Minggu, 19 April 2009

Buat Pima, tetep semangat yaks!

Mas Adit berubah!
Ya, sudah beberapa bulan belakangan ini Masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah !
Mas Aditya Nugroho Mangkunegoro Wudhosedoyo, masih kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja... ganteng! Mas Adit juga sudah mampu membiayai kuliahnnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.
Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang kuliahdan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku.

Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda bersama teman-teman. Mas Adit yang humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Dengan kuda putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan Kopasga. Kadang kami mampir dan makan dulu di warung angkringan, atau bergembira ria di Kolam renang bertaraf internasional, Owabong.

Tak ada yang tak menyukai Mas Adit. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya !"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih ?"

"Pim, gara-gara kamu bawa Mas Adit ke rumah, sekarang orang serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Adit lho ! Gila, berabe khan ?"

"Gimana ya Pim, agar Mas Adit suka padaku ?"

Dan masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga. ^_^

Pernah kutanyakan pada Mas Adit mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya ?

"Mas belum minat tuh ! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran..., banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati ! He...he...he.." kata Mas Adit pura-pura serius.

Dengan kata-katanya barusan, aku jadi teringat masa laluku ketika aku benar-benar dibuat kelepek-kelepek oleh seorang pria. Tetapi kemudian pria itu menghianatiku dengan mencintai wanita lain. Sedih tak berujung rasanya. Jatuh…luluh…sakit…dan takut bangun. Tapi mas Adit menyemangatiku untuk terus bangkit dan akhirnya kini ku sadar, bahwa lelaki tidak hanya dia di dunia ini.

Mas Adit dalam pandanganku adalah sosok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan sholat !

Itulah Mas Adit!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah ! Drastis ! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Adit yang kubanggakan kini entah kemana...
--=oOo=--


"Mas Adit ! Mas Aaadddddiiiitttttttt!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Adit keras-keras.

Tak ada jawaban. Padahal kata mama Mas Adit ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Adit. Tulisan berbahasa arab gundul. Tak bisa kubaca. Tapi aku bisa membaca artinya : Jangan masuk sebelum memberi salam!

"Assalaamu'alaykuuum!" seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Adit.

"Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakaatuh. Ada apa Pima? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.

"Matiin kasetnya !" kataku sewot.
"Lho emang kenapa ?"
"Pima kesel bin sebel bin judes bintitan dengerin kasetnya Mas Adit ! Memangnya kita orang Arab... , masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.
"Ini Murotal Al Qur’an. Bukan sekedar teriakan tapi kalamullah, Pima !"
"Bodo !"

"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh dong Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Adit sabar dan penuh keimutan.
"Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Pima ngambek..., mama bingung. Jadinya ya, di pasang di kamar."
"Tapi kuping Pima terganggu Mas! Lagi asyik dengerin lagu Always Be My Baby – David Cook, I am Yours – Jason Mraz, Love Song – 311, Have a nice day – Bonjovi, Shayne ward (begh…damn cool), Eminem (f**kin) ama nonton Ultraman yang baru..., eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"
"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan..."
"Pokoknya kedengaran!"
"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus,lho!"
"Ndak, pokoknya Pima nggak mau denger!" aku ngloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Adit.


Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Adit jadi begitu. Kemana kaset-kaset Scorpion, Wham!, Elton John, Queen, Waljinah, Bon Jovi, Dewa, Didi Kempot, Jamrood atau Giginya?

"Wah, ini nggak seperti itu, Pima ! Dengerin Scorpion atau si Eric Clapton itu belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lain lah ya dengan senandung nasyid Islami. Pima mau denger ? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok !" begitu kata Mas Adit.
Oalaa !
--=oOo=--

Sebenarnya perubahan Mas Adit nggak cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma ‘adik kecil’nya yang baru semester 6 di Fakultas Kesehatan Masyarakat UGM, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.
Di satu sisi kuakui Mas Adit tambah alim. Sholat tepat waktu, berjama’ah di Masjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip di lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau baca buku Islam. Dan kalau aku mampir di kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya,"Ayo dong Pima, lebih feminin. Kalau kamu pakai rok atau baju panjang, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba Dik manis, ngapain sih rambut ditrondolin gitu !"

Hah, trondol? Ini kan ikan pari…Pikirku…
Uh. Padahal dulu Mas Adit oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam praktikum saja! Mas Adit juga nggak pernah keberatan kalau aku meminjam kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu sering memanggilku Preman, bukan Prima ! Eh, sekarang pakai manggil Dik Manis segala!
Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Adit jadi aneh. Sering juga mama menegurnya.

"Penampilanmu kok sekarang lain, Dit?’
"Lain gimana, Ma ?"
"Ya, nggak semodis dulu, gak ada talang air vokalis cangcuters di rambutmu. Juga nggak dandy lagi. Biasanya kamu yang paling sibuk dengan penampilan kamu yang kayak cover boy “ Renaldy” itu..."
Mas Adit cuma senyum.
"Suka begini, Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."
Ya, dalam penglihatanku Mas Adit jadi lebih kuno dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino," komentarku menyamakannya dengan sopir kami. "Untung saja masih lebih ganteng."
Mas Adit cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Adit lebih pendiam? Itu juga sangat kurasakan. Sekarang Mas Adit nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama atau becanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Ravik, peragawati sebelah rumah, kebingungan.
Dan...yang paling gawat, Mas Adit emoh salaman sama perempuan!! Kupikir apa sih maunya Mas Adit?

"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau salaman sama Sirum, eh Arum? Dia tuh cewek paling beken di Sanggar Pima tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang !"
"Justru karena Mas menghargai dia makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada amat sabar. "Pima lihat khan orang Sunda salaman? Santun meski nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"
Huh. Nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu..., sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?
Mas Adit membawa sebuah buku dan menyorongkannya padaku. "Baca!"
Kubaca keras-keras. "Dari ‘Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah. Rasulullah saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhari Muslim!"
Si Mas tersenyum.
"Tapi Kyai Djemakin mau salaman sama mama. Haji Mungkadi, Haji Saptono, Ustadz Djunaidi...," kataku.
"Bukankah Rasulullah uswatun hasanah? Teladan terbaik?" kata Mas Adit sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya, Dik Manis !?"
Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Adit dengan mangkel. Menurutku Mas Adit terlalu fanatik ! Aku jadi khawatir. Apa dia lagi nuntut ‘ilmu putih’? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa oleh orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun..., akhirnya aku nggak berani menduga demikian. Mas-ku itu orangnya cerdas sekali! Jenius malah! Umurnya baru dua belas tahun tapi sudah tingkat delapan di STAN! Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya..., yaaa akhir-akhir ini ia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.
--=oOo=--

"Mau kemana, Pim!?"
"Nonton Ultraman sama teman-teman." Kataku sambil mengenakan sepatu. "Habis Mas Adit kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya!"
"Ikut Mas aja, yuk!"
"Kemana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah! Pima kayak orang bego di sana!"

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu yang lalu Mas Adit mengajakku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tabligh akbar di masjidnya AA Gym. Bayangin, berapa kali aku dilihatin sama cewek-cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya, aku kesana memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol “ikan pari” merah yang nggak bisa aku sembunyiin. Sebenarnya Mas Adit menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.


"Assalaamu’alaykum!" terdengar suara beberapa lelaki.

Mas Adit menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Adit dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman si Mas ini. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku..., persis kelakuannya Mas Adit.

"Lewat aja nih, Mas? Pima nggak dikenalin?" tanyaku iseng.

Dulu nggak ada deh teman Mas Adit yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Adit nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome! Walopun tetep gimanapun juga masku, Mas Adit adalah orang paling handsome dan cute diantara semua lelaki di dunia ini. (hehehe, tambahan cerpen)

Mas Adit menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt !"

Seperti biasa, aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal ke-Islaman, diskusi, belajar baca Al-Quran atau bahasa Arab..., yaaa begitu deh!!

--=oOo=--

"Subhanallah, berarti kakak kamu ikhwan dong!" seru Rinda setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah sebulan ini berjilbab rapi. Memuseumkan semua jeans dan baju-baju you can see-my ketheknya.
"Ikhwan?" ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin kampus melirik kami.
"Huss! Untuk laki-laki ikhwan, untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita," ujar Rinda sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa, kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di kampus kita ini."
Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Adit.
"Udah deh, Pim. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji! Insya Allah kamu akan tahu meyeluruh tentang dien kita. Orang-orang seperti Hendra, Isa, atau Mas Adit bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya saja yang mungkin belum mengerti dan sering salah paham."
Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Rinda, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku menjelma begitu dewasa.
"Eh, kapan main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat, Pima..., meski kita kini punya pandangan yang berbeda," ujar Rinda tiba-tiba.
"Rin, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Adit...," kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih..." kemudian Pima nangis dengan air mata yang menetes diiringi iler yang menetes.
Rinda menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin. "Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk. Biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan pada Mbak Nesa."
"Mbak Nesa ?"
"Sepupuku yang anaknya Kepala Satpol PP kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amrik malah pakai jilbab! Itulah hidayah!"
"Hidayah ?"
"Nginap, ya! Kita ngobrol sampai malam sama Mbak Nesa!"
--=oOo=--

"Assalaamu’alaykum, Mas Ikhwan..., eh Mas Adit !" tegurku ramah.
"Eh adik Mas Adit! Dari mana aja? Bubar kuliahbukannya langsung pulang!" kata Mas Adit pura-pura marah, usai menjawab salamku.
"Dari rumah Rinda, teman kampus," jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?" tanyaku sambil mengintari kamarnya. Kuamati beberapa Kitab berbahasa Arab, Kitab-kitab yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Lalu dua rak koleksi buku ke-Islaman..
"Cuman lagi baca !"
"Buku apa ?"
"Tumben kamu pengin tahu?"
"Tunjukin dong, Mas...buku apa sih?" desakku.
"Eit..., Eiiit !" Mas Adit berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya, dia tertawa dan menyerah. "Nih!" serunya memperlihatkan buku yang sedang dibacanya dengan wajah setengah memerah.
"Nah yaaaa!" aku tertawa. Mas Adit juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku ‘Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam’ itu..
"Maaaas..."
"Apa Dik manis?"
"Pima akhwat bukan sih?"
"Memangnya kenapa ?"
"Pima akhwat apa bukan ? Ayo jawab...," tanyaku manja.

Mas Adit tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara kepadaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami ummatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu jadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal lainnya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa kembali menemukan Mas Aditku yang dulu.
Mas Adit dengan semangat terus berbicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikkan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya!!

"Mas kok nangis?"
"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena ummat yang banyak meninggalkan Al-Quran dan Sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di Belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan, dan tidur beratap langit..."
Sesaat kami terdiam. Ah, Masku yang Adit dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli...
"Kok...tumben Pima mau dengerin Mas ngomong?" tanya Mas Adit tiba-tiba.
"Pima capek marahan sama Mas Adit !" Ujarku sekenanya.
“Kita baikan ya mas…Mana jari kelingkingnya? Biar kita tautkan, yang artinya udah baikan.”
"Emangnya Pima ngerti yang Mas katakan?"
"Tenang aja, Pima nyambung kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Nesa juga pernah menerangkan hal demikian. Aku ngerti deh meski nggak mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani tumpukan buku-buku Islam milik Mas Adit. Kayaknya aku dapat hidayah!
--=oOo=--
Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Adit mulai dekat lagi sepeti dulu. Meski aktivitas yang kami lakukan berbeda dengan yang dahulu.
Kini tiap Minggu kami ke Masjid Agung Purbalingga atau ke masjid di kampung, mendengarkan ceramah umum. Atau ke tempat-tempat tabligh Akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Adit, kadang-kadang bila sedikit kupaksa Mama Papa juga ikut.

"Masa sekali aja nggak bisa, Pa…, tiap minggu rutin ngunjungin relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.
Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"
Pernah juga Mas Adit mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung juga. Soalnya pengantinnya nggak bersanding tapi terpisah! Tempat acaranya juga gitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu dibagikan risalah nikah juga. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Adit memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran, harus Islami dan semacamnya. Ia juga wanti-wanti agar aku tak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek!
Aku nyengir kuda.
Tampaknya Mas Adit mulai senang pergi denganku. Soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
"Nyoba pakai jilbab, Pim !" pinta Mas Adit suatu ketika.
"Lho, rambut Pima kan udah nggak trondol! Lagian belum mau deh jreng!"
Mas Adit tersenyum. "Pima lebih anggun kalau pakai jilbab dan lebih dicintai Allah. Kayak Mama".
Memang sudah beberapa hari ini mama berjilbab. Gara-garanya dinasehatin terus sama si Mas, di beliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin sama teman-teman pengajian beliau.
"Pima mau, tapi nggak sekarang...," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku kini, prospek masa depanku menjadi pelopor kesehatan masyarakat (ceila) dan semacamnya.
"Itu bukan halangan." Ujar Mas Adit seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu kok cepat sekali terpengaruh sama Mas Adit!
"Ini hidayah, Pima!" kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.
"Hidayah? Perasaan Pima duluan deh yang dapat hidayah baru Mama! Pima pakai rok aja udah hidayah!"
"Lho?" Mas Adit bengong.
--=oOo=--

Dengan penuh kebanggaan, kutatap lekat wajah Mas Adit. Gimana nggak bangga? Dalam acara Studi Tentang Islam yang diadakan STAN untuk umum ini, Mas Adit menjadi salah satu pembicaranya! Aku yang berada di antara ratusan peserta ini rasa-rasanya ingin berteriak, "Hei, itu kan Mas Adit-ku !"
Mas Adit tampil tenang dan imut. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa! Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Adit fasih mengeluarkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Rasul. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung lho, kok Mas Adit bisa sih? Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang_in atau ustadz tenar yang biasa kudengar!
Pada kesempatan itu juga Mas Adit berbicara tentang muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi.
"Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana taqwa, sebagai identitas muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam sendiri," kata Mas Adit.
Mas Adit terus bicara. Tiap katanya kucatat di hati ini.
--=oOo=--

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang kuliah, aku mampir ke rumah Rinda. Minta diajarkan memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Nesa senang dan berulang kali mengucap hamdalah.
Aku mau ngasih kejutan buat Mas Adit! Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Adit. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapan tasyakuran ultah ketujuh puluhku. (hehehe, umur bisa dikompakin)
Kubayangkan ia akan terkejut gembira, memelukku. Apalagi aku ingin Mas Adit yang memberikan ceramah pada acara tasyakuran yang insya Allah mengundang teman-teman dan anak-anak panti yatim piatu dekat rumah kami.

"Mas Ikhwan!! Mas Aaaaddddiiiitttttt! Maaasss! Assalaamu’alaykum!" kuketuk pintu kamar Mas Adit dengan riang.
"Mas Adit belum pulang," kata Mama.
"Yaaaaa, kemana sih, Ma??!" keluhku.
"Kan diundang ceramah di Purwokerto. Katanya langsung berangkat dari kampus..."
"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Masjid."
"Insya Allah nggak. Kan Mas Adit inget ada janji sama Pima hari ini," hibur mama menepis gelisahku.
Kugaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali dengan Mas Adit.
"Eh, jilbab Pima mencong-mencong tuh !" Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.
--=oOo=--

Sudah lepas Isya. Mas Adit belum pulang juga.
"Mungkin dalam perjalanan. Purwokerto kan lumayan jauh..." hibur Mama lagi.
Tetapi detik demi detik, menit demi menit berlalu. Sampai jam sepuluh malam, Mas Adit belum pulang juga.
"Nginap barangkali, Ma?" duga Papa.
Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Adit selalu bilang, Pa!"
Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Adit segera pulang dan melihatku memakainya.

"Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg !!" Telpon berdering.
Papa mengangkat telepon. "Halo, ya betul. Apa? Addddddiiiiiitttttt???"
"Ada apa , Pa?" tanya Mama cemas.
"Adit..., kecelakaan..., Rumah Sakit… Harapan…Ibu...," suara Papa lemah.
"Mas Aaaddddddiiiiitttt!!!" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Harapan Ibu. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.
--=oOo=--

Sesampainya kami di rumah sakit, kami langsung menuju kamar dan bangsal dimana mas Adit dirawat. Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Adit terbaring lemah. Tangan, kaki, kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar, sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Adit. Dua teman Mas Adit tewas seketika, sedang kondisi Mas Adit kritis.
Dokter melarang kami untuk masuk ke dalam ruangan.
"Tapi saya Pima, adiknya, Dok! Mas Adit pasti mau lihat saya pakai jilbab iniii!" kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.
Mama dengan lebih tenang merangkulku, "Sabar, Sayang..., sabar."
Di pojok ruangan papa tampak serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Adit. Wajah mereka suram.
"Suster, Mas Adit akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Adit bisa ceramah pada syukuran Pima kan?" air mataku terus mengalir.
Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding putih rumah sakit. Dan dari kamar kaca kulihat tubuh yang biasa enerjik itu bahkan tak bergerak!
"Mas Adit, sembuh ya, Mas..., Mas...Adit..., Pima udah jadi adik Mas yang manis. Mas... Adit...," bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit.. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Adit..., Pima, Mama dan Papa butuh Mas Adit..., umat juga."
Tak lama dokter Franky yang menangani Mas Adit menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama ibu, bapak, dan Pi..."
"Pima.." suaraku serak menahan tangis.
"Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya seperti permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya..., lukanya terlalu parah," perkataan terakhir dokter Franky mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!

"Mas..., ini Pima, Mas...," sapaku berbisik.
Tubuh Mas Adit bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. "Pima sudah pakai.. jilbab," lirihku. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.
Tubuh Mas Adit bergerak lagi.
"Dzikir..., Mas,’ suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat wajah Mas Adit yang separuhnya tertutup perban. Wajah itu begitu tenang...
"Pi...ma..."Kudengar suara Mas Adit! Ya Allah, pelan sekali!
"Pima di sini, Mas..."
Perlahan kelopak matamya terbuka. Aku tersenyum.
"Pima... udah pakai... jilbab...," kutahan isakku.
Memandangku lembut, Mas Adit tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdalah.
"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas...," ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah..., sesaat kulihat Mas Adit tersenyum. Tulus sekali!
Tak lama aku bisa menemui Mas Adit lagi. Dokter mengatakan Mas Adit tampaknya menginginkan kami semua berkumpul.
Kian lama kurasakan tubuh Mas Adit semakin pucat. Tapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia juga masih bisa mendengar apa yang kami katakan meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi airmata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak..., Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Adit terus hidup. Tapi sebagai insan beriman, seperti juga yang diajarkan Mas Adit, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Adit.

"Laa...ilaaha...illa...llah..., Muham...mad...Ra...sul...Al...lah...," suara Mas Adit pelan, namun tak terlalu pelan untuk kami dengar.

Mas Adit telah kembali pada Allah.

Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya.
Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi.

Selamat jalan, Mas Adit !
--=oOo=--
(Epilog)
Buat ukhti manis Rizkia Prima Siwi,
Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun Sayang,

Mas Ikhwan, eh Mas Adit !

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Adit. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku.
Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Adit telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.
Kupandangi kamar Mas Adit yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, Aku rindu suara murotal. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Adit melantunkan kalam Ilahi yang selamanya tiada kudengar lagi. Hanya wajah para Mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema di ruang ini...
Setitik air mataku jatuh lagi.

"Mas, Pima akhwat bukan sih?"
"Ya, Insya Allah akhwat!"
"Yang bener?"
"Iya, dik manis!"
"Kalau ikhwan itu harus ada jenggotnya, ya?!"
"Kok nanya gitu?"
"Lha, Mas Adit ada jenggotnya!"
"Ganteng kan?"
"Uuu! Eh, Mas, kita kudu jihad, ya? Jihad itu apa sih?"
"Ya always dong ! Jihad itu... "

Setetes, dua tetes, air mataku kian menganak sungai.
Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan.
Selamat jalan, Mas Ikhwan! Selamat jalan, Mas Adit!

Tidak ada komentar: