. Riza menunggu. Pima menunggu. Sementara, Adit berperang dengan egonya. Tetapi mukanya yang imut tetap memancarkan pesona pangeran.
"Maafkan aku, Dit," bisik Riza, melihat kegalauan di hati sahabatnya. Bukan niatnya mencarikan istri yang buta untuk Adit. la sama sekali tak tahu.
Di sampingnya, Adit mengangguk. Rahang lelaki itu mengeras ketika menatap Pima yang menitik air mata.
"Pima," suaranya kemudian terdengar serak, "aku akan menjadi matamu!"
Senyap. Riza terkejut di tempat duduknya. Pima sebaliknya, tampak mengusap air mata yang tadi mampir di pipinya, lalu….tersenyum. Senyuman terindah dari seorang wanita berparas Cleopatra yang pernah Adit lihat.
"Terima kasih, Dit."
Lalu lanjutnya, dengan bola mata yang tiba-tiba gemintang,
"Dan, maafkan aku. Tapi...kemeja kotak-kotak birumu, aku suka!"
Langganan:
Postingan (Atom)